<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131</id><updated>2011-11-25T05:30:26.603+07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='lirik'/><category term='ebic'/><category term='Resensi'/><category term='PUISI'/><category term='Cerpen'/><category term='Puasa'/><category term='Foto'/><category term='Berita'/><category term='salahudin'/><title type='text'>JeJaK LangkaH</title><subtitle type='html'>Sebuah catatan kecil dari perjalanan yang singkat menembus batas ruang dan waktu hingga menjadi sebuah kenangan yang manis, sedikit renungan, atas kegelisahan, perasaan, gelora, harapan, mimpi dan cita-cita...!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-6821554420907896873</id><published>2011-09-02T14:35:00.006+07:00</published><updated>2011-09-19T11:02:37.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hingga Ujung Waktu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JxAUxFcE7C0/TmCHNLZDU7I/AAAAAAAAAGM/0ujLiKNCiWs/s1600/hingga_ujung_waktu_by_tokelapunye1.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="130" width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-JxAUxFcE7C0/TmCHNLZDU7I/AAAAAAAAAGM/0ujLiKNCiWs/s200/hingga_ujung_waktu_by_tokelapunye1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Foto: internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Gunawan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, seperti biasa, dia mengingatkanku untuk segera sholat jumat, tinggalkan jual beli, dan tak lupa menyelipkan doa semoga berkah hari ini menyertaiku. Aku pun tersenyum dan membalas, semoga kau mendapatkan pahala juga hari ini, amin. tak lama ia mengingatkanku lagi "Happy 5th month anniversary sweetheart", aku terkejut, ternyata kami melangkah udah berjalan 5 bulan, masalahnya aku benar-benar lupa kapan tanggalnya, dia tertawa lalu membalas waktu ngomong pas dimotor sih tanggal 29 Maret 2011, tapi resminya pas pulang dari museum gajah, wah ternyata inget ya, balasku hehe. dia menimpali, "duh yang ngomong aja lupa...!," aku bertanya lagi, "Nah dari museum gajahnya kapan?" dia menyaut "Mas inget ngga? kapan hayo? Pasti gak inget?" aku cuma nyengir dan berucap sepatah kata "maafff..." nyengir lagi, "huffffh gak inget bukan berarti ga perhatian khan? atau emang gak perhatian?" penuh nada kecewa. aku membalas tergagap, "maaaafffinnn mas ya beneran lupa...." aku memang pria melankolis yang payah, fiuh. lalu dengan sabar ia membalas "iya deh ngga apa-apa, waktu itu kita ke museum gajahnya hari minggu 1 April 2011 sayangku...", "alhamdulilah, makasih ya sayang" aku jawab dengan senyum, "akan aku catat dalam buku harianku", diapun tersenyum... dan membalas kalo lupa tanggalnya, nanti aku ingetin, asal jangan lupa sama orangnya aja..." dengan nada mengejek. aku pun membalas "ya ngga lah sayang, masa lupa sama orangnya sih.." oh iya sebagai balasannya ada hadiah buat kamu, sebuah lagu tentang perasaanku padamu..." ucapku :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Ujung Waktu&lt;br /&gt;oleh: Sheila On 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serapuh kelopak sang mawar &lt;br /&gt;Yang di sapa badai berselimutkan gontai &lt;br /&gt;Saat aku menahan sendiri di terpa &lt;br /&gt;Dan luka oleh senja ... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semegah sang mawar di jaga &lt;br /&gt;Matahari pagi bermahkotakan embun &lt;br /&gt;Saat engkau ada di sini dan pekat &lt;br /&gt;Pun berakhir sudah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku menemukanmu &lt;br /&gt;Saat ku bergelut dengan waktu &lt;br /&gt;Beruntung aku menemukanmu &lt;br /&gt;Jangan pemah berhenti memilikiku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ujung waktu &lt;br /&gt;Setenang hamparan samudra &lt;br /&gt;Dan tuan burung camar &lt;br /&gt;Takkan henti bernyanyi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku berkhayal denganmu &lt;br /&gt;Dan janjipun terukir sudah &lt;br /&gt;Jika kau menjadi istriku nanti &lt;br /&gt;Fahami aku saat menangis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau menjadi istriku nanti &lt;br /&gt;Jangan pemah berhenti memilikiku &lt;br /&gt;Hingga ujung waktu &lt;br /&gt;Jika kau menjadi istriku nanti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fahami aku saat menangis &lt;br /&gt;Saat kau menjadi istriku nanti &lt;br /&gt;Jangan pemah berhenti memilikiku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ujung ... Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps: dipersembahkan untuk kekasihku Dian Fitriana, terima kasih telah melengkapi hidupku. "Happy 5th month anniversary sweetheart"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-6821554420907896873?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/6821554420907896873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=6821554420907896873' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/6821554420907896873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/6821554420907896873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2011/09/hingga-ujung-waktu.html' title='Hingga Ujung Waktu'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JxAUxFcE7C0/TmCHNLZDU7I/AAAAAAAAAGM/0ujLiKNCiWs/s72-c/hingga_ujung_waktu_by_tokelapunye1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-1713106511160736805</id><published>2011-01-10T10:04:00.006+07:00</published><updated>2011-01-10T10:29:30.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='salahudin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ebic'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen: Senandung Jejak Langkah Kelas Salahudin</title><content type='html'>Kemarin, sore yang cerah, pukul 16.20 saya bergegas ke arah tempat parkir, sore itu sudah sepakat dengan firman untuk kerumah ustad Ulis di daerah Pasar Rebo jakarta timur. setelah berboncengan bersama menuju pom bensin di derah simatupang sebelum Antam, seperti biasa, Firman bersenandung di atas motor saya, ah itu salah satu yang saya rindukan dari Firman, Saya kangen dengan senandungnya di atas motor saya yang biasa dilakukan kala pulang bersama dulu, dia nyanyikan lagu lagu apapun, mulai dari dangdut, pop, mengaji al quran, sampai lagu barat meski liriknya cuma sepotong-sepotong dari yang dia hapal. Setelah sampai pom bensin, tak lama, Saya tekan no Aris di ponsel "Ris udah nyampe nih, elo dimana?" dari sebelah sana Aris menjawab "gue di perempatan pertanian Gun, oke gue ksana ya". Ya, Sore itu, Hari yang dijanjikan bagi kami kelas Sallahudin, pengajian Ebic di Elnusa yang sudah berjalan 3 tahun lebih untuk berkunjung ke rumah Ustad Ulis, guru kami, guru yang tanpa pamrih mengajarkan ilmu agama, berbagi pengetahuan dan bahkan semangkuk mie bakso di sela-sela belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, hari kemarin adalah pertemuan kami yang berbeda dari biasa, bukan untuk belajar bersama, tapi untuk melepas Ustad Ulis pergi ke Tanah Suci Mekah dalam rangka menunaikan Studinya selama setahun kedepan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pom bensin itu, 2 motor kami melaju menuju rumah Ustad Ulis. Berbekal alamat yang diberikan Pak Zuki lewat email, kami bertanya ke orang dan sesekali firman melihat GPS di Handphonenya, ”Gun belok kanan...., Gun belok kiri...Gun kita salah arah, balik lagi ke jalan yang satunya...” tibalah kami di Masjid Al-Ihsan tepat waktu magrib. ‘kita udah deket nih..., solat dulu ya..” tak lama, seusai sholat, terlihat dari teras masjid, Pak Zuki menghampiri. Salam dan senyum menyertai kehadirannya, ‘Firman lebih gemuk ya.., Aris juga, setelah keluar dari Copi kok gemuk-gemuk ya? Hahahaha’ tawa kami meledak di teras masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rumah ustad Ulis memang tidak jauh dari masjid, hanya berjarak sekitar 15 meter kami berjalan, tampak dari depan pagar saya melihat rumah yang sederhana, halaman yang luas, pohon-pohon, rumput, nyaman sekali, sangat jarang rumah seperti ini di tengah kota jakarta yang padat dan sumpek. Dan kami pun berkelakar, ‘wah kalo dijadiin kos-kosan jadi berapa pintu nih?’ celetuk Firman. ‘ini pasti yang punya orang betawi’ Pak zuki ikut menyambung. Iya benar saja, istri Ustad memang berasal dari keturunan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad Ulis sudah menunggu didepan pintu. Sambil menggendong Gaza, disambutnya kami dengan senyum dan pelukan. Satu persatu kami masuk ke ruang utama, ruang kosong yg tidak berperabot meja dan bangku, kami lesehan dengan beralas karpet. Ternyata ustad sudah menyiapkan hidangan untuk kami murid muridnya yang hadir sore itu: Pak Zuki, Firman, Saya dan Aris. Hidangan Aqua, Jeruk manis dan yang utama Mie Yamin. Tanpa menunggu waktu kami bersantap bersama. Nikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disela-sela itu, ustad Ulis sedikit bercerita bahwa dia akan mengambil jurusan manajemen dakwah yang akan digelutinya selama setahun ini. Dia menyarankan pesan lugasnya pada kami: “Sebaiknya pengajian diteruskan di rumah masing-masing aja ya..”. ya semoga saja amanah bisa terlaksana, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pikiran saya melesat mundur. Kala saya mengikuti Rihlah Ebic pertama kali di tahun 2007, dengan peserta yg cukup banyak saat itu. Outbond, sholat berjamah, sholat tahajud dan muasabah, teman baru, semangat baru dalam balutan Keislaman. Menyenangkan sekali. Dan kami memperkukuh kelas kami dengan nama Salahudin. Hari berganti, minggu demi minggu kami lewat dengan pengetahuan keislaman dari Ustad Ulis. Kadang halangan datang bertubi tubi dalam pertemuan: rasa malas, letih karena kerja, pekerjaan yang menumpuk, atau memang karena satu diantara kami ada yang sakit, dengan tentu saja yang menjadi bumbu di kelas itu adalah ritual makan baso didepan masjid sebelum pelajaran dimulai. Saya tersenyum mengenangnya. Ya, tak terasa tiga tahun kami melewatinya, dengan segala aktivitas baik dikelas ataupun Kegiatan Rihlah 1 di Ciwidey dan Rihlah 2 di Cibubur bersama teman-teman: Pak Zuki, Firman, Arif, Aris, Ican, Irsan, Mas Rizky dan Saya. Untung saja saya sudah menyelesaikan video documentasi rihlah 1 dan 2, semoga bisa menjadi pengobat rindu bagi kami semua. Ustad bilang “Saya mau bawa Dokumentasi Video Rihlahnya, lucu melihat foto Gaza waktu minum air” ya, saya mengingat foto itu, kami semua tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Hari itu, kami serahkan hadiah untuk Ustad Ulis. Sebuah Tas ransel yang dilengkapi tempat menyimpan Laptop. Dalam hati Saya berdoa, “Semoga tasnya bermanfaat ya Ustad, semoga kami kecipratan pahala juga karena ustad sedang berjuang menuntut ilmu, semoga Allah selalu menjaga kesehatanmu, semoga Ustad dicurahkan ilmu Allah yang luas, semoga segala amal Ustad terhadap kami murid-muridmu yang bandel ini diganjar atas pahala berlimpah ruah dari Allah SWT, semoga….. semoga…..Tak sadar mata saya mulai berkaca-kaca. Terima kasih Ustad atas segala kesabaran, dedikasi, dan keikhlasannya. Semoga engkau terus dalam lindungan Allah. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa hari kemudian datang surat dari Ustad pada kami..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah,hari kamis 6 januari 2011 perjalanan ke jeddah lancar, di bandara jeddah dijemput ikhwah DPD PIP Jeddah. makan kebuli satu nampan berlima. Bakda jum'atan, ke kampus ma'had i'dadul aimmah waddu'aat rabithoh. Dilanjutkan ke masjidil Haram untuk umrah. shalat maghrib dan isya' di masjidil haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga kita bisa berjumpa di masjidil Haram tahun ini, di umrah Ramadhan insya Allah. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baarakallahu fiikum. Salam, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markaz Dakwah PIP DPD Mekah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulis Tofa M. Ali, Lc&lt;br /&gt;Direktur Maktaba Gaza&lt;br /&gt;Telp.: 021-87702264 / 021-92933141 / 08129612011&lt;br /&gt;e-Mail: ulistofa@gmail.com / ulistofa@yahoo.com&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Alhamdulilah, Jika ada umur panjang, semoga kita bertemu lagi Ustad..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp5spmCu-I/AAAAAAAAAFU/W_Jsnrb82wU/s1600/rihlah%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 135px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp5spmCu-I/AAAAAAAAAFU/W_Jsnrb82wU/s320/rihlah%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560390497928920034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rihlah 1, Ciwidey Bandung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp54fZ0DcI/AAAAAAAAAFc/Dbj2sOTNdIo/s1600/rihlah%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 121px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp54fZ0DcI/AAAAAAAAAFc/Dbj2sOTNdIo/s320/rihlah%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560390701351701954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rihlah 2, Cibubur Jakarta Timur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp6Kvf6TII/AAAAAAAAAFk/9-dP3njHSDE/s1600/ustad%2Bulis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 270px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp6Kvf6TII/AAAAAAAAAFk/9-dP3njHSDE/s320/ustad%2Bulis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560391014909889666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ustad Ulis dan Gaza&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-1713106511160736805?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/1713106511160736805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=1713106511160736805' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1713106511160736805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1713106511160736805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2011/01/senandung-jejak-langkah-kelas-salahudin.html' title='Cerpen: Senandung Jejak Langkah Kelas Salahudin'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TSp5spmCu-I/AAAAAAAAAFU/W_Jsnrb82wU/s72-c/rihlah%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-2116139581069282538</id><published>2010-11-24T10:28:00.003+07:00</published><updated>2010-11-24T10:31:55.624+07:00</updated><title type='text'>Renungan tentang Sandal Jepit</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TOyGipUjYnI/AAAAAAAAAFI/zKC92-nhrKk/s1600/sendal%2Bjepit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 273px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TOyGipUjYnI/AAAAAAAAAFI/zKC92-nhrKk/s320/sendal%2Bjepit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542953171151970930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam, aku sambangi tempat kerja ulum di matraman, itu juga atas bujukan ismail yang memang selalu hadir disana setiap minggu karena kewajibannya mengurus web Gusdur.net, begitu juga kawan ain yang merayu untuk hadir juga, katanya kawan edi, reni, dan dhianti akan ikut serta. Ya, kutepati janji sore itu, meski diguyur hujan deras di simatupang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang penting dari pertemuan itu, semua hanya karena pertemanan, santai dan ringan, ada yang curhat karena putus cinta, lainnya menimpali dengan canda dan tawa. Ada yang serius mengurus calon buku ketiganya, ada yang main yoyo, ada yang mendokumentasikan setiap mimik dengan kameranya. Ada yang asik dengan laptop sendiri. Semuanya mengalir alami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, disana aku bertemu Mas nurul pimpinan pondok pesantren Qothrotul Falah yang pernah kami sambangi beberapa waktu yang lalu di banten. Tempat yang menyenangkan dan tuan rumah yang baik hati. Kami dilayani seperti raja. Kerinduan yang besar untuk datang lagi ke pesantren itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Mas nurul memang belum terlalu tua untuk menjadi pimpinan pondok pesantren, tapi kepribadian dan kearifannya membentuk karakter bahwa dia memang layak menjadi pimpinan. Kesederhanaan dan keluasan ilmunya yang membuatku kagum dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hendak pulang, dia sedikit bercerita soal perjalanannya dari ciputat tanpa alas kaki. Sandal jepitnya hilang Ku sapu pandanganku kearah kakinya yang telanjang, lalu membayangkan bagaimana rasanya dalam perjalanan dari ciputat ke matraman tanpa sandal jepit. Aku jadi bertanya iseng, “kok bisa? Kenapa ngga beli aja di warung?”