Tuesday, January 23, 2007

Dongeng: taman kecil









TAMAN KECIL
Oleh: Gunawan

Ada sebuah cerita tentang kehidupan dari sebuah taman kecil yang letaknya tepat dibawah kaki gunung. Di taman kecil hidup sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai macam species, diantaranya lebah, bunga, belalang, burung pipit, tupai, semut dan makhluk lainnya yang hidup disana.

Di pagi yang cerah itu, seekor lebah madu jantan berwarna kuning bergaris-garis biru terbang ke sana kemari membawa timba-timba kecil yang penuh dengan sari nektar, yaitu kelenjar yang dihasilkan bunga. Nektar ini diambil oleh para lebah untuk menjadi madu yang manis rasanya. Sejak matahari mulai menyembulkan kepalanya dan menyirami taman kecil dengan sinarnya yang hangat si lebah madu sudah sibuk bekerja keras membawa sari-sari nektar dari bunga-bunga yang ada di taman kecil. Sang lebah memang makhluk yang pekerja keras. Ia tidak peduli tangannya akan menjadi kasar. Karena ia senang melakukannya. Baginya pekerjaan itu adalah bagian dari hidupnya. Dengan mengambil sari-sari nektar yang ia kumpulkan dalam timba-timba kecilnya ia merasa bahwa ia ikut serta dalam menyeimbangkan alam di taman kecil ini. Itu sudah kewajibannya sebagai makhluk alam.

Sang lebah madu adalah makhluk yang bersahabat ia bergaul dengan siapa saja yang hidup di taman kecil itu. Ia juga senang membantu siapa saja yang kesulitan tanpa meminta imbalan. Oleh karena itu seluruh mahkluk yang ada di taman kecil itu senang bergaul dengannya. Menurut sang lebah madu, taman kecil itu adalah sebuah sistem dan seluruh makhluk dan benda yang ada di dalamnya bagiannya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka tidak bisa hidup tanpa bantuan makhluk lainnya. Mereka sangat paham dengan konsep rantai makanannya. Oleh karena itu mereka harus menjaga dan menghormati ekosistemnya.

Bagi sang lebah madu, konsep hidup dengan simbiosis mutualisme adalah cara yang baik dalam menjalani hidup ini. Karena sesama makhluk harus saling menghormati dan saling memberi keuntungan. Baginya pantang untuk memberi kerugian pada makhluk lain. Kalau saja ada yang ingin berbuat jahat dan membuat kerugian di taman kecil ini ia akan tancapkan sengatnya yang sangat tajam dan beracun ke dalam tubuh mahkluk tersebut biar ia binasa oleh racunnya. Menurutnya makhluk yang hanya mencuri keuntungan dari makhluk lain tanpa ia bekerja keras adalah pekerjaan yang memalukan dan hina. Makhluk seperti itu tidak pantas hidup di taman kecil ini. Biar ia binasa di telan bumi. Sebelum di telan ia akan di lumat oleh belatung-belatung dan di urai oleh si bakteri pemakan bangkai. Pikirnya, berarti ia juga telah memberi kebaikan pada si belatung dan bakteri yang ingin terus hidup. Ia hanya ingin segala sesuatunya berjalan dengan baik dan benar di taman kecil ini.

Pada hari itu seperti biasanya sang lebah madu sibuk bekerja mengumpulkan sari-sari madu. Ia sangat hafal dengan seluk beluk taman kecil. Seluruh pelosok taman kecil telah ia jelajahi. Saat ia sedang terbang dengan sayapnya kesana kemari mencari bunga-bunga yang ia ingin ambil sari nektarnya. Sekejap ia terpana dengan sebuah bunga betina yang elok warnanya. Bunga itu terlihat asing baginya tetapi sangat cantik. Sepanjang hidupnya Ia belum pernah melihat bunga secantik itu di taman kecilnya. “Mungkin ia pendatang baru…..,atau dia memang makhluk taman kecil ini sementara aku saja yang tidak mengenalnya. Bodohnya diriku, masak makhluk secantik ini bisa tidak terpantau olehku. Dasar lebah madu yang sok sibuk, katanya kau mengenal wajah seluruh mahkluk dengan kebiasaan hidupnya di taman kecil ini. Sedangkan bunga cantik nan elok warna kelopaknya terasa asing bagimu sendiri. Dasar kurang pergaulan!”, pikirnya. “Loh, kok jadi menggerutu seperti ini dan malah menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak aku tanya sendiri saja ya….”, pikirnya lagi.
Sang lebah madu jantan itu pun turun ke bumi mendekati bunga nan cantik. “Halo aku Gimo siapa namamu? Kau makhluk baru ya di taman ini? Kok aku tidak pernah melihatmu? Atau mungkin kau makhluk di taman ini tapi kau tidak pernah keluar rumah jadi tidak terpantau olehku yang selalu berkeliling ini?”, bertubi-tubi pertanyaan si lebah madu jantan di utarakan bagaikan petugas keamanan saja. Kepalanya sedikit ia tengadahkan ke atas. Dada dibusung-busungkan ke depan. Seakan akan ia adalah penguasa taman kecil ini.