... dia tersenyum lalu menjawab tenang, hehehe gak apa-apa.. ingin merasakan bagaimana rasanya tanpa sandal jepit. Bagaimana rasanya manusia tanpa pijakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak dan berpikir dalam, jawaban yang Sederhana tapi sangat berarti. Ya, sandal jepit adalah pijakan kaki, bagaimana rasanya manusia hidup tanpa pijakan? Apa yang dimaksud dengan pijakan itu? Seorang rohaniwan pasti menjawab, agama adalah pijakan hidup. Seorang fisikawan nyerocos bumilah pijakan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengakui bahwa hidup adalah atas keduanya, agama dan bumi sebagai pijakan. Meski masih belajar atas keduanya, agama kupahami dan bumi kuhargai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi muncul ingatan soal hantu, kita sering diingatkan soal kalimat: kalau mau membuktikan dia hantu atau bukan, lihat kakinya menapak atau ngga? pertanyaan isengnya, bagaimana ya rasanya hantu penasaran itu hidup tanpa pijakan, menggantung antara langit dan bumi? Burung saja yang bersayap dan ditakdirkan bisa terbang tetap membutuhkan bumi sebagai rumahnya. Tetap membutuhkan tanah dan batu sebagai pijakan dan hentakan untuk terbang kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pahami semua ini sebagai pelajaran dan tetap berpijak pada hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-2116139581069282538?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/2116139581069282538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=2116139581069282538' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/2116139581069282538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/2116139581069282538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2010/11/renungan-tentang-sandal-jepit_24.html' title='Renungan tentang Sandal Jepit'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TOyGipUjYnI/AAAAAAAAAFI/zKC92-nhrKk/s72-c/sendal%2Bjepit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-7109128602260553927</id><published>2010-09-01T16:16:00.002+07:00</published><updated>2010-09-01T16:25:34.437+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen: Ifthor Sederhana yang Menyejukan Jiwa</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ifthor Sederhana yang Menyejukan Jiwa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TH4bIceHoGI/AAAAAAAAAE4/SEP5RMCU0XU/s1600/ramadhan-karim.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TH4bIceHoGI/AAAAAAAAAE4/SEP5RMCU0XU/s320/ramadhan-karim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511872825843490914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketika setiap tarikan napas menjadi tasbih,&lt;br /&gt;Ketika sebutir kurma menjadi pelepas dahaga,&lt;br /&gt;Dan ketika amal perbuatan berbuah pahala,&lt;br /&gt;Semuanya menjadi indah dalam naungan ramadhan ini..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin kemarin, Kali kedua saya mendapat giliran bertugas membagikan tajil di Masjid Miftahul Jannah, dengan semangat ramadhan berpamrih pahala saya siapkan mental dan tenaga yang tersisa. Sore itu setelah bertemu dengan kawan Gilang, kunci lemari dan Ipod secara estafet telah sampai ditangan saya. Ada pesan yang membuat saya jadi bersemangat, kawan Gilang dan Aulia Insya Allah akan membantu sore nanti. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tepat pukul 16.45 saya &lt;em&gt;lock &lt;/em&gt;pekerjaan di desktop komputer saya, berkemas lalu bergegas turun ke lantai dasar menuju Masjid Al Jannah. Kali ini apa yang harus saya lakukan sudah lebih meyakinkan. Tidak perlu lagi bimbingan panduan pekerjaan yang dikirim di email. Semua sudah diluar dikepala. Bayangannya adalah Menuju ke pintu dibelakang mimbar masjid. Nyalakan lampu dan sound system, putar pengajian dari ipod, siapkan kotak amal dan menata tajil yang siap disajikan gratis bagi para karyawan yang ingin berbuka di masjid ini, selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kurang dari 10 menit, saya sudah tiba di masjid, bergegas mengambil air wudhu, lalu saya menuju ke pintu dibelakang mimbar. Menyalakan lampu dan menaruh tas ransel saya disana. Tiba-tiba Office Boy yang saya ketahui belakangan bernama mas Aji datang membawa kue untuk tajil. &lt;em&gt;“mba Ernanya mana?&lt;/em&gt; Tanya saya. Dia bilang “&lt;em&gt;tadi dia titipkan kue ini ke saya untuk diberikan ke mas gun&lt;/em&gt;” wah terbayang saya akan sendirian memasukan kuenya satu persatu ke dalam kantong kurma yang berjumlah 70 buah. &lt;em&gt;"Jadi Mas Aji yang akan membantu saya nanti?"&lt;/em&gt; Tanya saya. &lt;em&gt;“Wah saya mau minta data anak yatim untuk acara jumat besok di daerah sekitar RP2 ini.” &lt;/em&gt;Sahutnya. &lt;em&gt;“Wah saya sendirian dong masukin kuenya ke bungkus korma ini, biasanya sih di bantu sama mba Erna dan mas Subhan…”&lt;/em&gt; saya menimpali. Tapi dia bilang &lt;em&gt;“ya udah saya bantuin dulu bungkusnya..” Alhamdulillah..! &lt;/em&gt;sahut saya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselingi obrolan dengan mas aji yang berasal dari cilacap ini, bungkus demi bungkus kue-kue dimasukan. Kami Bicara seputar mudik dan niatnya yang akan pulang kampung nanti melepas rindu mengunjungi orang tuanya. Demi mencium tangan kedua orang tuanya. Perjuangan pulang kampung akan ia tempuh. Akan terbayang tentang bagaimana lika liku mudik: kemacetan yang luar biasa, harga transportasi berdasarkan tuslah yang biasanya terus melonjak naik, rawannya kecelakaan dan tindak kriminal. Sebuah ritual tahunan yang terus terjadi di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar sudah hampir 30 bungkus. Lalu tiba-tiba dua sekawan: Aulia dan Gilang datang. Saya tersenyum. Janji telah ditepati. Subhanallah. Saya lekas berkata pada mas Aji &lt;em&gt;“mas tinggal aja, bala bantuan sudah datang”&lt;/em&gt; mas Aji pun tersenyum. &lt;em&gt;“Makasih ya mas”&lt;/em&gt; kata saya. &lt;em&gt;“sama-sama mas gun”&lt;/em&gt; sahutnya sambil bergegas pergi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, Aulia dan Gilang lalu membagi tugas. Aulia dan Gilang mengemas dan menata kue di meja PKPU, yang ternyata tak lama datang juga mba Erna memberikan pertolongan seperti biasa. saya memutar pengajian melalui Ipod dan bergegas mengambil kotak amal. Dalam waktu 10 menit semuanya selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu para jamaah yang datang kami berbincang. Lalu Januar datang bergabung. Sambil mengisi waktu berbuka dia sedikit-sedikit memberikan wejangan soal pernikahan yang diselingi gurauan dan tawa dari kita semua. Sebuah tausiyah menarik dari ustad Januar, terima kasih kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, tajil gratis kali ini sudah mulai dikenal bagi jamaah sekitar. Satu persatu mereka mendekati meja dan mengambil tajil untuk persiapan berbuka. Ada yang langsung pulang untuk persiapan dijalan seperti seorang ibu setengah baya yang mengambil dua buah untuk dirinya dan supirnya. Para satpam yang bergiliran satu persatu. Para Office Girls gedung yang ikut menyerbu. Para karyawan lainnya yang saya tidak kenali datang silih berganti. Ira, Arya dan Ale dari Library Lantai 10 tak ketinggalan ikut serta. Sering kami mengingatkan ke mereka saat mengambil tajil &lt;em&gt;“Pak selangnya Pak!…Mba selangnya..!” "selang?"&lt;/em&gt; Tanya mereka. &lt;em&gt;"Iya maksudnya sedotan aquanya jangan lupa hehehe", “oh iya..”&lt;/em&gt; sambil mengambil sedotan mereka tersenyum. Hidangan tajil tinggal sedikit tersisa dimeja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati azan magrib saya bergegas mematikan suara pengajian dari ipod dan kembali ke meja tajil. Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup suara azan dari radio di handphone Januar. Saya bergegas menyelinap ke pintu samping masjid, memberi kode kepada mas Mudinar yang saat itu ikut berbuka puasa dimasjid bahwa azan magrib telah tiba, lalu seorang bapak tua yang saya tidak kenal ternyata berdiri secara sukarela untuk menjadi muazin. Saatnya Azan magrib untuk conocophillips RP2 dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaibnya, seiring berkumandangannya azan magrib. tajil terakhir juga ikut ludes dari jamaah yang datang berikutnya. Terhitung 70 tajil habis. Masih sama seperti kemarin. Tunai sudah tugas Saya, Gilang dan Aulia. Setelah solat magrib dan berbenah diri. Kami dan Januar bergegas kilat menuju Masjid Elnusa. Memburu Makan berat gratis hehehe.. gak mau rugi ya. Alhamdulilah rejeki tidak kemana. Sambil menyantap makan bersua dengan Fadly dari HRD, dan Arif Usman Lantai 11, kami Solat Isya dan Tarawih disana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ps: &lt;br /&gt;Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih buat mas aji, kawan Gilang dan Aulia, mba Erna yang telah banyak membantu. Mas Januar yang ikut memeriahkan jalannya acara. Semoga menjadi ladang amal buat kalian semua, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-7109128602260553927?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/7109128602260553927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=7109128602260553927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/7109128602260553927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/7109128602260553927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2010/09/cerpen-ifthor-sederhana-yang-menyejukan.html' title='Cerpen: Ifthor Sederhana yang Menyejukan Jiwa'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/TH4bIceHoGI/AAAAAAAAAE4/SEP5RMCU0XU/s72-c/ramadhan-karim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-4668488809562919813</id><published>2008-02-20T11:30:00.009+07:00</published><updated>2008-02-20T13:32:14.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Memory - Jajanan jaman dulu</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7ut2axQdkI/AAAAAAAAAB4/JNhba3jRUcQ/s1600-h/ATT00116.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168916147748238914" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7ut2axQdkI/AAAAAAAAAB4/JNhba3jRUcQ/s400/ATT00116.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7vH16xQdqI/AAAAAAAAACo/78oTVyfpByo/s1600-h/ATT00119.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168944726460626594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7vH16xQdqI/AAAAAAAAACo/78oTVyfpByo/s400/ATT00119.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;COKELAT SUPERMAN &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Coklat mungil ini sempet merajai kantin jajanan sekolah sampai sekitar tahun 1996. Enak digigitnya *kres gitu bunyinya. Tapi hati2! Seragam bisa jadi kotor, soalnya banyak remah2nya yg bisa jatuh ke seragam. Kalo kamu punya duit lebih, enakan beli sekaligus 1 bungkus plastik, isi 6 biji. Lumayan bisa buat ngiri temen-temen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coklat ini lumayan dipakai sebagai objek buat ngerjain ade kelas yg baru masuk, misal : suruh nyari coklat supermen yg si supermennya lagi madep ke kiri dan sebagainya.Coklat itu soalnya juga udah lumayan susah di cari. Dahulu nama coklat ini cokelat superman, tetapi entah kenapa coklat ini mengganti namanya menjadi cokelat superstar (mungkin karena keuntungan dari menjual coklat ini tidak dibagi dengan pihak DC Comics dan akhirnya mereka menuntutnya? hehe) . Bagi tukang minta makanan orang (parasit), coklat ini lumayan sering diminta-minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu lambang di dada pria yang sedang terbang pada kemasan tersebut adalah logo khas superman, tetapi sekarang sudah menjadi gambar bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uueKxQdmI/AAAAAAAAACI/iFAF2Xhp1IQ/s1600-h/ATT00122.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168916830648039010" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uueKxQdmI/AAAAAAAAACI/iFAF2Xhp1IQ/s400/ATT00122.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uujaxQdnI/AAAAAAAAACQ/oMnV-qs98bk/s1600-h/ATT00125.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168916920842352242" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uujaxQdnI/AAAAAAAAACQ/oMnV-qs98bk/s400/ATT00125.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;COKELAT AYAM &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal cepek / Rp.100 (jaman dulu mayan mahal tuh cepek), kamu bisa dapet 1 buah coklat ayam ini. Bungkus coklat ini terbuat dari kertas putih cap ayam yg alus, dan begitu dibuka, ada sebuah coklat mini yg masih dibungkus aluminium foil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coklatnya empuk-empuk enak gitu pas digigit, terus abis makan ini mendingan jgn kebanyakan senyum ke cewe deh, soalnya di gigi kamu pasti ada coklat-coklat yg masih sisa nempel. Karena coklat ini sudah aga susah untuk di temukan, coklat ini lumayan sering jadi PR oleh para seniornya bagi anak anak yang lagi ikut MOS (Masa Orientasi Siswa) dan Penataran bagi siswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uuqaxQdoI/AAAAAAAAACY/r36WdkLL3vE/s1600-h/ATT00128.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168917041101436546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uuqaxQdoI/AAAAAAAAACY/r36WdkLL3vE/s400/ATT00128.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANAK MAS &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap guru di sekolah pasti punya anak mas. Tapi murid-muridnya jg ga mau kalah, mereka juga jadi beli anak mas juga...(ga jelas abis uhuhuh). Beli dikantin, harganya sekitar 300-600 perak, lalu kamu buka bungkusnya, tuang bumbunya, terus kocok-kocok sambil bunyi *kresek *kresek gitu, abis itu dimakan...ehmm..enak. Gurih-gurih asik gitu. Makannya bisa langsung dari bungkusnya ditegak gitu, ato pake tangan. Enaknya pake tangan, abis makan itunya, kamu masih bisa jilat-jilat jari kamu yg masih ada rasa bumbu gurihnya itu. Tapi jgn kebanyakan makan bumbunya doang, soalnya konon, menurut guru dan orang tua, mereka sering ga ngasih anaknya makan ginian, soalnya mengandung banyak glutamat / mecin, yg bisa bikin kamu jadi lemot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesuai tulisan yang ada di bungkusnya, Anak Mas sangat cocok untuk santai, piknik dan acara ulang tahun. Wah, kalo kalian berulang tahun bisa tuh undang temen temen kalian ke rumah dan makan Anak Mas bersama-sama .. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tambahan.&lt;br /&gt;eh kalo ngga salah ada "MAMI" juga yah?kaya anak mas gitu deh...sayang tidak ada gambarnya.&lt;br /&gt;enak juga tuh, trus kalo kebanyakan makan pake bumbunya juga bs bikin bego huehehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uuuaxQdpI/AAAAAAAAACg/OjVShtvicp0/s1600-h/ATT00131.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168917109820913298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7uuuaxQdpI/AAAAAAAAACg/OjVShtvicp0/s400/ATT00131.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MR SARMENTO &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permen rasa Sarsaparilla. Entah apapun Sarsaparilla itu tetapi permen ini cukup dinikmati kita saat kita masih SD. Iklannya pun sempet sering banget diputar di tivi.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Sumber: anonim, dari email di milis. &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-4668488809562919813?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/4668488809562919813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=4668488809562919813' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/4668488809562919813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/4668488809562919813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2008/02/memory-jajanan-jaman-dulu.html' title='Memory - Jajanan jaman dulu'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R7ut2axQdkI/AAAAAAAAAB4/JNhba3jRUcQ/s72-c/ATT00116.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-184781572458585764</id><published>2008-01-29T07:21:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T07:55:26.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Jangan Ngaku Loe Anak 90-an yeeeee (jusT MemoriZe Our Childhood)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Artikel ini saya dapat di email kiriman salah satu teman, hehe karena merasa bagian dari era 80-90'an jadi ikut hanyut terbawa emosi dengan apa yang ditulis tanpa nama ini, terima kasih untuk penulis si "tanpa nama" yang sudah bersusah payah me-list kembali apa yang pernah terjadi di tahun 80-90'an. mmm...semacam nostalgia dari kenangan masa lalu yang manis dari arus trend, lifestyle, dan perilaku saat itu. membuat kita senyum-senyum kecil mengingat kala itu, dan berpikir dimana teman-teman kecil kita dulu, ingin rasanya berkumpul dan berbagi cerita lagi. (gunawan) &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;***&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;Terinspirasi dengan artikel yang gue baca di Kompas edisi Minggu, 2 Desember 2007 mengenai komunitas 80an dan hal-hal yang ngetrend di thn 80an, maka gue dan beberapa temen-temen gue di kampus yg ngerasa anak tahun 90an gak mau kalah ama pendahulu2 dan dengan gagah berani membuat list hal-hal yang sempet (atau mngkin masih) ngetrend di tahun 90an. List ini dibuat secara acak dengan tidak berdasarkan urutan (iya laaah, gue ga sgitu nganggurnya ampe diurutin segala)..Gue dan tmen2 gue brani mengKLAIM, bahwa kalo lo yg baca, ngerasa ga pernah tahu atau ga pernah ngelakuin hal-hal di list maka jgn ngaku2 anak tahun 90an!!..&lt;br /&gt;Berikut daftarnya..enjoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make sepatu ala ABRI merek Dok Mart (katanya kependekan dari Dokter Marten, wakakak, sapenye Roy Marten niih)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make wardrobe merek ALIEN WORKSHOP (yoiii, sape yg ga tau merk ini)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjadi Korban Celana Bergaris (KCB) merek MAMBO &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Punya koleksi Lengkap Grifone&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngumpulin hal2 yg berbau Fido Dido&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen In-Line Skate (roller blade) di senayan atau mentok2 di depan rumah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli dan make sepatu Reebok PUMP (pompa truuuuusss.. .)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga lupa beli juga sepatu La Gear Light (masi inget nyala lampunya doonk,,wakakaka)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Motong rambut dengan model SKIN DALEM&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yg cewek ga mau kalah, minta dipotong ala DEMI MOORE (hahahahaha)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yg kurang suka skin dalem, bisa minta ala Jambul Tin Tin&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngabisin koinan buat maen DingDong&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga ada duit buat ding dong? Gampaaaang, maen ajha GIMBOT yg diiket pake tali yg maennya sambil jongkok (kl waktunya abis, tuh tali ditarik ama abang2nya..wakakaka )&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make jam jengkol merek POP SWATCH (ingeeet ga? Jam yang gedenya amit2 dan bisa di cantelin di kaos)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nongkrong di Parkit&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngumpulin stiker PANINI (hahahah, PANINI gauuul bgt jaman itu)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngoleksi Kartu Basket (Michael Jordan paling dcari jaman itu,,hehehehe)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngoleksi Kartu Dragon Ball (ada yg hologram, ada yg Double)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yg cewek ngoleksi dan tuker2 an stiker luthu-luthu (ada yg bludru juga looow..gosipnya kalo warna atas dan bawah sama berarti ASLI..hahahaha, urban legend!)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yg cewek juga maen org2an dari kertas, yang bisa diganti2 bajunya (dari kertas juga) yg dijual di abang2.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Blom bisa nyetir?? Gampang, maen TAYIMA ajha.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Makan ANAK MAS&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli COKLAT AYAM&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Makan permen karet YOSAN, skalian ngumpulin huruf2nya Y- O – S – A – N (tp yg "N" susyeee bner dapetnya..lupa diproduksi kaliiie yeee)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Makan JAGOAN NEON biar lidahnya berubah warna&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli sablonan ADIDAS dll buat di sablon di tas, clana, dll&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga pnah ngelewatin SI DOEL ANAK SEKOLAHAN (pa kabar ye zaenab ama sarah)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nonton kartun Remi, Lika Liku Laki-Laki, Gara-Gara, pake kacamata 3 Dimensi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Stelah era alien berlalu gantian Pake baju ala POINT BREAK (stussy, mossimo, billabong, dll) &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bangga make tas tipis merk ALPINA&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli GULALI yg bisa dibentuk macem2, yg warnanya ijo ama merah (paling seneng beli yg bisa di smpriiit..sambil makan sambil priiiiit)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nonton KOTARO MINAMI jadi Ksatria Baja Hitam dan DORAEMON&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berharap di Indonesia ada acara kaya TV Champion dan Takeshi Castle&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penggemar setia AIRWOLF, KNIGHT RIDER, dan the legend MACGYVER&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Biar di bilang anak gaul maka mesti ngikutin and apal nama2 tokoh di BEVERLY HILLS dan MELROSE PLACE&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;SLANK dan DEWA 19 baru2 aje nongol (hahahaha, dhani, dhani, liat lo masa lalu, cupuuu bgt,,skarang ngocol bner bang!!)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli topi mesti 8 JAHITAN, ga kurang ga lebih, kalo nggak PALSU!&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nyolongin resleting YKK atau ALPINA buat jadiin gelang or kalung&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli Tas Pinggang (wakakak, skarang kaya tukang kredit ajeee,,)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bela2in nonton NKOTB (New Kids on The Block)...Jordaaaan I Love UUU..!!&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga ada HP?? Gampannng, kak ada PAGER! (nusalink?nusapage? sama ajeee..sama2 ngobrol dulu ama mbak2 operatornya. .hahahaha)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ctak Ctuk pake TUTUP GATORADE&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga mau rugi nelpon? Pake ajha KOIN GANTUNG&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Biar ga cupu, mesti milih aliran musik, PUNK, GRINDCORE, atau GRUNGE&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beralih ke SKA atau BRITPOP&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mantengin KUIS KELUARGA LIFEBUOY bersama Cathyyyyy Boooooon (wakakaka, kmana ya skarang tuh orang?? Masi suka ngeBON ga yaa??)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nonton Tak Tik Boom ama bang dede yusup&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berusaha keras nelp biar bisa ikutan kuis JARI JARI (baca: jareee jareeeeee) &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mau bisa bhs Inggris?gampang, ada SESAME STREET&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rambut ala STOCK ON YOU&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abis Ebta/Ebtanas ga bisa pulang gara2 kejebak KERUSUHAN MEI&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngumpulin TAZOS (bner ga niy nulisnya??) dari Chiki, dkk&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mc Hammer dan Vanilla Ice lagi hit bangetttzs&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;ayo sukseskan GN-OTA (tau dooonk kepanjangannya)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedih, gara2 TIMOR TIMUR lepas dari RI&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;MOBNAS TIMOR diluncurin&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dulu2an NgeMALL ke mall yg baru buka, PIM dan PS..(hahahaha, disinilah bibit2 anak gaul bermula guys..)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mau daftar jadi KAMRA (keamanan rakyat)..wakakakaka ,,,&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mlihara binatang/Bayi ala TAMAGOTCHI&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen MORTAL KOMBAT , STREET FIGHTER, KONTRA, DOUBLE DRAGON&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nyanyiin lagu BU SAID keras dan semangat di skolaan (tau dooonk,,,"di siniii rumah bu saaiiiid (**L)..bu saiiid jualan blangkon (**L)..wakakakakak)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nonton pilem di LASER DISC (CD ukuran Obesitas.,.pantesan ajha jaman dulu ga ada yg bawa bokep ke skolahaaannn. .gampang bner ktawannya..hahahaha )&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make NECKERMAN or CARVILL&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Deg2an nonton SUSI SUSANTI, ALAN BUDIKUSUMA, HARIYANTO "smash 100watt" ARBI, dan RICKY-REXI &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;ngikutin pilem SI MANIS JEMBATAN ANCOL (si manis, suit suit, seksi bneeer kamuuu)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;RIA ENES-SUSAN lg sering nongol di tivi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di saingi oleh duet BONDAN PRAKOSO-ENNO LERIAN&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bibit sinetron baru2 aje muncul, kaya ABAD 21, BELLA VISTA, NOKTAH MERAH PERKAWINAN, (inilah cikal bakal penghancur bangsa,,wekekekek)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;AMKM (anda meminta kami memutar) di TPI lg hot2nya&lt;br /&gt;(duuuh, jeng rina gunawan, masyii kuruuuus bgt looow)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ga bisa kluar rumah? Gampaaaaaang, blanja ajha lewat TV MEDIA (masi inget smart-mob, pisau GINSU, ABDOMINIZER, AURY???) wakakakakaak&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make jam G-SHOCK&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngikutin WILD ROSE (Rosaaaa, pantate,,,montoook) ..wakakakakak, telenopela&lt;br /&gt;pertamaaaa tuuuh...pada kmana ya telenovela ??mending itu deh drpd sinetron jaman skarang,,,helllo para produserr, siarin lg duuunk tele nopela (maria mercedes, dkk)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make Rautan Kaca di spatu buat ngintip&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jam 7malem dan Jam 9 malem mesti nonton DUNIA&lt;br /&gt;DALAM BERITA&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jokes uang GOPEK versi gambar MONYET (tante, Iwannya ada??...ooow, ada di belakang, kamu ke blakang ajha...!)..basii bgt tuh jokeeee,,tp okelah jaman itu..&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen tebak2an pake BUKU ASBAK &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mesti ngapalin RPUL – RPAL – BUKU PINTAR&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalo 80an punya speda bmx, 90an punya FEDERAL..canggiiih. .&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Make kalimat "E GE PE" (emang gue pikirin...!! ....yaa ga usa dipikirin) &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sering ngomong "TAU AAAH, GELAAAAP"..( hahaha, memang jaman kegelapan tuh 90an)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dapet salam dari EKO...(eko siapa??)..EEEE, KOOK LOYOOO!!!!.. .(hahahahaha)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngikutin kata-kata iklan "SAYA MAU YANG PALIING ENAAAAK"&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Iklan juga " AAAAHH, TEORRRRIII" &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Godain mbak2 penjaga tol dengan ngomong "XON-C nya MANAAAA????"&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen "DONAL BEBEK, MUNDUR 3 LANGKAH"&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngata-ngatain temen dengan nama BAPAKnya..(kalo uda parah, nama ibu juga ikutan...wakakaka, ga jelaaas bgt)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sering ngomong "DI, DI, YUK MAEN BOLA LAGI "..(hahahah, gue bertanya2, yg jadi ADI sang EPILEPSI tuh sapeee yeee?? Ada yg tauuu??)