Tetapi si bunga malah tersenyum manis. Selain ia cantik ia juga mahkluk yang baik. Ia perkenalkan namanya dan menjawab semua pertanyaan yang diberondong oleh Gimo. “Namaku Kuntum….aku memang makhluk baru di taman ini. Aku baru saja pindah dari pot bunga kecil di pekarangan rumah manusia yang memeliharaku. Mereka memindahkanku Karena pot bunganya terlalu kecil dan sempit. Aku tidak bisa bergerak dengan bebas. Kaki-kaki akarku terasa sakit setiap hari karena tubuhku semakin lama semakin membesar. Untungnya mereka sangat baik dan mengerti. Mereka memindahkanku ke taman kecil ini. sudah satu minggu aku tinggal di taman kecil ini. Tapi aku sudah mulai kerasan disini. Disini mahkluknya ramah dan baik. Aku sangat senang tinggal disini. Aku juga senang berkenalan denganmu Gimo”, jawabnya sambil tersenyum kecil.
Wajah Gimo jadi kemerah-merahan. Malu ia dibuatnya. Kuntum memang bunga yang cantik. Wajahnya dan giginya putih berseri. Matanya bulat dengan bulu mata yang tebal. Alisnya bagai koloni semut yang berbaris rapi. Kelopaknya bersih berwarna putih. Akhirnya ia beranikan diri untuk berbicara dengan kuntum. pertanyaan demi pertanyakan ia sampaikan kepada kuntum. kuntum pun menjawabnya dengan ramah pertanyaan-pertanyaan atas dirinya. Terkadang mereka tertawa atas hal konyol yang dibuat Gimo.

Tidak terasa hari sudah hampir senja. Sudah waktunya Gimo untuk pulang. Ia juga harus mengantar sari-sari madu ke toko kecil Pak Remon si kumbang tua pembuat madu dan roti. Ia pun berkata, “Kuntum sudah waktuku untuk pulang. Hari sudah hampir senja sementara sari-sari ini belum juga aku antarkan. Kalau aku ada waktu. Bolehkah aku ke tempatmu lagi?” Tanya Gimo. Si kuntum menjawabnya dengan senang, “tentu saja boleh, kamu khan teman menyenangkan yang baru aku kenal.” Ge-er si Gimo di buatnya. Setelah ia kenakan kembali sayapnya ia berkata pada kuntum, “Ya sudah aku pulang ya, sampai jumpa di lain waktu”, Gimo pun berpamitan dan terbang dengan melambangkan tangannya. Hari pun berganti, dalam lipatan waktu Gimo dan kuntum telat menjadi sahabat yang akrab. Para penduduk di taman kecil itu pun menduga bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi.

Suatu ketika pada siang hari yang cerah, ada serombongan manusia yang ternyata mereka adalah satu keluarga yang sedang berpiknik di taman kecil itu. Sang lebah madu sudah merasa resah. Tampaknya mereka kurang menghormati ekosistem di taman kecil ini. Diantara mereka ada yang membuang sampah sembarangan, ada yang mencabut-cabuti si rumput. Bahkan mereka menggelar alas tikar mereka diatas si bunga putri malu berada.