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen GIMBOT yg bisa ngomong "BEGO LO!... OKE JUGA LO"&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maen TANK BAJA (kedua tangan kita digabung ama tangan temen kta, trus disilangin.. misiii, tank mau lewaaaat)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar gitar pake MBS&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Si KOMO bikin macet jakarta (lebih dulu daripada busway tuh)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;COBOY, COOL COLOR, ME lg naek daooon&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngerap bareng IWA K dan DENADA&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ngoleksi komik CANDY-CANDY &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yg cowok baca KUNG FU BOY dan DRAGON BALL&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beli penghapusan bentuk huruf2 yg atasnya ijo and berbau wangi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yayuk Basuki lg Ngetreend&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengganti warkop? Ya PADHYANGAN PROJECT&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dapet maenan SMURF dari restoran2 gauul&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nyoba makan di tempat baru bernama PIZZA HUT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;Demikian list yg gue dan temen2 buat..Kalo ada yg ga stuju atau justru mau nambahin, silakan ajhaaa loooww...List ini ga ada maksud apapun, Cuma buat mengenang masa2 90an ajeee...btw, gue tadi search di GOOGLE ternyata blom ada lho komunitas 90an..ada yg mau buat?? Gue ngacung jadi anggota pertama..hehehehehe ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps: email ini boleh di edit, di hapus, dan juga di forward..E GEEE PEEEE..!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;thq,&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-184781572458585764?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/184781572458585764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=184781572458585764' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/184781572458585764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/184781572458585764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2008/01/jangan-ngaku-loe-anak-90-yeeeee-just.html' title='Jangan Ngaku Loe Anak 90-an yeeeee (jusT MemoriZe Our Childhood)'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-8964400775534638350</id><published>2008-01-08T07:35:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:43:55.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen: Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4LMXBA_DFI/AAAAAAAAABg/opkUzkfJw9Q/s1600-h/IMGP8341.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152905619446893650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4LMXBA_DFI/AAAAAAAAABg/opkUzkfJw9Q/s400/IMGP8341.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Gambar 1.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4LMPBA_DEI/AAAAAAAAABY/SSSztBenX2I/s1600-h/IMGP8344.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152905482007940162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4LMPBA_DEI/AAAAAAAAABY/SSSztBenX2I/s400/IMGP8344.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;strong&gt;Gambar 2. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Photo by Bowo&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka Ada Di Jalan&lt;br /&gt;Lagu Iwan Fals ( Album Belum Ada Judul 1992 )&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Pukul tiga sore hari Di jalan yang belum jadi&lt;br /&gt;Aku melihat anak anak kecil&lt;br /&gt;Telanjang dada telanjang kakiAsik mengejar bola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhampiri kudekati&lt;br /&gt;Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi&lt;br /&gt;Agar lebih jelas lihat dan rasakan&lt;br /&gt;Semangat mereka keringat merekaDalam memenangkan permainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramang kecil Kadir kecil Menggiring bola di jalanan&lt;br /&gt;Ruli kecil Riki kecil Lika liku jebolkan gawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang gawang puing puing&lt;br /&gt;Sisa bangunan yang tergusur&lt;br /&gt;Tanah lapang hanya tinggal cerita&lt;br /&gt;Yang nampak mata hanyaPara pembual saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kota tak mampu beli sepatu&lt;br /&gt;Anak kota tak punya tanah lapang&lt;br /&gt;Sepak bola menjadi barang yang mahal&lt;br /&gt;Milik mereka yang punya uang saja&lt;br /&gt;Dan sementara kita disini di jalan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola kaki dari plastik Ditendang mampir ke langit&lt;br /&gt;Pecahlah sudah kaca jendela hati&lt;br /&gt;Sebab terkena bolaTentu bukan salah mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roni kecil Heri kecil Gaya samba sodorkan bola&lt;br /&gt;Nobon kecil Juki kecil Jegal lawan amankan gawang&lt;br /&gt;Cipto kecil Suwadi kecil Tak tik tik tak terinjak paku&lt;br /&gt;Yudo kecil Paslah kecil Terkam bola jatuh menangis...&lt;br /&gt;***&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Permainan ini sudah lama sekali ada di Indonesia, sejak jaman Belanda, di kampung-kampung di kota-kota besar, orang-orang terutama laki-laki begitu menggandrungi permainan ini. Pada tahun 1930-an PSSI (persatuan sepak seluruh Indonesia) berdiri, sebagai wadah yang menaungi dan mengurus dunia sepak Indonesia yang pernah berhasil membawa wajah Indonesia kepada Dunia bahwa Sepak Bola juga digandrungi di negeri ini. Lapangan Ikada (sekarang Monas) sebagai saksi bisu bahwa beberapa klub di berbagai Negara pernah berlaga disana. Aku tidak tahu apakah jaman kerajaan lampau sepak bola telah popular di masing-masing daerah saat itu, tidak perduli, yang jelas ketika aku kecil aku mulai jatuh cinta dengan permainan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat masa kecilku saat itu, hampir setiap hari aku bersama teman sebaya bermain sepak bola di tanah pekuburan Blok P (sekarang menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan) dekat rumah. Lingkungan kami tinggal memang tidak memiliki tanah lapang, yang ada hanyalah tanah sepetak dari halaman tanah pekuburan Kristen. Aku sering bermain bersama teman kecilku di kuburan itu. Kuburan Kristen didekat rumahku memang kuburan yang cukup nyaman untuk bermain, bahkan bisa dibilang layaknya taman. Lingkungannya bersih karena sering dibersihkan oleh tukang bersih kuburan. Kuburannya banyak yang disemen atau dibentuk seperti rumah dengan halaman yang berumput. makanya kami betah bermain disana. Petak umpet, dor nama, petasan, layangan, tembak-tembakan, dan sepak bola. Tidak ada rasa takut sedikit pun dalam diriku saat itu. Mungkin karena sudah biasa. Tapi sejak menonton film-film Suzanna rasa kecut mulai hinggap kala malam tiba bila melewati kuburan itu, sial!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu tahun 1990-an, aku duduk di kelas 4 sekolah dasar. Tubuh sedang lincahnya untuk bermain dan berlari. Disekolah bermain galasin, dampu, benteng, batu tujuh, gundu (kelereng) juga sepak bola plastik. Menjelang bulan puasa, biasanya permainan fisik berkurang mengingat aku muslim yang sedang belajar berpuasa. Pelariannya adalah membeli mainan atau komik petruk dari &lt;em&gt;abang-abang&lt;/em&gt; tukang mainan yang suka berkumpul di depan gerbang sekolah. Mainan atau komik itu aku beli dari hasil uang jajan yang aku kumpulkan setiap hari. Uang jajan Rp. 300,- perak dari ibu, aku sisihkan Rp. 200,- dan Rp. 100,- untuk jajan. Saat itu Rp. 50,- rupiah masih bisa membeli tempe goreng ukuran besar dengan bumbu saus botol tomat, tinggal sisanya membeli segelas es limun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Mengingat tentang sepak bola di sekolah dasar saat itu menarik juga, bola plastik yang dibawa salah seorang teman kami mainkan bersama-sama. Tidak perduli dengan halaman sekolah yang kecil, resikonya adalah tembok sekolah banyak meninggalkan bekas bola dan keadaan semakin gaduh kala bola mengenai tembok ataupun bola masuk ke gawang. Pada akhirnya Pak Wardjo, wali kelasku di SD Pulo 08 Petang Jakarta, datang mengampiri dengan tenangnya. Meminta bola plastik yang dimainkan teman-teman, salah satu teman memberi bola yang dimintanya. Ketika bola dipegangnya, dari balik saku baju dikeluarkan pisau lipat ala McGyver, lalu, Jusssss....! bola dibelah dua. Kami mengerti maksudnya, dan cuma senyum kecut menatapnya. Saat itu aku telah menginjak kelas 6 SD, dimana Iwan Karo-karo, Robby Darwis sedang aktif membela klubnya masing-masing di Liga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dari kejadian itu tidak membuat kami menjadi trauma bahkan justru cinta. Pulang sekolah, sore hari, aku bersama teman lingkungan rumah berkumpul, salah satu teman membeli bola plastik di warung kelontong dari hasil patungan uang jajan kami. Kami berangkat menuju tanah lapang sebuah halaman kuburan Kristen. Tanah lapang itu kami rombak menjadi lapangan sepak bola. Kami buatkan gawang, kerja bakti membersihkan lapangan dari batu dan beling kaca, serta kami buatkan garis lapangan, yang sulit adalah sebuah pohon besar berada dilapangan dekat gawang. Jadi lucunya, kalau membawa bola mendekati gawang lawan harus berputar dulu mengitari pohon. Tapi akhirnya lama-lama pohon itu menyerah, beberapa lama kemudian pohon penghalang itu sudah tidak ada lagi. Kasian juga dia, habitat hidupnya tersingkir. Tapi kami malah makin giat bermain bola disana. Tidak perduli dengan cuaca cerah ataupun hujan lebat. Kami tetap bermain, bahkan semakin seru. Penghenti waktunya adalah azan magrib. Sudah waktunya pulang, sisanya tinggal dimarahi ibu habis-habisan karena baju dan celana kami begitu kotor. Akhirnya aku dan adikku dihukum mencuci sendiri baju yang kotor tersebut. Saat itu aku sudah menginjak di bangku SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, permainan malah dibuat seru dengan adanya taruhan. Tapi bukan uang layaknya penjudi, hanya hadiah berupa, “siapa tim yang kalah harus membeli 2 liter minuman coca cola atau fanta dengan batu es yang akan kami minum sama-sama”, hanya untuk menambah semangat. Terbukti, permainan kami semakin bergairah. Bahkan saking bergairahnya, kami hampir mau berseteru dengan kampung sebelah hanya karena berebut tanah lapang. Tapi karena merasa punya etika, ego coba ditahan. Waktu bermain dibagi menjadi dua. Dalam seminggu kedua kampung membuat jadwal bermain, yang penting hobi terus tersalurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tahun 1995 aku menginjak bangku SMU, usiaku 17 tahun. Saat itu aku tergolong tua untuk ukuran teman sebayaku. Maklum, orang tua jaman dulu dikampung baru menyekolahkan anaknya pada usia 7 atau 8 tahun di bangku sekolah dasar. Anehnya, pihak sekolah membolehkan calon muridnya belajar disekolahnya dengan syarat: “kalau tanganmu dapat menyentuh telinga sendiri melewati kepala, kamu baru bisa sekolah”. Sebuah kepercayaan yang tidak masuk akal. Apa hal itu dialami oleh kalian? Aku yakin saat ini peraturan itu sudah tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Masa SMU memang masa yang paling menggairahkan. Pertumbuhan fisik, reaki kimia dalam tubuh, diikuti perubahan suara dari tenor menjadi bass, semua terjadi secara alamiah dan kodrat yang patut disyukuri. Perubahan lingkungan baru dan pertemanan merubah cara pandangku dalam menjalani proses hidup yang masih labil. Semua adalah teka teki atau puzzle yang musti dijalani tanpa harus dipecahkan, dan sepak bola menjadi penyambung kehidupanku yang tidak pernah lepas hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntungnya aku duduk dikelas satu yang memiliki banyak teman dengan hobi yang sama: sepak bola. Dimulai dengan saling membela klub dunia baik liga Inggris, Italy atau Jerman hingga latihan bola bersama di tanah lapang kosong daerah elit Pondok Indah sampai Bintaro. Ternyata virus ini juga menyebar pada kelas-kelas yang lain. Kami saling beradu laga dengan kelas-kelas yang lain. Bahkan disekolah diadakan kompetisi sepak bola setiap jam istirahat. Tidak sia-sia, tim kami selalu menang. Kenangan itu masih kuingat saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung adalah pengalaman puncak bagi orang yang keluarganya hanya berpendapatan pas-pasan macam diriku. Setiap ivent olahraga aku selalu terlibat didalamnya. Baik menjadi panitia logistik atau turut serta berlaga. Lucunya, dikampusku kami membentuk tim dengan nama yang aneh-aneh: milisi pletok, muka jelekus, semut-semut merah yang berbaris di dinding, peredam kejut (nama lain dari shock breaker yang terdapat di kendaraan bermotor, red), meong, topi miring, dan masih banyak lagi. Sementara timku bernama “breyek” dengan alasan layaknya humas klub profesional, “kami nggak pake teknik skill, setiap ada bola, seluruh pemain langsung breyek (kumpul berebut bola, kaya ayam dikasih makan!)”. Dalam pertandingan ini, seluruh harga diri dipertaruhkan karena ini adalah pertarungan laga se-fakultas. Buktinya, kami kalah dan harga diri cuma mitos, yang penting adalah berapa harga nasi sepiring di warung itu, di restoran ini hehe, maklum anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fiuh, nggak nyangka melamun soal bola mulai dari kecil sampai tua segini panjangnya. Toh, juga saat ini aku bukan menjadi pemain sepak bola professional layaknya Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwiyulianto, atau sekaliber kelas dunia seperti David Beckam atau si “tonggos” Ronaldinhio. Hanya hobi masih mengalir di jiwa (cieh..), atau alasan lain, “olahraga dong biar nggak cepat terserang osteoporosis..!,” dan aku masih menekuni saat ini dengan bermain FUTSAL. Bravo sepak bola Indonesia, semangat! Kapan berlaga di Piala Dunia? (Au ah gelap…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Gunawan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Warung Buncit, 7 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Malam-malam di kamar ditemani secangkir kopi jahe, rokok sebatang dan lagu manis dari Jhon Mayer.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-8964400775534638350?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/8964400775534638350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=8964400775534638350' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/8964400775534638350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/8964400775534638350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2008/01/cerpen-sepak-bola.html' title='Cerpen: Sepak Bola'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4LMXBA_DFI/AAAAAAAAABg/opkUzkfJw9Q/s72-c/IMGP8341.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-5209550882580450498</id><published>2007-11-10T14:37:00.001+07:00</published><updated>2008-01-10T02:38:19.