Sambil menunaikan pekerjaannya, Gimo mampir ke tempat Kuntum. “Kuntum berhati-hatilah, manusia-manusia itu sepertinya bukan makhluk yang baik.” Ucapnya pada Kuntum. “Baiklah aku akan berhati-hati”, balas Kuntum. Gimo pun pergi meninggalkan Kuntum, ia harus segera mengantarkan sari-sari madu tempat langganannya pak Remon. Lalu tampak seorang anak laki-laki dari manusia itu sedang memandangi-mandangi isi taman kecil, posisinya menjauhi kumpulannya. Ia sudah dekat sekali dengan Kuntum. Tangannya sangat kotor karena bekas memegang tanah dan makanannya sendiri. Perilakunya memang jahil. Ia mematah-matahkan batang-batang pohon bambu sambil tertawa-tertawa. Mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya sejauh mungkin. Kuntum mulai merasa ketakutan. Jantungnya berdebar keras. Wajahnya pucat. “Kalau saja ia meraih tubuhku dan mencabutnya. Lalu dihempaskannya aku ketanah seperti batang bambu itu. Niscaya nyawaku tidak selamat”, pikirnya ketakutan. Tak disangka, si anak manusia itu melihat Kuntum berdiri. Karena ia bunga yang paling mencolok diantara tumbuhan lain. Si anak manusia tersenyum jahat. Tangannya mulai meraih si Kuntum dan akhirnya mencabutnya. Si Kuntum menjerit keras. Menangis sejadi-jadinya ia berteriak meminta tolong kepada siapa pun termasuk si lebah madu. Ternyata tak ada yang sanggup menolongnya. Mereka semua merasa tak berdaya dan sangat ketakutan. Si Kuntum akhirnya pasrah dan berdoa pada Tuhan. Kalau memang ajalnya tiba, ia ikhlas. Ketika akan dilemparkan sejauh-jauhnya. Si anak manusia menjerit keras kesakitan. Ada yang menyengat tangan kanannya. Si Kuntum pun jatuh kembali ke tanah. Tak disangka Gimo datang tepat pada waktunya. Ia langsung memberi kode kepada teman-temannya untuk menyerang si anak manusia. Dari balik semak, keluarlah serombongan besar lebah-lebah madu jantan yang siap dengan sengatnya yang tajam dan beracun. Mereka langsung menyengat sekujur tubuh si anak manusia tanpa ampun. Si anak manusia itu pun lari tunggang langgang sambil menangis.

Tak lama, Kuntum pun dikembalikan ke tanah tempat ia memijakan akarnya, dibantu oleh burung pipit, tupai dan para semut. Semua penduduk taman kecil pun kembali bersuka cita dengan selamatnya Kuntum dari ulah manusia jahat. Gimo menjadi pahlawan hari itu, tubuhnya diangkat dan dijunjung tinggi oleh teman-temannya. Gimo berkata pada penduduk taman kecil, “Barang siapa yang mengganggu kehidupan di taman kecil ini harus kita usir jauh-jauh, setuju!”, “Setujuuuuuu!” teriak penduduk taman kecil dengan kompaknya. Begitulah kisah di taman kecil, penduduk taman taman kecil sadar bahwa ekosistem harus terus di jaga agar kehidupan berjalan seimbang.

warung buncit, 2006
NB: pernah diikutsertakan dalam lomba dongeng majalah bobo tahun 2006. tapi kalah, Huh looser hehe!

Thursday, January 11, 2007

Cerpen: Berlari














Berlari
Oleh: gunawan

Menulis kata ini mengingatkanku pada seluruh aktifitas yang berhubungan dengan lari. Aku jadi ingat saat kecil dulu. Saat dimana aku memandang hidup begitu indah. Saat dimana beban pikiran tidak begitu berarti. Saat dimana duniaku adalah dunia bermain dan belajar. Saat dimana kebebasan kuraih sebagai anak kampung dan sederhana layaknya. Tertawa, berteriak, menangis, bermain dan berlari.