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Keberaksaraan: Pustakawan Bukan Sekadar Penjaga Buku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jakarta, kompas - Perpustakaan telah berkembang konsepnya tak lagi sekadar merupakan rak dengan jajaran buku, melainkan sebagai resources center atau sumber daya informasi. Karena itu, tenaga pustakawan juga harus semakin kompeten, bukan sekadar penjaga buku. Fuad Gani, Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), mengatakan, Senin (22/10) di Jakarta, seiring dengan disahkannya undang-undang tentang perpustakaan baru-baru ini yang bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan, pustakawan semakin dibutuhkan, terutama untuk perpustakaan publik dan sekolah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan kemampuan masyarakat maupun pustakawan dalam mengembangkan perpustakaan sebagai sumber daya informasi, departemen ini memiliki center for information studies. Lembaga ini merupakan bagian dari unit ventura untuk jasa pelayanan masyarakat. Pihak UI sering bekerja sama dengan berbagai lembaga lain untuk memberikan pelayanan pelatihan perpustakaan kepada masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan dewasa ini, para pustakawan pun dibutuhkan keluarga-keluarga. Tumbuhnya minat pribadi atau keluarga menghadirkan perpustakaan di rumah membuka peluang bagi para pustakawan ini untuk melayani dan mengedukasi masyarakat guna memanfaatkan perpustakaan yang sederhana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Mereka yang punya perpustakaan di rumah terkadang tidak mengerti bagaimana mengelola perpustakaan yang bisa memudahkan mereka untuk memanfaatkan koleksi yang ada. Pemilik ada yang merasa butuh bantuan ahli sehingga buku-buku bisa mudah dicari saat dibutuhkan," ujar Edi Dimyati, pustakawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang sering diminta mengelola perpustakaan keluarga. Gunawan, pustakawan lainnya, mengatakan, pengelolaan perpustakaan di rumah biasanya dilakukan dengan sederhana. Koleksi buku yang ada dikategorikan sesuai subyeknya. (ELN/INE) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kompas/Kamis, 25 Oktober 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-5209550882580450498?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/5209550882580450498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=5209550882580450498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/5209550882580450498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/5209550882580450498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/11/keberaksaraan-pustakawan-bukan-sekadar.html' title='Keberaksaraan: Pustakawan Bukan Sekadar Penjaga Buku'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-4729666642789118401</id><published>2007-11-10T14:37:00.000+07:00</published><updated>2007-11-10T15:13:35.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Baca Buku atau Browsing?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di tengah-tengah kesibukannya bekerja sebagai programmer televisi berlangganan, Sandar Muchlis, 24 tahun, juga disibukkan dengan tesisnya. Setiap hari, ia terbiasa mencari bahan tugas kuliah dan tesis di internet. Meski lebih banyak menggunakannya untuk chatting (mengobrol) di layanan pesan singkat, namun sejak SMA Sandar sudah menyadari manfaat internet sebagai sumber informasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Browsing di internet lebih gampang karena google mencari apa yang saya mau. Memang tidak mendalam. Makanya saya lengkapi dengan membaca buku-buku teks," kata Sandar yang juga mahasiswa pascasarjana Universitas Bina Nusantara jurusan strategic marketing.&lt;br /&gt;Manfaat internet sebagai alternatif sumber informasi sangat dipahami Emi Agustia, 24 tahun, mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia jurursan Manajemen Komunikasi. Setiap membuat tugas, Emi selalu memanfaatkan internet untuk mencari bahan-bahan. "Di internet lebih up date, apalagi tentang kasus-kasus, lebih mudah cari di sana," ujar perempuan berjilbab ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Emi juga mengaku perpustakaan di kampusnya cukup lengkap, utamanya buku-buku teks. Hanya saja, hanay buku tertentu yang bisa dipinjam. Untuk buku terbaru, biasanya hanya bisa dibaca di perpustakaan. "Padahal kan butuh waktu untuk membacanya, apalagi kalau masih dalam Bahasa Inggris. Biar gampang, lihat saja judul dan daftar isinya, nanti dilengkapi di internet," papar Emi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gunawan, 28 tahun, pustakawan di Alliance Geotech, tak semua mahasiswa yang datang ke perpustakaan bertujuan membaca atau mencari bahan tugas. Sebelum di tempat sekarang, Gunawan pernah bekerja di perpustakaan Universitas Paramadina. "Karena ada beberapa komputer yang sudah online, mahasiswa datang ke perpustakaan untuk browsing atau nge-print tugas," katanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, lanjut Gunawan, kebiasaan meminjam buku teks ditentukan oleh jurusan mahasiswa yang bersangkutan. Semakin banyak bersentuhan dengan teori, semakin aktif mahasiswanya meminjam buku. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan filsafat lebih aktif membaca dan meminjam buku dibanding mahasiswa jurusan komunikasi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengamatan Jumala, 24 tahun, pustakawan Joseph Wibowo Center (JWC) Universitas Bina Nusantara, mahasiswa S1 lebih senang membaca majalah daripada buku teks. Sedang mahasiswa S2 seringnya mengerjakan tesis, tugas, ataupun baca buku teks.&lt;br /&gt;Fasilitas yang ada di JWC sebenarnya cukup nyaman, ruangannya berukuran 22x13 meter, dilengkapi sofa yang empuk, penyejuk ruangan, dan pemandangan ke arah pusat perbelanjaan. "Jumlah mahasiswa yang datang ke perpustakaan termasuk banyak. Tapi yang menimjam buku paling hanya separuhnya," ujar Jumala yang akrab disapa Lala. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Gunawan mengatakan, seharusnya bahan di buku teks dan internet bisa saling melengkapi. "Tergantung mahasiswanya melek informasi atau tidak. Mereka bisa saja mencari judul-judul buku di internet, tapi karena tak bisa ditampilkan, ya carilah diperpustakaan. Begitu juga sebaliknya." (Ika Karlina Idris)&lt;br /&gt;Sumber: Jurnal Nasional/Rabu, 07 Nov 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-4729666642789118401?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/4729666642789118401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=4729666642789118401' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/4729666642789118401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/4729666642789118401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/11/baca-buku-atau-browsing.html' title='Baca Buku atau Browsing?'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-2693004241550047290</id><published>2007-06-12T16:42:00.000+07:00</published><updated>2007-11-10T14:38:02.796+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen: Pedestrian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/Rm5vmt5LL8I/AAAAAAAAAAo/D5Qhb4qK_DI/s1600-h/pedestrian.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075116541038243778" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/Rm5vmt5LL8I/AAAAAAAAAAo/D5Qhb4qK_DI/s200/pedestrian.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:180%;" &gt;Pedestrian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Oleh: Gunawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Menurut teman kuliahku dulu yang bernama Pitra, pedestrian artinya pejalan kaki kota. Setelah kulihat akhir-akhir ini, menurut kamus bahasa, pedestrian adalah berupa kata benda yang artinya pejalan kaki. Aku lebih setuju dengan definisi ini bahwa pedestrian hanya berarti pejalan kaki saja tanpa perlu menambahkan dengan embel-embel keterangan tempat. Dikota, didesa, dikampung-kampung, digunung, dipesisir pantai, dipedalaman, dilembah-lembah, dihutan belantara, dimanapun dia tetaplah seorang pedestrian tanpa perlu lagi mengkotak-kotakan tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pedestrian sejati tidak akan memilih-memilih tempat dimana bumi sebagai pijakannya. Dimana pun ada jalan walau hanya jalan setapak akan dia lewati. Pun kalau terpaksa, ia akan membuat atau membuka jalan baru demi tujuannya, seperti yang dilakukan para pendaki gunung atau penjelajah hutan belantara. Karena bagiku seorang pedestrian adalah “Seorang Pembuka Harapan”. Seperti pepatah bijak dari negeri Cina tentang “Harapan”:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Harapan itu seperti jalan setapak yang ada dipedesaan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;dahulu jalan itu belum ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Tetapi ketika orang sering melewatinya jalan pun muncul...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Aku jadi ingat tentang masa kecilku, waktu usiaku remaja saat duduk dibangku SMP. Dilingkungan rumahku, disebuah jalan umum. tempat biasa bermain bersama teman-teman kecil. Ada seorang asing yang sering kami lihat melewati jalan itu. laki-laki, berperawakan gemuk, dengan perut sedikit tambun, tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang dewasa, berambut gondrong dengan panjang sepinggang. Mengenakan kaos, bercelana pendek, bersandal jepit dan berkulit sawo matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak pernah tahu ataupun bertanya pada orang asing itu siapa namanya, berapa umurnya, asal usulnya, dan dengan tujuan apa. Kami yang kecil saat itu tidak berani. Kami hanya memperhatikan saja. Toh dia juga tidak mengganggu. Dia hanya menumpang lewat saja. Istimewanya, dia selalu menjadi perhatianku sejak kami sering melihatnya melewati jalan dilingkungan rumah dengan berjalan kaki tanpa bekal apapun dalam jalan dan waktu yang berbeda. Tidak pernah aku melihatnya menggunakan kendaraan sekalipun. bahkan meski hanya menumpang berbonceng sepeda ataupun motor kepada temannya. Tidak pernah sekalipun kulihat. Yang kulihat dia hanya berjalan kaki. Sendirian. Berjalan konstan tanpa tergesa-gesa apalagi tampak berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, laki-laki misterius itu kami juluki sebagai orang gila atau orang yang tidak waras. Teman kecilku menghakimi begitu saja laki-laki misterius itu sebagai orang gila. Aku tanya,”kenapa?”. “Tidak tahu, habis dia seperti orang aneh”, jawabnya enteng. Kalau dipikir saat ini, tega-teganya teman kecilku dulu menghakimi laki-laki misterius itu sebagai “orang gila”. Padahal tidak pernah sekalipun dia berkomunikasi pada laki-laki misterius itu hingga dia bisa menilai apa layak laki-laki misterius itu disebut “gila”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/X66uCHulqj4" width="425" height="350" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Maklum kami masih kecil saat itu, tidak berani macam-macam pada orang dewasa yang asing apalagi perilakunya dianggap aneh. Aku sendiri tidak begitu merisaukan soal keberadaannya. Toh juga dijalan umum itu pernah kulihat beberapa perilaku aneh orang-orang gila. Contohnya, ada laki-laki yang tingkahnya seperti pengendara mobil. Dia berlari kesana kemari bahkan berzig-zag ditengah jalan. Hebatnya dia membawa setir mobil sungguhan. Didapat darimana aku tidak tahu. Dengan setir mobilnya dia pancangkan dihadapan wajahnya. Wajahnya serius. Sambil meniru suara mobil yang menderu dia berlari kesana kemari bak seorang pembalap. Ini jadi pemandangan yang lucu bagi orang-orang disekitarnya. Sampai diperempatan jalan raya dimana banyak kendaraan berlalu lalang dia diam berdiri. Tiba-tiba perilakunya berubah lagi. Kali ini dia berlagak seperti polantas. Mengatur lalu lintas di jalan itu. orang-orang hanya tersenyum-senyum saja melihat tingkahnya. Kami menjulukinya dia “gila mobil”.&lt;br /&gt;Lalu ada lagi yang “gila Inggris”. Laki-laki juga. Orang gila yang satu ini duduk sambil mengoceh kepada siapa saja yang lewat dengan bahasa Inggris. Aku jadi tergelak lucu dibuatnya. Karena ketika aku lewat diatas sepedaku. Ia mengoceh dengan bahasa Inggris yang tidak karuan bahkan terdengar tidak jelas. Meskipun kemampuan bahasa Inggrisku masih pas-pasan aku jadi merasa lucu dibuatnya. Sebab dia memang mengoceh sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi orang gila lainnya yang tidak kalah gilanya. Kali ini perempuan. Pagi itu Dia memasuki kawasan perkampungan kami. Bertelanjang bulat. Orang-orang pun heboh. Lalu salah satu warga mengusulkan untuk memberinya pakaian. Akhirnya kami coba usul itu. ketika pakaian bekas itu diberikan untuk menutupi tubuhnya. Dia hanya melempar-lemparkannya saja ke langit. Lalu dia masuk ke kali kecil yang airnya hanya sebetis orang dewasa. Sambil berjongkok dia buang hajat dikali itu. tak lama akhirnya dia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kemudian. Dipagi hari ketika tirai teras rumahku dibuka. Ternyata orang gila itu tidur dibalai bambu rumahku. Kami kaget dan ketakutan.Aku coba untuk mengusirnya, “Hush..husss..pergi..pergi!!”. tapi dia tidak hiraukan. Yang aku takutkan dia buang hajat dibalai itu. tidak lama kemudian setelah diperiksa, benar saja. Apa yang kupikirkan terjadi. Dia telah buang hajat dibalai itu. Mungkin dia sudah menandai daerah kekuasaannya. Tapi hal itu menjijikan buat kami. Kontan saja, abangku menyuruhku untuk mengambil seember air. Bergegas aku kebelakang mengambil air. Setelah air seember diberikan ke abangku. Tanpa aba-aba lagi. Langsung air itu dibanjurkan ke orang gila yang tidur itu. dan dia pun langsung lari terbirit-birit. Kemudian yang membuatku malas, aku disuruh abangku membersihkan hajat orang gila itu. huh sial, dasar orang “gila hajat!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin, laki-laki misterius yang dinilai sebagai orang gila oleh temanku itu aku juluki sebagai orang “gila jalan” atau hanyalah seorang Pedestrian. Tapi saat itu aku mulai tidak melihatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa tahun kemudian. Aku telah duduk di bangku SMA. Sebagai seorang anak yang gemar bermain sepak bola. Aku bersama teman sekelasku bermain sepak bola dimanapun kami suka. Di halaman sekolah. Tanah lapang kosong perumahan kompleks Pondok Indah atau dimanapun. Beruntung kami memiliki tim sepak bola yang solid. Tim kami terus menang melawan kelas-kelas lain. Saat itu kami kelas satu. Hingga pada suatu hari ada tantangan bertanding dari kelas dua. Kami menyanggupinya. Dilapangan bola bintaro jaya Jakarta selatan kami bertemu. Hasilnya kami kalah. Kami akui Mereka memang lebih jago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pulang kerumah aku menumpang mobil kijang temanku. Aku duduk di kursi paling belakang yang menghadap ke samping. Ditengah perjalanan masih didaerah bintaro. Tiba-tiba, aku melihatnya lagi. Ya, si orang “gila jalan” atau si “pedestrian” itu lagi. Dia berjalan disisi dengan tenangnya. Masih dengan sosok yang sama seperti dulu ketika pertama kulihat. Aku dimobil dan dia berjalan kaki. Hendak menuju kemana aku tidak tahu. Sungguh aneh, kami bertemu lagi disitu meski tidak saling menyapa. Padahal daerah itu sangat jauh dari rumahku. Aku salut, memang dia seorang pedestrian sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lipatan waktu aku telah beranjak dewasa. Tugasku kali ini adalah menempuh kuliah di sebuah universitas negeri di Jatinangor. Sebagai seorang anak perantau yang miskin. Uang menjadi berhala yang harus dijaga. Disayang-sayang meski tidak dibelai. Segala tindakan yang berhubungan dengan uang harus diperhitungan benar masak-masak. Maklum, kiriman uang dari ibuku sangat pas-pasan. Apalagi saat itu tahun 1998. krisis mendera negeri. Orang dibuat melotot dengan kenaikan harga-harga. Aku berada pada jaman yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman uang ibu sangat aku jaga baik-baik. Aku sangat mengerti bahwa ibu bukanlah pegawai kantoran. Pekerjaannya hanyalah pedagang warung nasi dipinggir jalan yang pendapatannya tidak menentu. Jumlah tanggungannya pun banyak. Aku jadi semangkin sungkan meminta uang padanya. Makanya uang kiriman ibu yang jumlahnya tidak menentu aku peluk erat sampai jangka waktu yang tidak menentu. Pokoknya seratus ribu harus cukup dalam sebulan. Kalau pun bisa lebih lama bertahan itu sebuah prestasi.