#1
Masih kuingat pengalaman-pengalaman lucu yang kudapat dengan berlari. Aku ingat ketika aku mencari ikan bersama teman kecilku di kali dekat rumah kami. Kali yang waktu itu masih jernih. Airnya setinggi satu jengkal kaki orang dewasa. Waktu itu, masih banyak berbagai jenis ikan hidup disana. Betok, sapu-sapu, gabus, cere, belut, moa (sejenis lindung yang bertelinga) bahkan biawak pernah juga ditemui di kali itu. Pagi itu aku mencari ikan cere yang banyak berkumpul digorong-gorong. Hanya dengan menggunakan tanganku yang kecil aku bisa mendapatkan banyak ikan. Bagaimana kalau dengan jaring? Pasti lebih banyak lagi pikirku. Kutengadahkan tanganku ke dalam gorong yang besar. Ikan-ikan cere yang gendut-gendut dan dewasa terperangkap ditanganku. Perasaanku begitu riang mendapatkannya. Kukumpulkan hasil tangkapku ke dalam plastik besar. Akhirnya pagi itu kami mendapatkan banyak ikan. Setelah puas bermain-main air dikali dan hasil tangkapan yang cukup. Kami putuskan untuk pulang kerumah.

Jalan pulang menuju rumah kami saat itu melewati rumah-rumah gedongan yang salah satu rumahnya memiliki seekor anjing besar dan galak. pemiliknya adalah mas Andi tetangga kami yang baik Sebenarnya kami enggan melewati jalan itu. Tapi karena malas melewati jalan lain dengan perasaan gentar dan was-was kami lewati juga. Awalnya kami coba untuk berjalan tenang dan tidak menimbulkan rasa curiga. Pagi itu si anjing besar tidak tampak wujudnya. Dan suaranya pun hening. Tapi begitu melewati rumah Mas Andi sejauh dua meter sang anjing keluar dari rumah. Menggonggong begitu keras. Tingginya hampir sepinggang kami. Kami panik. Temanku memintaku berlari. “Wan lari Wan…lari!”. Tanpa pikir panjang lagi. Kami lari sekencang-kencangnya sambil menenteng sekantong air berisi ikan cere. Pada saat yang sama sang anjing besar mengejar kami dari belakang yang hanya berjarak satu meter. Jantungku berdegup keras. Keringat dingin keluar. Aku sangat takut digigit anjing. Apalagi kalau sang anjing terkena rabies. bisa jadi gila pikirku kala itu. selang beberapa detik kami kejaran-kejaran dan nyaris moncongnya mendekati pantatku. Mas Andi, sang tuan rumah memanggil anjingnya. Seperti disihir anjing itu berhenti dan berbalik badan. Sungguh hebat! Ditanjakan pertigaan ujung jalan itu. kami jatuh lemas. Temanku senyum-senyum melihatku dan akupun tertawa dengan kejadian ini sambil melihat kantong ikan cere yang airnya bergoyang-goyang. Slamet…slamet…(makan nasi sama garem)!

#2
Aku jadi ingat saat duduk di sekolah dasar dulu, SDN pulo 08 petang di Selatan Jakarta. Pak Edi, Guru olahragaku begitu keranjingan dengan aktifitas berlari. Baginya berlari adalah adalah permulaan dari sebuah pemanasan tubuh. Dimana otot-otot bergerak elastis. Oleh karena itu setiap jam olahraga dia memulai dengan menyuruh kami berlari memutari sekolah. Saat ujian, dia juga mengambil nilai dari beberapa cabang atletik. Salah satunya adalah lari marathon. Untuk pengalaman ini aku pernah juara kedua. Ini adalah hal yang tidak disangka-sangka. Aku sadar betul dengan kemampuan tubuhku yang kurus dan kecil. Fisik teman sekolahku, Toni, lebih besar dan kuat dalam berlari. Makanya dia selalu juara satu dalam ujian lari. Sementara aku cuma masuk dalam sepuluh besar. Waktu itu aku sempat melewatinya berlari bahkan berhasil meninggalkan lawan-lawan tangguhku. Hingga menjelang finish Toni sadar bahwa dia telah meremehkanku hingga berhasil melewatinya. Padahal aku bukanlah lawan tandingnya yang tangguh. Akhirnya menjelang garis finish yang berjarah lima meter dia berhasil mendahuluiku dan merebut kembali gelar juara satu. Dan aku cukup puas dengan juara dua.