&lt;br /&gt;Bahkan aku pernah hanya mendapat sangu lima puluh ribu saja. Aku sempat kecut, “Bagaimana aku hidup dengan uang segini?”. Tapi perasaan itu melesat hilang begitu saja tanpa kupikirkan lagi, “Yang penting sampai tujuan!” pikirku. Persoalan makan cuma persoalan gali lubang tutup lubang. Mumpung masih banyak teman, kalau kepepet aku masih bisa berhutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya aku tidak sendirian. orang seperti aku juga banyak. Bahkan kami berteman akrab. Mungkin perasaan senasib meski tidak sepenanggungan. Ada yang masih aku ingat dari teman-temanku atau manusia perantauan macam aku dalam soal pola makan. Dalam hal makan, sepertinya kami mulai mengikuti pola hidup ular, “makan sekali yang banyak sesudah itu puasa”. Kami tidak mengenal pola makan tiga kali sehari. Bagiku itu sudah istimewa. Dua kali makan sehari saja sudah mujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari aku ganjal perutku dengan secangkir teh dan gorengan. Siang hari makan sebanyak-banyaknya untuk mengulur waktu dari rasa lapar. Sebatang dua batang rokok cukup membantu mengurangi rasa lapar yang kadang menggaruk. Setelah magrib baru makan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, jarang sekali aku membeli jajanan yang mahal. Dalam soal makanan, seluruhnya aku batasi harganya. Paling maksimal aku jajan hanya tiga ribu rupiah. Diatas itu aku anggap jajanan mahal dan aku hanya bisa menelan ludah melihatnya. Soal makan juga begitu. Budgetku untuk makan, paling mahal lima ribu. Seringnya aku mengeluarkan tiga ribu rupiah sekali makan. Itu sudah kelas ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung aku kuliah didaerah yang masih ada tempat-tempat makan dengan harga ekonomis. Pujasera menjadi tempat langganan kami yang berduit cekak. Lauk pauknya memang sederhana serupa dengan tampilan tempatnya. Istimewanya ditempat ini, seluruh makanan disajikan secara prasmanan. Maka setiap orang yang makan bisa menyendok nasi sebanyak-banyaknya yang ia mampu. Semuanya dihitung dengan harga murah. Tempat ini jadi surga bagi kami yang berkantong pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan aku pernah melihat kawanku yang berdarah batak saat kami makan dipujasera. Ia bernama Timmy Parulian. Yang membuat aku terkejut, nasi yang ia sendok ke dalam piringnya penuh sekali dan tinggi. Tampilannya jadi seperti nasi tumpeng di jawa dengan dua buah telur diujung sebagai lauknya. “Dahsyat, dasar perut ular”, celotehku. Sementara Timmy cuma senyum-senyum saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, ada tempat makan yang lebih ekonomis lagi dari Pujasera, kami mengenalnya warung Ibu Haji, tidak tahu nama sebenarnya dan tidak pernah mau bertanya nama pemiliknya. Kepentingan kami cuma makan. Tapi memang diakui warung Ibu Haji selalu ramai diserbu oleh mahasiswa. Bukan karena rasanya, bahkan (maaf), rasa sayurnya sangat hambar, dengan lauk pauk yang dibuat mini serta menggunakan beras yang berkualitas dua atau tiga, beras pera. Karena saking murahnya, disaat-saat kritis warung ini yang jadi penyelamat mahasiswa kelas ekonomi atau berkantong cekak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan keseharian sebagai mahasiswa perantauan. Kegiatan yang kulakukan biasa saja. Kuliah, membaca, bergaul dengan teman dan berkegiatan di kampus untuk menyibukan diri. Akhir minggu bertugas mencuci gombal dan menyetrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung sekali nilai akademisku cukup lumayan sehingga aku selalu mendapat bantuan beasiswa PPA (sampai aku lupa kepanjangan singkatan ini). Aku mendapatkannya sejak pertama kali kuliah, ini juga berkat bantuan abangku yang sudah lebih lama kuliah disana. Dia bergaul baik dengan pengurus akademik, Pak Darsim. Pria separuh baya yang berdarah sunda. Perawakannya gemuk dan pendek, dengan rambut dan kumis yang seluruhnya memutih karena usia. Tapi yang kulihat energi hidupnya terus memancar. Semangatnya tinggi dan penuh senyum. Melalui tulisan ini, aku mengucapkan terima kasih telah diberi bantuan mendapatkan beasiswa. Dan hingga akhir kuliah beasiswa itu masih kudapatkan. Setiap bulan kudapatkan bantuan sebesar 75.000,- rupiah. Lumayan bisa membeli buku dan beberapa tambahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang terbiasa susah. Segala aktivitas dilakukan dengan senang hati, termasuk ongkos transport. Menggunakan transport di Jatinangor atau di Bandung terlalu banyak menghabiskan ongkos. Sebentar-sebentar naik angkot. Untuk mencapai satu tujuan harus rela naik beberapa angkot. Karena memang kota Bandung adalah kota kecil dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Jalan-jalan rayanya kecil dan berliku-liku. Maka alat transportasi utamanya adalah angkot dengan berbagai jurusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menekan pengeluaran transport ini. Kami lebih rela berjalan kaki. Anggap saja olahraga. Sering kali jalan kaki kami lakukan setiap hari. Di Jatinangor, dari kampus menuju gerbang berjalan kaki, dari gerbang menuju kosan berjalan kaki. Begitu juga dengan Pitra, teman kampusku yang tinggal di Bandung. Dia berlaku sebagai pedestrian selama kesehariannya. Selama melakukan aktivitas di Bandung kami seringkali berjalan kaki untuk menempuh suatu jarak. Di jalan Dago, Dipati Ukur, atau sampai ke Geger Kalong. Hingga suatu kali seniorku pernah terheran-heran padaku saat dia beberapa kali melihatku berjalan kaki dengan Pitra, atau dengan temanku yang lain. Dia diangkot dan aku berjalan kaki. Lalu suatu hari di tahun 2004 aku mengusulkan suatu ide kepada Pitra, “Pit, kalau nanti kita lulus kuliah, bagaimana kalau kita jalan kaki dari Jatinangor ke Bandung? Mungkin ini sebagai nazar kita bersama. Dan Pitra bilang, “Setuju!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lulus di bulan Mei tahun 2004. Sementara Pitra belum juga lulus. Aku kembali ke Jakarta karena panggilan kerja. Sekitar Desember 2004, Pitra lulus juga dan aku masih bekerja di Jakarta. Tahun 2005 Pitra Bekerja di Jakarta tapi kami jarang bertemu. Menjelang akhir tahun 2006 Pitra mengundur diri dari pekerjaannya. Dia merasa tidak ada kemajuan dalam dirinya yang dia dapat dari pekerjaannya. Gaji yang didapat hanya habis untuk ongkos dan makan. Terakhir kulihat, tubuhnya terlihat lebih kurus. Dan awal tahun 2007 aku keluar dari pekerjaanku. Aku kehilangan status dan penghasilan meski aku memiliki banyak waktu luang untuk belajar. Suatu hari ketika aku ke Bandung dan bertemu Pitra, aku teringat dengan janji kami dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu kemudian. Jumat sore aku berangkat dari Jakarta ke Bandung untuk mewujudkan janji kami. Sebelumnya aku hubungi Pitra, Lewat pesawat telepon dia bilang, “Oke, aku siap!”, kukatakan, “Jumat malam aku sampai di Jatinagor, Sabtu kita mulai dari kampus menuju Bandung, bagaimana?”. “Setuju!” Jawabnya. Jumat malam aku tiba di Jatinangor. Aku bertemu Irfan teman kampusku juga. Kami saling bercerita tentang banyak hal. Hingga aku sampaikan niatku tentang jalan kaki ini. Nyatanya, dia bilang, “Ide yang bagus, aku ikut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, setelah azan Zhuhur kami menuju kampus untuk mengenang kembali dengan apa yang telah terjadi dan melihat apa yang telah berubah. Di sana, kami bertemu Anisa, adik angkatan yang sedang mengabdi pada kampus, mang Udin, mantan satpam kampus merangkap penjual minuman yang berpoligami. Tumpah ruah perasaan kami luapkan disana. Setelah itu kami pun berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul dua siang kami putuskan untuk memulai perjalanan dari kampus. Aku, Pitra dan Irfan. Sepanjang perjalanan kami membahas tentang berbagai hal. Menyikapi perubahan kampus. Menyikapi idealisme masing-masing diri, ego, keinginan, angan-angan, dan asa. Menumpahkan kekecewaan dan mengevaluasi kekurangan. Hingga kami sepakat untuk lebih realistis atas keadaan yang sulit. Karena masih banyak cita-cita yang belum tercapai. Ditambah dengan keinginan-keinginan baru sebagai tujuan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar kami sudah melewati jalan Ciseke, Cibeusi, Cileunyi, Jalan Raya Percobaan Cileunyi, Cinunuk, Cibiru yang merupakan batas kota dengan kabupaten, Cilengkrang, dan Ujung Berung. Sesuai dengan namanya, Jalan Ujung Berung memang jalan yang terjauh jarak rentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak realitas yang lebih tampak disini. Kegiatan kehidupan sosial dan ekonomi berlangsung disini. Segala perilaku gerak manusia sederhana tampak nyata. Kalau kata pengamat budaya, aku sedang melihat realitas sesungguhnya. Coba kau bayangkan ketika kau berada di bis atau di kereta dan melihat keluar melalui kaca jendela. Realitas begitu berjarak dan kabur. Apalagi dengan kecepatan yang kendaraan yang tinggi. Yang tampak hanyalah garis-garis kabur dari wujud realitas. Kerbau, sawah-sawah, manusia, dan pohon-pohon. Semua Cuma kumpulan garis-garis. Kalaupun kita bisa menangkap gambarnya, kita tidak bisa menangkap maknanya, apalagi mengerti apa yang terjadi sesungguhnya. Karena kita terlalu berjarak dengan mereka. Segala penafsiran dan persepsi akan muncul dengan kenyataan yang sepenggal. Dan orang akan menduga-duga dengan hipotesanya sendiri-sendiri tanpa informasi yang cukup dikepala. Itulah hidup, serba misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lanjutkan perjalanan melewati penjara Suka Miskin tempat dimana Soekarno pernah dibui oleh Belanda dulu disini. Dipenjara karena pikirannya yang revolusioner melawan penjajahan Belanda. Karena dianggap mengancam kenyamanan imperialisme kolonial. Dia dibungkam dan diisolasi secara fisik di berbagai tempat. Tapi itu cuma sementara, karena semangatnya yang terus menyala-nyala terhadap kemerdekaan, dia terus kobarkan semangat untuk merdeka yang berpengaruh besar kepada rakyat saat itu. Kemerdekaan cuma soal waktu yang secara de facto diraih pada tanggal 17 Agustus 1945. Dia diangkat menjadi presiden pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya kami sampai di Cicaheum Bandung pukul 8 malam. Perjalanan seluruhnya ditempuh selama 6 jam sejauh 21 Km. Sukses sebagai pedestrian!, berjalan kaki layaknya mengenal realitas sesungguhnya dan menapaki harapan yang bisa ditempuh semampu yang kita bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung Buncit, 21 Februari 2007.&lt;br /&gt;NB: Tulisan ini dipersembahkan untuk para pedestrian diseluruh dunia!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-2693004241550047290?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/2693004241550047290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=2693004241550047290' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/2693004241550047290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/2693004241550047290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/06/iwan-fals-orang-gila.html' title='Cerpen: Pedestrian'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/Rm5vmt5LL8I/AAAAAAAAAAo/D5Qhb4qK_DI/s72-c/pedestrian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-1602468424510099188</id><published>2007-05-16T12:44:00.000+07:00</published><updated>2007-11-10T14:40:17.977+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Artikel: Dewa dari Leuwinanggung</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Tulisan ini dibuat oleh &lt;a href="http://andreasharsono.blogspot.com/2002_10_01_archive.html"&gt;Andreas Harsono&lt;/a&gt;, &lt;/em&gt;&lt;em&gt;seorang jurnalis yang saya ambil &lt;/em&gt;&lt;em&gt;dari blog-nya &lt;/em&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Syafiq baktir&lt;/span&gt;&lt;em&gt;. Sengaja saya tampilkan disini karena tulisan tentang &lt;a href="http://iwanfalsmania.blogspot.com/"&gt;Iwan Fals&lt;/a&gt; ini sangat menarik dan berisi yang secara tidak langsung mengilhami hidup saya. Selamat membaca..!)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;a name="115439250415250406"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: center" align="center" face="arial"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:7;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.pantau.or.id/news.detail.php?id=209"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-family:Times New Roman;font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.pantau.or.id/news.detail.php?id=209"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0);font-size:180%;" &gt;Dewa dari Leuwinanggung&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;Oleh&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;a href="http://andreasharsono.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0)"&gt;Andreas Harsono&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://andreasharsono.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,0)"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify" face="arial"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = v /&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" style="FONT-FAMILY: arial" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;&lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;v:formulas&gt;&lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt;&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" style="MARGIN-TOP: 12.2pt; Z-INDEX: -1; LEFT: 0px; MARGIN-LEFT: 0.3pt; WIDTH: 71.05pt; FONT-FAMILY: arial; POSITION: absolute; HEIGHT: 84.65pt; TEXT-ALIGN: left" type="#_x0000_t75" wrapcoords="-188 0 -188 21442 21600 21442 21600 0 -188 0"&gt;&lt;v:imagedata title="iwan%20haha%206%20edit-" src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFALSET%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_image001.jpg"&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;?xml:namespace prefix = w /&gt;&lt;w:wrap type="tight"&gt;&lt;/w:wrap&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://falsettoholic.multiply.com/photos/hi-res/upload/RkSAHwoKCpsAAHLTmXk1"&gt;&lt;img class="alignleft" style="WIDTH: 178px; HEIGHT: 160px" height="144" src="http://images.falsettoholic.