Setiap ada kesempatan lomba lari yang sekupnya se-jakarta. Sekolah kami selalu diikuti sertakan. Pak edi, mengutus beberapa anak laki-laki dan perempuan untuk ikut lomba lari. Salah satunya adalah aku. Aku ingat waktu itu kami berlomba di kecamatan Jakarta selatan. Ratusan anak dari berbagai sekolah sejakarta selatan berkumpul di hari minggu pagi itu. tetanggaku yang perempuan, ela, anak Pak RT yang juga teman sekolahku juga diikutsertakan. Bahkan diunggulkan. Karena dalam urusan lari dia selalu juara untuk kelompok putri. Fisiknya memang kuat dalam berlari marathon. Napasnya panjang, ditambah perawakannya yang kecil. Membuat gerak tubuhnya menjadi lincah. Baru kali ini aku mengikuti pertandingan yang skupnya besar. Bayangkan, jalan raya pagi itu dipenuhi banyak pelari. Ketika priwit dibunyikan panitia. Seluruh pelari tumpah ruah berlari sekencang-kencangnya mengejar garis finish. Aku pun juga, untungnya tidak terinjak-injak. Sambil memandang perilaku para pelari. Perasaanku bercampur aduk. Hasilnya pagi itu, aku sampai juga di garis finish meski kalah. Dan temanku, Ela, dia masuk juara dalam tiga besar. Sungguh hebat!

#3
Saat perayaan Hari Kemerdekaan tiba, biasanya aku ikut serta berbagai lomba. lomba ambil batu, balap karung, makan krupuk, ambil uang logam dijeruk yang dilumuri arang, lomba bawa kelereng bahkan joget dengan jeruk berpasangan. Biasanya kala itu, aku dan adik serta kakakku selalu mendapatkan juara. Kami selalu membawa pulang hadiah bersampul coklat yang kami dapatkan. Meski cuma berisi beberapa alat tulis, bahkan adikku mendapatkan sabun mandi dan pensil rasanya kami senang sekali. Kalau dipikir sekarang ini, lucu juga ya mengingat hadiah-hadiah itu. bahkan hal ini terjadi hampir semua diseluruh negeri. Lomba lari ambil batu adalah andalanku. Setiap tahun aku menang lomba ini. Tapi aku ingat tahun itu, aku kalah.

Final lari ambil batu begitu seru. Ditonton banyak warga. Keluarga para peserta ikut hadir sebagai dukungan moral. Tapi aku tidak, ibuku sibuk memasak. mengolah makanan untuk dijual diwarung nasi kami. Awal start aku memimpin. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju tumpukan batu didepan mataku yang berjarak 10 meter. Satu demi satu berhasil aku pindahkan. Bobot batu koral itu lumayan berat menurut ukuran tubuhku yang kecil. Aku menaksirnya sekitar dua ons. Karena kelelahan. Kecepatanku mulai menurun. Tak disangka aku disusul oleh tegy temanku kecilku yang menjadi lawan tandingku kala itu. Tegy usianya lebih muda dari aku, rumahnya tepat didepan rumahku. Meski terlihat lebih berkemampuan secara materi. Keluarganya cukup baik. Jadi kala itu hampir tidak pernah ada masalah dalam kehidupan kami sekeluarga.

Tegi menyusul. Dia tepat disampingku. Pada jalur masing-masing kami berlomba mengambil batu pada saat yang bersamaan. Keadaan makin riuh. Sorak sorai warga begitu riang mendukung Tegy dan aku. Keringat mengucur deras. Jantung keras berdegup. Tubuh menjadi lemas. Aku dan Tegy susul menyusul. Bahkan seringkali kami berada pada posisi yang sama didepan. Ketika menunduk mengambil batu. Terasa kali ini begitu berat. Tenagaku habis. Tapi tekad terus mengalir. Apalagi lawanku hanya tegy. Aku meremehkannya. Pada akhirnya, ketika mengambil batu terakhir. Beratnya makin tak terkira. Tenagaku benar-benar habis. Akhirnya tegy mencapai garis finish beberapa centi lebih dulu dariku. Kembali gemuruh sorak warga membahana. Aku kalah. Masuk juara kedua. Tak disangka, sungguh hebat dia! Aku tersenyum.

#4
saat mengalami masa-masa kebandelan. berlari adalah jalan keluar terakhir yang paling jitu. Kala itu usia kami remaja. Penuh dengan uji coba. Sambil bergaya belajar menghisap rokok ketengan. Temanku dengan tenang mencoret tembok dengan piloks yang kami beli. Menulis jalan rumah kami malam itu: Nipah. Apa maksudnya? Tidak tahu, yang penting merasa eksis. Tak disangka dari kegelapan muncul bapak satpam berteriak. Kami panik dan mencoba lari karena merasa bersalah. Dan memang itu perbuatan yang salah. Mencoret-coret rumah orang lain tanpa ijin adalah pelanggaran hukum. Lucunya, ada temanku yang gendut bernama geboy, kakinya terperosok kedalam got kecil. Sendalnya menyangkut hingga tidak bisa ditarik. Betis kakinya lecet hingga berdarah. Kucoba tarik tangannya tapi tidak terlepas juga kakinya yang menyangkut itu. Karena si bapak satpam yang marah itu semakin mendekat. Akhirnya geboy lepaskan sendalnya. Kami pun lari terbirit-birit tunggang langgang. Dan geboy berlari sekuat tenaga beralas kaki sebelah dengan betis kaki kanannya yang berdarah. Kami selamat. Bapak Satpam itu terlalu tua mengejar kami yang gesit. Sembari tersengal-sengal, kami cekikikan dengan kejadian ini. Konyol sekali. Dan resikonya, kaki geboy berdarah, sandal kanan lenyap. Buat apa sandal kiri kalau kanannya tidak ada. Tidak berguna. Geboy hanya mesem-mesem tersenyum kecut sambil meringis menahan rasa sakit. Beruntung saat itu kami tidak tertangkap.

***
Hingga kini aku masih sering berlari. Meski tidak sesering dan segesit dahulu. Aku masih sering main bola bersama teman-temanku. Tapi bukan teman kecilku dulu. Aku sudah berpindah rumah karena terkena gusuran. 20 tahun lebih aku tinggal dan hidup disana. Segala kenangan manis bersama teman kecilku telah banyak kami lewati. Akhirnya keluargaku tergusur karena ditanah itu akan dibangun kantor wali kota Jakarta selatan yang baru. Saat kemarin aku lewati daerah itu, gedungnya sudah tegak berdiri megah. Penuh dengan lampu-lampu taman.

Kala hujan pun aku berlari. Anehnya saat ini, kalau sedikit saja terkena hujan aku jadi mudah sakit. Mungkin air hujan sekarang lebih kotor karena asap industri dan polusi udara yang semakin kotor. Atau karena memang daya tahan tubuhku saja yang semakin melemah. Usia memang tidak bisa dibohongi.

Kalau dirasa-rasa hidup saat ini terasa semakin berat. Mungkin dengan kondisi Negara dari berbagai krisis yang terus terjadi. Tanggung jawabku kepada ibu semakin besar. Ibuku sudah tua. Tapi ia terus bekerja. Tidak ada kamus pensiun dalam keluarga kami. Kadangkala saat masalah begitu menghimpit. Ingin rasanya aku lari dari kenyataan. Pergi meninggalkan masalah. Tapi mau berlari dan pergi kemana? Tidak tahu. Kuputuskan berlari ketemanku. Sedikit melegakan. Siapa tahu ada jalan keluar. Dan ketika ada harapan dengan tenaga yang masih terkumpul. Aku mencoba berlari sekuat tenaga mengejarnya. Mengejar mimpi hidup. Sambil berjalan cepat menuju kantor, terdengar lagu “where the street have no name(live); pride (in the name of love) (live); Sunday bloody Sunday (live)” dari U2 ditelinga yang berasal dari earphone mp4 playerku. Hentakan drum yang keras, petikan bass dan kocokan gitar yang cepat. Beat yang cepat dan bersemangat dari lagu ini ditambah lirik yang indah dinyanyikan Bono sang vokalis yang mengagitasi massa membuat lagu ini terdengar asik ditelinga. Volume mp4 playerku menunjukkan angka 28. ukuran volume yang cukup keras. Hingga membuat suara diluar earphone tidak terdengar lagi. Mendengar lagu ini dipagi hari saat berjalan kaki menuju kantor semakin membuatku bersemangat. Suaranya memenuhi rongga pendengaranku. Jantungku berdegup keras. Darah dipompa. Seperti ada semangat yang muncul bercampur marah. Marah atas kesewenangan manusia dinegeri yang miskin ini. Dan aku tidak peduli soal itu lagi. ingin rasanya berlari sekuat tenaga menggapai mimpiku sendiri. Langkahku semakin cepat menuju kantor yang berjarak satu kilometer dari rumah dengan keringat yang semakin mengucur.