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RkSAHwoKCpsAAHLTmXk1/samping%20pohon-.JPG?et=H1lHtkd4gGsQE8yqqeGo4g" width="187" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify" face="arial"&gt;LEUWINANGGUNG adalah sebuah desa yang mirip kebanyakan dusun Pulau Jawa. Di sana ada rumah, sekolah, masjid, klinik, pohon dan bambu, madrasah ibtidaiyah, serta kantor lurah. Tetapi Leuwinanggung tak sama dengan desa-desa lain di Pulau Jawa karena di sana berumahlah seorang dewa .... namanya Iwan Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify" face="arial"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dewa ini tinggal di sebuah rumah besar. Tanahnya 6.000 meter persegi. Bagian terbesar dipakai untuk sebuah toko, pendopo, sebuah panggung terbuka, maupun kantor organisasi para penggemar si dewa bernama Oi. Kediaman pribadi dewa ini dilengkapi studio musik, garasi mobil (termasuk bus), rumah tinggal, serta kebun dengan rumput tercukur rapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Suatu sore September lalu, Iwan Fals menceritakan perkenalannya dengan Leuwinanggung pada saya. “Tahun 1982 saya cari tanah di sini, maksudnya untuk investasi saja,” katanya. Dia membeli tanah dari rezeki penjualan kaset Sarjana Muda yang diluncurkan 1981 dan terjual 300 ribu buah. Kisah berikutnya, dia sekali-sekali datang dari Jakarta bersama istrinya, mantan model Yos Rosana, menengok tanah mereka serta membawa pulang buah-buahan dari kebun.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Leuwinanggung menarik karena warganya rukun. Kalau ada acara perkawinan, jaipongan, atau kematian, semuanya kumpul. “Bila ada kematian, pengunjung yang datang justru dibayar. Diberi uang. Mereka bahkan sampai ngutang. Dalam hati saya pikir, ‘Gagah amat.’ Saya merasa kecil sekali. Kayak jawara gitu. Ada kegagahan di sini. Kalau mereka datang kenduri, duduk, pandangan ke depan, nggak ditegur ya diam saja. Kalau ada makan ya nggak rakus. Saya kan dulu nggak tahu. Ada makanan ya saya makan,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedang tak sibuk, Iwan ikut salawatan tiap malam Jumat. “Bahasanya campur Arab, Sunda, Jawa. Ada 20 nomor salawatan lama yang saya kumpulkan.” Salawatan untuk sebuah desa macam Leuwinanggung, yang tanahnya, kapling demi kapling dibeli orang Jakarta, dan anak-anak mudanya mulai kekurangan pekerjaan, bisa jadi kekuatan untuk desa ini. “Kekuatan secara batin, secara spiritual,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Leuwinanggung sendiri terletak di daerah Bogor. Penduduk di sana sehari-hari bicara bahasa Sunda kasar. Orang butuh sekitar satu jam naik taksi dari Jakarta ke Leuwinanggung. Daerahnya terpencil. Selewat magrib, jalanan Leuwinanggung sepi dan jarang ada kendaraan. Ketika 16 Agustus lalu saya kemalaman di Leuwinanggung, lewat tengah malam saya jalan kaki empat kilometer untuk mendapatkan tukang ojek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu sekitar 600 penggemar Fals dan penduduk Leuwinanggung merayakan Agustusan bersama. Di sanalah saya menemukan banyak iwan fals. Mereka bergaya ala Fals dengan rambut gondrong, jins belel, memberi salam dan berteriak “Oi.” Suaranya dibuat dalam, agak serak. Di panggung, lagu-lagu Fals dibawakan bergantian, dari yang mirip aransemen aslinya, sehingga mendapat tepuk tangan, sampai yang ditertawakan penonton—dapat tepuk tangan juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang ditertawakan termasuk seorang pemuda 30-an tahun. Topinya merah, rambutnya gondrong sepundak, kulitnya gelap, giginya putih bersih, dan namanya Fajar Wijaya. Fajar seorang pengamen kelahiran Yogyakarta tapi lebih sering mengamen di Cilegon. “Saya terharu, menjerit, merasa ada panggilan hati. Dapat bimbingan dari lagunya itu,” katanya, mengacu lagu Di Mata Air Tak Ada Air Mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya merasa kok ada hikmah tersendiri buat hidup saya. Saya merantau. (Lagu) ini nasihat dalam perjalanan hidup saya. Saya merenungkan jati diri saya,” kata Fajar, tersenyum sembari menarik-narik baju luriknya yang lusuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Iwan Fals memang bukan dewa dalam pengertian mitologi Yunani. Mungkin kedewaan Fals lebih dekat dengan fenomena musik 1960-an ketika dinding-dinding kota London dicorat-coret dengan kalimat, “Clapton is god (Clapton seorang dewa).” Mereka yang anonim itu memuja Eric Clapton, gitaris blues Yardbirds yang muncul di Inggris pada 1963. Majalah Rolling Stone menyebut Clapton menonjol karena konsisten menjaga standar mutu karyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang malam Agustusan itu tak kalah sibuknya dengan Fajar adalah Slamet Setyabudi, koordinator keamanan Oi, yang sehari-hari bekerja sebagai tentara dengan pangkat sersan dua dari Pasukan Pengawal Presiden. Slamet badannya tegap, orangnya ramah. Dia anggota grup C yang bertugas mengawal tamu-tamu negara. Dia pernah mengawal Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Timor Lorosa’e Xanana Gusmao. “Habis dinas saya ke sini,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Slamet sesekali membawa rekan-rekannya ke Leuwinanggung untuk bantu keamanan. “Tentara yang penggemar Mas Iwan ini sebenarnya banyak,” katanya. Saya sempat berpikir nakal. Negara Indonesia membayari ratusan tentara untuk mengawal presiden dan wakil presiden. Mereka menerima gaji, sering pergi ke luar negeri, menerima pelatihan, mendapat seragam keren. Ternyata tentara yang sama mengawal Iwan Fals dengan gratis!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam itu lebih dari selusin pengurus Oi bercerita tentang Fals pada saya. Mereka cerita para penggemar yang terperangah ketika pertama kali menemui Fals. Banyak yang “gila” dengan memeluk, mencium tangan, dan menangisi Fals. Ada yang datang dari Flores, Riau, Jambi, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam itu saya berharap melihat ritual tersebut. Ratusan penggemar berharap sang dewa muncul. Namun Iwan tetap tinggal di rumah. Dia “meriang, kecapekan” dan dicurigai kena tipus. Dewa ini ternyata manusia biasa yang bisa sakit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;MALAM itu juga ada Muhamad Ma’mun. Seorang lelaki yang menarik. Penampilannya kalem, rambutnya panjang, dan terkadang dipanggil “Romo.” Ma’mun dulu pernah kerja di perusahaan properti tapi sekarang wiraswasta, memborong pekerjaan bangunan rumah. Ma’mun termasuk kenalan dekat Iwan Fals. Dia mengenal keluarga Fals sejak 1985 ketika mulai mondok di sebuah rumah di Jalan Barkah, Manggarai, Jakarta Pusat. Rumah itu milik Lies Suudiyah, seorang pekerja sosial dan ibunda Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Fals waktu itu sudah berkeluarga dan tinggal di Condet. “Panggilan rumahnya Tanto,” kata Ma’mun. Nama lengkapnya Virgiawan Listanto. “Galang masih kecil, belum sekolah, mungkin empat atau lima tahun. Cikal baru bisa jalan,” kata Ma’mun, mengacu pada anak Iwan: Galang Rambu Anarki dan Anisa Cikal Rambu Basae.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa keduanya cocok. Ma’mun usianya tiga tahun lebih tua dari Iwan. Ma’mun kelahiran Solo 1958 sedang Iwan Jakarta 1961. Mungkin mereka punya karakter dasar yang sama. Keduanya orang yang tak ragu mempertanyakan apapun. Saya terkesan dengan kerendahan hati mereka. Ketika mondok Ma’mun bekerja sebagai pegawai PT Pembangunan Jaya sementara Iwan sudah mulai dikenal sebagai penyanyi. Persahabatan mereka berlanjut hingga sekarang. Ma’mun termasuk orang yang diminta Iwan jadi pengurus Yayasan Orang Indonesia—yayasan sosial yang dibentuk dan diketuai Iwan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berkesan Ma’mun terjadi ketika mereka lagi membaca harian sore Sinar Harapan yang memuat foto anggota-anggota parlemen ketiduran saat sidang. “Wah, ini perlu disentil To,” kata Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan menyanding gitar dan Ma’mun membawa pena. Mereka bekerja mencari lirik dan musik. Semalaman mereka bekerja. Hasilnya, lagu Surat Untuk Wakil Rakyat yang dimasukkan dalam album Wakil Rakyat (1987). Ma’mun bangga dengan karya bersama ini apalagi ketika mahasiswa menjadikan lagu itu “lagu wajib” demonstrasi. Hingga kini Ma’mun rutin mendapatkan kiriman uang royalti dari Musica—produser dan distributor sebagian besar album Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Ma’mun menilai temannya itu sebagai salah satu penyanyi kritik sosial terkemuka di Indonesia. Iwan menggunakan bahasa Indonesia, untuk bercerita tentang anak maling yang jadi maling, sunatan massal, pelacur, korupsi, nasib guru, dan sebagainya. Majalah Time Mei lalu menyebutnya “pahlawan Asia”—sejajar dengan Jackie Chan, Xanana Gusmao, dan Aung San Suu Kyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau artis lain menjaga penampilan mereka lewat make up menyala, potongan rambut aneh, kostum unik, atau operasi plastik untuk memperindah diri, Iwan Fals tampil biasa. Beberapa kali saya menyaksikan Iwan memakai kaos Shanghai, kaos katun tipis dan lembut, yang harganya Rp 10 ribu selembar, saat konser. Orang toh tetap histeris melihatnya. Iwan mungkin punya kharisma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Amir Husin Daulay, seorang aktivis mahasiswa 1980-an, menyebut Fals “nabi buat para pengikutnya.” Pada 1983 Daulay mengundang Fals mengamen ke kampus Akademi Ilmu Statistik. Iwan datang bersama Yos, membawa gitar, menyanyikan empat lagu, dan mendapat honor Rp 400 ribu. Pengalaman mengamen, yang dilakukannya bertahun-tahun, melatih Iwan menghadapi massa, dari pentas ke pentas, sehingga tahu bagaimana mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur suara, mana yang disukai, mana yang tak disukai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan Ma’mun dan Iwan meningkat seiring karier mereka berdua. Antara Sarjana Muda hingga album Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu pada 1989, Iwan menghasilkan 13 album bersama Musica. Artinya, hampir satu album tiap enam bulan. Ini luar biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada 1989 Iwan menerbitkan album Mata Dewa bersama Arena Indonesia Production (Airo). Mereka berniat mengadakan tur 100 kota. Konser perdana 26 Februari 1989 di Jakarta berjalan baik tapi buntutnya sebelas kendaraan bermotor dirusak. Mengapa kerusuhan terjadi? Sampai hari ini belum ada penjelasan rinci. Apa polisi kurang profesional? Atau Arena Indonesia Production kurang siap? Atau Fals mengeluarkan kalimat-kalimat yang memprovokasi massa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi tur jalan terus ke Pulau Sumatra. Sore hari 9 Maret 1989, Ma’mun dan Iwan Fals berada di sebuah hotel di Palembang. Keesokannya, Iwan bakal tampil di konser Mata Dewa. Sehabis makan malam, Ma’mun dan Iwan masuk kamar. Di depan cermin, mereka bicara soal persiapan konser.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Gayane ngene yo? (Gayanya gini ya?)” tanya Iwan, sambil memegang gitar akustik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ojo ndingkluk. Rodo ndegek (Jangan menunduk. Agak membusung),” kata Ma’mun. Iwan pun mengubah gayanya memegang gitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Nek penyanyi rock ngene lho! (Kalau penyanyi rock begini lho!)” kata Ma’mun, mengambil gitar dan memberi contoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka diskusi sebelum tidur. Keesokan harinya, Sofyan Ali, promotor Arena Indonesia Production, memberi kabar buruk. Polisi Palembang memberitahu ada radiogram dari markas polisi Jakarta. Mereka melarang Fals melanjutkan tur guna menghindari kekacauan. Padahal alat-alat sudah siap, panggung sudah siap. Rencana pertunjukan Palembang, Padang, Jambi, Medan, dan Banda Aceh dilarang. Iwan menangis. “Buat Iwan panggung adalah kehidupannya. Dia jadi hidup kalau di panggung,” kata Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, polisi melarang ketika belum ada penelitian tuntas mengapa keributan Jakarta terjadi. Di mana-mana kumpulan massa punya potensi ribut, dari massa sepak bola hingga musik. Ini tak berarti orang dilarang main bola atau nonton musik bukan? Bagaimana kebudayaan manusia akan maju kalau khawatir ribut? Bukankah polisi dibayar, bahkan negara diadakan, agar kebudayaan bisa maju, agar demokrasi bisa berkembang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Lebih susah lagi. Di Indonesia, banyak orang malas berpikir, banyak wartawan malas melakukan reportase, dan lebih banyak lagi orang yang suka mengembangkan teori “pihak ketiga.” Di mana-mana ada teori ini. Buruh dilarang demonstrasi karena ditunggangi “pihak ketiga.” Mahasiswa bikin rusuh karena “pihak ketiga.” Saya mempelajari laporan berbagai suratkabar Indonesia dan melihat ada tiga teori “pihak ketiga” di balik pembredelan Mata Dewa.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;“Pihak ketiga” pertama adalah “mafia Glodok” yang meminjam tangan polisi untuk mematahkan gaya distribusi kaset ala Sofyan Ali. “Mafia Glodok” adalah sebutan untuk industri rekaman yang berpusat di Glodok, Jakarta. Mereka kebanyakan dikelola pengusaha Indonesia etnik Tionghoa dan dianggap kurang menghargai seni, kurang menghargai musisi, tapi menguasai distribusi kaset. Spekulasi ini datang karena Iwan Fals pindah dari Musica ke tempat Sofyan Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Pihak ketiga” kedua adalah “industri rokok tertentu” yang meminjam tangan polisi guna menjegal pemasaran rokok Djarum—sponsor utama Mata Dewa. “Pihak ketiga” ketiga adalah pejabat-pejabat “tertentu” yang tak senang dengan kritik sosial Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak ada bukti kuat untuk mendukung ketiga teori itu. Tapi cukup banyak alasan mengatakan ketiganya spekulatif. Iwan tak sepenuhnya pindah dari Musica karena ia juga mengerjakan lagu Kemesraan bersama artis Musica. “Saya merasa bersyukur punya partner Musica,” kata Iwan pada saya. Bisnis musik juga kecil sekali dibanding bisnis rokok. Raksasa industri rokok Djarum (Kudus), Sampoerna (Surabaya), Gudang Garam (Kediri), dan BAT (Jakarta) memang bersaing tapi juga bergabung dalam suatu kartel. Promosi lewat Fals memang penting tapi hanya sebagian kecil dari promosi Djarum. Keuntungan Djarum tahun lalu saja sebesar Rp 2,08 triliun atau hampir dua kali lipat omzet semua industri rekaman Indonesia. Siapa pejabat yang tak suka Fals? Setiawan Djody, rekanan bisnis Sofyan Ali dan salah satu pemegang saham PT Airo Swadaya Stupa, juga dekat dengan kalangan pejabat. Mengapa tak ada yang bicara dengan Djody?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Palembang tak ada verifikasi dan tawar-menawar. Kekuatan negara Orde Baru sangat kuat. Jangankan Iwan Fals. Protes dari hampir semua organisasi nirlaba di Indonesia, terhadap penggenangan desa-desa calon waduk Kedung Ombo bulan sebelumnya, juga diabaikan rezim Soeharto. Bank Dunia, yang mendanai Kedung Ombo, tak berbuat banyak melihat puluhan ribu petani mengungsi menyelamatkan harta dan nyawa. Iwan melawan. Dia jalan sendirian ke Padang, Jambi, dan lainnya, untuk memberitahu publik dia tak bisa memenuhi janji karena dilarang polisi. Ma’mun pulang ke Jakarta membawa pulang peralatan dengan delapan truk. “Pakaian saya bawa, kopernya saya bawa pulang. Dia cuma bawa pakaian satu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, pelarangan itu juga memprihatinkan musisi lain. Sawung Jabo, musikus dari komunitas Sirkus Barock, menelepon Iwan untuk menyatakan simpati. Iwan pernah ikut pementasan Sirkus Barock pada 1986.