Warung Buncit, dipenghujung tahun 2006.
Terima kasih buat teman-teman di paramadina yang sudah mengisi hari-hari. sampai berjumpa lagi.

Saturday, January 06, 2007

Antara Kiamat Sudah Dekat dan Ayat-ayat Cinta













Antara Kiamat Sudah Dekat dan Ayat-ayat Cinta
Oleh: Gunawan

Kiamat sudah dekat adalah sebuah judul film yang ditayangkan stasiun televisi swasta begitu menghibur dengan meninggalkan kesan yang mendalam. Film ini sendiri menceritakan tentang seorang pemuda yang sekuler dengan berprofesi sebagai musisi pada sebuah band rock and roll yang jatuh cinta pada seorang gadis solehah dari anak seorang haji. Masalah dimulai ketika sang pemuda bertemu secara tidak sengaja pada seorang gadis cantik berjilbab anak seorang pak haji. Pada pandangan pertamanya itu ia langsung jatuh cinta. Berbagai cara pun dilakukan sang pemuda untuk bertemu sang gadis.

Lalu sampai pada suatu ketika pak haji mengajukan beberapa pertanyaan yang ditutup dengan beberapa syarat yang berhubungan dengan agama pada si pemuda yang sekuler tersebut. Karena cintanya pada si gadis. Si pemuda menyanggupi syarat tersebut. Puncak dari masalah ini muncul ketika pak haji mengajukan lagi syarat terakhir yaitu menguasai ilmu ikhlas. Si pemuda yang awam dan buta agama itu ternyata menyanggupi meskipun ia takut apakah ia bisa menguasai ilmu ikhlas tersebut. Kelucuan pun terselip disela-sela pencarian apa yang dimaksud ilmu ikhlas tersebut. Sampai pada akhirnya si pemuda menemukan kesadaran dan jawaban dari kegelisahannya tentang ilmu ikhlas yang diajukan pak haji. Dan tanpa disangkanya pak haji memilihnya sebagai menantunya sebagai calon suami dari anak gadisnya yang sebelumnya siap dijodohkan dengan seorang pemuda anak kerabatnya yang sedang sekolah S-2 di mesir.

Setelah menonton film ini penulis menyimpan kesan bahwa untuk mendapatkan sesuatu memang harus berjuang dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Tapi perjuangan tadi harus diimbangi juga dengan ilmu ikhlas, sama seperti yang diajukan pak haji tadi. Tanpa ikhlas masalah hanya diselesaikan dengan ambisi dan kepentingan pribadi semata. Tanpa sadar bahwa segala apa yang kita perebutkan didunia yang fana ini hanyalah milik Allah SWT. Mungkin itulah cinta yang sesungguhnya dari si pemuda terhadap anak pak haji. Bahwa ia mencintai dengan dasar keikhlasan.

Lalu apa hubungannya dengan kita? secara realitas kondisi bangsa ini semakin terpuruk pada tingkat yang lebih parah. Kongkritnya keterpurukan terjadi hampir semua bidang kehidupan, pada sektor ekonomi, politik, sosial dan moral, agama dan budaya. Kondisinya masih tampak jelas terlihat pada sistem birokrasi yang bobrok dan masih bertele-tele, pemimpin-pemimpin negeri yang tidak berjuang atas hati dan para pengambil kebijakan yang lamban dan berbelit-belit. Kehidupan sosial yang parah karena borok pengangguran semakin menganga. Hal mengakibatkan patologi sosial pada masyarakat terutama kelas bawah, seperti angka kriminalitas meningkat, penyimpangan seksual dalam keluarga atau lingkungan, anak dibawah umur yang turun ke jalan dan lain sebagainya.

Repotnya, pemahaman agama yang kurang dan kurangnya peran lembaga-lembaga agama dimasyarakat tidak bisa menjadi penyejuk bagi dahaga jiwa yang kering dimasyakat. Menurut saya, agama masih menjadi dogma dimasyakarat luas. Akhirnya yang terjadi praktek-praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) semakin luas dan mengakar. Tayangan-tayangan ditelevisi atau media cetak yang mungkin perlu banyak dikaji ulang hingga tidak mengakibatkan pada bentuk budaya liberal seperti tayangan mistik dan acara smack down (yang mengakibatkan banyak jatuh korban), apakah masih layak dikonsumsi? Lalu tanpa sadar negeri ini dihantam bencana alam bertubi-tubi seperti tsunami di aceh, gempa bumi, gunung merapi yang meletus, dan Lumpur panas yang terus meluap-luap dan semakin melebar bahkan memakan korban di Porong, Sidoarjo.

Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah akan ada skenario Tuhan yang lebih mendebarkan lagi? Ataukah ini azab-Nya yang sudah diturunkan akibat kerusakan manusia? Lalu berujung pada, apakah kiamat sudah dekat? Kalo kata pak haji di film ini dia menjawab, “bahwa kiamat emang makin deket aje!”

***

Belajar soal ilmu ikhlas sangat menggugah kesadaran saya, terutama soal hidup pribadi saya. Dari pelajaran ilmu ikhlas yang sederhana ini mengandung arti yang begitu dalam. Saya jadi ingat setelah membaca buku novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman tentang seorang tokoh sentral yang bernama Fahri. Dalam hidupnya dia adalah sosok yang sangat ideal. Fahri adalah pribadi yang aktif, visioner, kosisten, jujur, bertanggung jawab, rendah hati, serta memiliki pengetahuan agama yang luas hingga membuat ia disegani oleh teman-temannya dan dicintai para wanita cantik solehah yang dekat dengannya serta juga para guru-guru mengajinya.

Hidupnya begitu terprogram dan sangat sibuk. Dalam cerita itu, maria terperanjat melihat karton besar yang ditempel ditembok kamar Fahri ketika ia terbaring sakit karena kelelahan akibat jadwal kegiatannya yang begitu padat. Ia berkata, “Inikah peta hidup kamu fahri? begitu banyak target-target jangka pendek maupun panjang yang kau buat. 2 tahun kamu selesai S2. 4 tahun kamu lulus S3. tahun depan targetmu menikah. Dan jadwal sehari-hari lainnya yang kamu buat begitu terperinci.” Dalam pembaringannya fahri berkata,” iya itu peta hidupku kedepan baik 5 atau 10 tahun mendatang. Setiap orang harus memiliki visi agar dia focus dalam hidupnya.” Ia mengutip salah satu ayat al-quran, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali dia sendiri yang mengubah nasibnya”. Maria, membalas “bukankah lebih enak bahwa hidup dibuat mengalir.” Fahri pun menjawab, manusia akan membuat kemajuan kalau ia memiliki cita-cita kedepan. Seperti kalimat bijak dari barat, “seseorang dengan tujuan jelas akan membuat kemajuan walaupun jalannya sulit. Seseorang tanpa tujuan yang jelas tidak akan membuat kemajuan meskipun berada dijalan yang mulus. Jadi, aku mau jadi apa, dengan cara apa, dan kapan dilakukan, aku sendiri yang menentukan nasibku. Aku berusaha melakukan yang terbaik terhadap cita-cita yang ingin aku capai dan keputusannya aku serahkan kepada Allah semata.”

Maria pun terharu menitikan air mata mendengarnya, ia mendapatkan pelajaran berharga hari itu. Tampak jelas ilmu ikhlas merasuk dalam pribadi seorang fahri. Akankah ilmu ikhlas bisa merasuk juga pada jiwa-jiwa masyarakat kita (termasuk saya) yang kering dalam hidup yang serba kapitalis, konsumtif serta glamour ini. Saya pikir bisa, asal kita mau mempelajari dan memahami hakikat dari keikhlasan itu sendiri karena keikhlasan melahirkan kejujuran, tanggung jawab, kosisten, dan jiwa yang rendah hati. Inya Allah…, semoga saja semoga negeri ini bisa bangkit kembali, AMIN!

Gunawan
Diselesaikan juga di Warung buncit, 3 Desember 2006 jam 23.35
Penikmat film kiamat sudah dekat garapan dedy mizwar dan buku ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang baru selesai dibaca.