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya lupa persisnya. Suatu malam Iwan datang ke rumah saya di Pasar Minggu, yang notabene rumah tempat kami sering ngumpul. Iwan menawarkan untuk membuat album,” kata Jabo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Pada awalnya Iwan, kalau tidak salah mengusulkan nama Septiktank, tapi saya dan beberapa kawan menolaknya. Lalu kita mengusulkan nama yang kami pilih lewat lotere. Setelah diundi terpilihlah nama Swami, yang kebetulan nama itu usulan saya.” Ini plesetan dari kata “suami” karena mereka semua sudah beristeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata awak Swami pernah terlibat Sirkus Barock. Baik pemain flute Naniel, pemain gitar bass Nanoe, pemain piano Tatas, apalagi drummer Inisisri yang banyak memberi warna musik Sirkus Barock. Hanya Jockie Suryoprayogo dan Totok Tewel agak baru di Sirkus Barock.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun bekerja. Lagu paling spektakular berjudul Bento. Iwan sempat mengajak Ma’mun pergi ke studio tempat mixing dan minta komentar tentang Bento. Ma’mun berkomentar, “Wah, ini kayak virus. Ini cepet nyebarnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Iki piye Mas? (Ini bagaimana Mas?)” tanya Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apik. Virus kabeh (Bagus. Virus semua).”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan dan kawan-kawan senang. Mereka makan nasi bungkus sembari mengobrol hingga pagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Bento diciptakan Iwan dan Naniel. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. "Bento" sendiri artinya “goblok” dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang Bento, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya pada saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;namaku Bento, rumah real estate&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;mobilku banyak, harta melimpah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;orang memanggilku bos eksekutif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;tokoh papan atas, atas segalanya, asyik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Sawung Jabo membantu aransemen lagu tersebut, “Saya memasukkan unsur tema lead accoustic,” katanya. Ketika beredar ke pasar, Swami memang ibarat virus. Lagu Bongkar juga jadi salah satu hit. Mula-mula media sempat bertanya-tanya apakah TVRI bersedia menyiarkan Swami. TVRI waktu itu satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. TVRI sepenuhnya dikuasai rezim Soeharto. Ternyata tanpa ada keistimewaan, Bongkar muncul pada 13 Maret 1990. Ini mengejutkan banyak wartawan musik. Sekali lagi teori “pihak ketiga” tidak laku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;PADA Maret 1990 rombongan Swami datang ke Salatiga: Sawung Jabo, Iwan Fals, Naniel, Nanoe, Inisisri, penyair W.S. Rendra, pengusaha Setiawan Djody, dan sebagainya. Salatiga sebuah kota kecil di tengah Pulau Jawa yang pada 1980-an secara politik cukup dinamis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Media banyak memperhatikan kedatangan mereka. Bagaimana tidak? Djody miliuner kapal tanker yang dekat dengan keluarga Soeharto. Rendra seorang penyair, mungkin yang terbaik di Indonesia, yang beberapa kali masuk tahanan Orde Baru. Jabo pemusik yang sering bikin eksperimen bermutu. Iwan sendiri dianggap makin memberontak sejak Palembang. Sebuah kolaborasi unik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berperan mendatangkan Swami ke Salatiga adalah Endi Agus Riyono A.S. atau biasa disingkat Endi Aras—seorang mantan aktivis mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga dan wartawan majalah Film di Jakarta. Endi orangnya ramah, rambut bergelombang sebahu, murah senyum, pandai bergaul, suka musik, dan suka ikut kepanduan. Juli lalu ketika saya mewawancarai Endi, penampilannya tak banyak berubah, walau perutnya agak buncit, sudah berkeluarga, serta memiliki perusahaan sendiri Matamata Communications yang bergerak di bidang public relation dan event organizer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi bertemu Iwan pada 1985 ketika ia diutus rekan-rekannya menghubungi Iwan agar menyanyi dan ceramah di kampus Satya Wacana. “Aku disuruh cari ke Jakarta,” kata Endi. Mulanya Endi cari di Musica tapi tak ada dan ketemunya di Condet. Iwan keberatan datang ke Salatiga, “Aku nggak bisa ngomong,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan merekomendasikan penyanyi balada lain. Endi penasaran. Endi pengagum Fals dan punya koleksi lengkap album Fals. Endi pun menulis surat kepada Iwan dan dibalas pakai tulisan tangan. “Apa yang diomongin sama yang dipikir, lebih cepat yang dipikirin,” kata Endi, menerangkan keengganan Iwan tampil pada fora akademik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu membuka perkawanan Endi dan Iwan. Pada 1989 Endi bekerja di majalah Film. Sebagai wartawan ia menulis soal Iwan. Ini praktik biasa di kalangan wartawan musik Indonesia—menjalin pertemanan dengan sumber-sumber mereka. Endi dan Iwan sering telepon-teleponan. “Ndi kamu ke sini,” ujar Iwan. Bila Endi dolan ke tempat Iwan, mereka bisa mengobrol dari siang sampai malam. Mereka juga sering naik mobil, mengobrol, mengelilingi jalan tol. “Iwan itu senang kalau ada teman ngobrol,” kata Endi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi membawakan buku-buku untuk Iwan. Misalnya Catatan Harian Seorang Demonstran tentang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Presiden Soekarno, yang meninggal keracunan gas di Gunung Semeru pada 1969.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Endi juga memberikan selebaran-selebaran gelap. Iwan tertarik karena ia simpati pada orang tertindas. Pada 1980-an ketidakpuasan warga Indonesia terhadap rezim Soeharto makin tinggi. Anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan terlibat dalam bisnis, dari monopoli cengkeh hingga jalan tol. Militer juga makin kuat mengontrol kehidupan warga walau di sana-sini ada gesekan internal antara militer hijau (muslim) dan militer merah putih (nasionalis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Salatiga Endi sering menginap di kantor Yayasan Geni—sebuah organisasi nirlaba yang banyak terlibat gerakan protes. Satya Wacana 1980-an juga kampus yang memberikan tempat untuk pemikiran kritis, antara lain karena pengaruh dosen-dosen liberal macam Arief Budiman, seorang doktor lulusan Universitas Harvard, kakak kandung Soe Hok Gie, yang getol bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media. “Iwan ngefans sama Arief Budiman,” kata Endi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Budiman dekat dengan mahasiswa, antara lain dengan Stanley, panggilan seorang aktivis mahasiwa yang nama lengkapnya Yosep Adi Prasetyo. Stanley kawan dekat Endi. Budiman sering mengajak Stanley, Endi, dan mahasiswa lain ikut diskusi. Dari Stanley pula Endi menerima selebaran gelap dan buku. Endi menyampaikannya pada Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Swami mengeluarkan album, Endi menawari Swami pergi ke Salatiga. Pucuk dicinta ulam tiba. “Biaya dari Djody semua, panitia hanya ngurus tempat. Kita agendakan ngobrol-ngobrol di rumah Arief Budiman,” kata Endi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka datang lebih awal dan mengadakan dua diskusi. Diskusi agak besaran diadakan di sebuah guest house milik Satya Wacana, sebuah rumah kolonial peninggalan Belanda, yang luas dan megah. Rumah itu dipakai Djody dan peragawati Regina Sandi Harun, istri muda Djody. Diskusi agak kecil diadakan di rumah Budiman sembari makan malam. Rumah ini terletak dekat sungai, dibangun dengan konsep terbuka, menggunakan bambu, dan dijaga beberapa ekor angsa. Budiman mengundang cendekiawan setempat, antara lain pendeta Broto Semedi, Stanley, dan beberapa mahasiswa lain untuk diskusi dengan rombongan Jakarta. Saya kebetulan ikut diundang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kami bicara santai, bersila, duduk dengan tikar. Arief Budiman memancing Iwan Fals untuk masuk ke dunia aktivis. “Seniman harus tahu politik,” katanya. Budiman cerita soal Victor Jara dari Chile, pendukung Presiden Salvador Allende, yang terbunuh ketika Jenderal Augusto Pinochet mengudeta pemerintahan sosialis Allende pada 1973. Budiman mengerti Chile dengan baik karena tesisnya di Universitas Harvard tentang kegagalan Allende memakai sosialisme. Victor Jara seorang pemusik popular mirip Fals. Lagu-lagu Jara penuh kritik sosial. Jara juga main gitar akustik. Jara mati bersama dengan Allende.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya punya kesan Iwan enggan atau malu menanggapi Budiman. Iwan lebih banyak diam. W.S. Rendra, teman lama Budiman, lebih banyak bicara dengan gayanya yang teatrikal. Rendra khusus memperkenalkan kami kepada Djody yang disebutnya sebagai seorang pengusaha-cum-seniman. Rendra mendominasi pembicaraan malam itu dengan sekali-sekali ditanggapi Djody, dan Sawung Jabo. Leila Ch. Budiman, istri Arief, jatuh hati pada Iwan yang disebutnya “anak manis.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Salah satu isu sampingan yang mereka diskusikan adalah kejengkelan Rendra dan kawan-kawan terhadap industri rokok. Mereka jengkel pada industri ini—yang sering jadi sponsor utama konser-konser musik—karena seenaknya menempelkan pesan sponsor di panggung. Logo rokok dipasang di pusat panggung. Mereka memaki-maki industri rokok karena mengganggu estetika. Mereka mengatakan sulit untuk tak menerima sponsor rokok karena kontribusi mereka besar tapi jangan begitu caranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, mereka kurang tertarik mendiskusikan dampak rokok pada anak-anak muda penggemar mereka. Mungkin karena mereka sendiri perokok berat. Iwan juga perokok. Suratkabar-suratkabar setempat memberitakan protes ini. Diam-diam beberapa mahasiswa melihat para tamu Jakarta ini, bukan saja mengisap rokok, tapi juga ganja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Saya tak mau menghakimi. Beberapa teman saya juga menggunakan ganja dan biasa-biasa saja. Saya kira isu ganja bukan soal benar atau salah. Ganja mirip dengan rokok. Ia tak mematikan. Ganja berbeda dengan obat-obatan kimiawi macam narkotik, esctasy, atau putauw yang bisa berakibat fatal kalau kelebihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan mengakui memakai ganja sejak Palembang. “Habis gimana? Murah, bisa beli di mana-mana, enak?” Jabo tak mau berkomentar soal ganja. Dalam lingkungan Swami, mengisap ganja mendapat semacam legitimasi karena dianggap biasa. Djody dan Rendra juga saya lihat mencoba daun ganja yang dilinting kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tadinya mau kayak (penyanyi reggae) Bob Marley, punya kebun ganja sendiri. Nyanyi, ganja, nyanyi, ganja. Tapi kan dilarang hukum, (dilarang) agama. Dalam hidup ini, orang yang nggak mabuk lebih banyak dari yang mabuk,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kresnowati, seorang mahasiswa Satya Wacana dan kenalan Endi, ikut jadi panitia. Wati tak melihat ganja tapi terkejut menyaksikan awak Swami, termasuk Iwan, menggoda dan menjahili mahasiswi. “Ya … kok gini?” pikirnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Wati menghibur diri dengan berpendapat Iwan laki-laki biasa. “Manusia biasa yang punya talenta luar biasa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://falsettoholic.multiply.com/photos/hi-res/upload/RkSA2QoKCpsAAAfuT6c1"&gt;&lt;img class="alignleft" style="WIDTH: 207px; HEIGHT: 138px" height="92" src="http://images.falsettoholic.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RkSA2QoKCpsAAAfuT6c1/sama%20yos-.JPG?et=meB52KjOTI9S%2B4eK%2BaZD%2Cw" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Menurut kawan-kawannya, periode ini cukup liar untuk Iwan Fals. Yos Rosana memutuskan pakai jilbab. “Dia bilang panggilan sebagai seorang muslim. Dia ingin memberikan contoh pada Iwan dan anak-anak untuk lebih ingat agama,” kata Fidiana, istri pemain kibor Iwang Noorsaid, pasangan yang berteman dengan keluarga Iwan. Yos juga agak khawatir pada pengaruh W.S. Rendra, orang yang dianggap guru oleh Iwan, tapi punya reputasi agak longgar dalam urusan perempuan. Rendra menikah tiga kali. Djody juga baru menikahi Sandi Harun. “Iwan kan good looking!” kata Wati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam yang dinanti-nantikan pun datang. Swami main di Lapangan Pancasila Salatiga. Malam itu saya ikut menonton dan ikut bernyanyi, “Bento, bento, bento.” Saya merasakan adanya semangat perlawanan di sana dan bersyukur Indonesia punya musisi macam mereka. Endi mungkin warga Salatiga yang paling bahagia malam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;SAMBUTAN hangat membuat Swami plus Setiawan Djody tertarik maju lagi. Mereka mendirikan kelompok baru dengan nama Kantata Takwa. Perbedaan personalia Swami dan Kantata Takwa terletak pada W.S. Rendra dan Djody.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Djody jadi bos sekaligus pemain. Rendra memakai syair-syairnya, termasuk puisi "Kesaksian" yang terkenal itu, untuk dilagukan Kantata Takwa. “Rendra tidak sekadar membuat lirik, tapi lebih dari itu. Kadang dia sebagai alat kontrol pada proses kreatif kami. Rendra pulalah yang memberikan judul ‘Kantata Takwa.’ Rendra ikut memberi warna dan bentuk yang jelas pada Kantata Takwa. Terutama pada saat pementasannya,” kata Sawung Jabo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Djody mengeluarkan uang tapi agak tersinggung kalau dianggap keberadaannya semata-mata karena duit. Pada 1990, Djody pernah mempersilakan saya datang ke rumahnya di daerah Kebagusan, Jakarta Timur, melihat latihan Kantata Takwa. Djody cerita masa lalunya di Solo ketika jadi gitaris sebuah kelompok musik rock. Orangnya flamboyan, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, pakaiannya bagus. Rumahnya besar sekali. Besar sekali. Ruang keluarga, yang menghadap kolam renang, diubah jadi tempat latihan band. Di sana ada lukisan Djody besar sekali. Saya menduga karya maestro Basuki Abdullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Djody cerita bisnisnya dengan Sigit Harjojudanto, putra sulung Soeharto, maupun Eka Widjaja dari kelompok Sinar Mas. Dia juga cerita pergaulannya dengan Jenderal Benny Moerdani, mungkin orang terkuat kedua di Indonesia sesudah Presiden Soeharto waktu itu. Moerdani dinilainya pintar dan tahu seni. Tak ada rasa takut dalam cerita Djody. Dia cerita isu yang agak pribadi tentang Moerdani. Bisnis adalah bisnis. Seni adalah seni. Djody mencintai keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Namun tak semua orang suka dengan kolaborasi ini. Beberapa penggemar Fals dan wartawan musik menilai periode ini keiwanfalsan Iwan menurun. Ada yang menilai Iwan lebih vulgar. Teori “pihak ketiga” lagi-lagi dipakai. Ada yang menyalahkan Sawung Jabo. Dulu lirik Iwan lebih puitis. “Setelah gabung dengan Jabo lebih keras, Jabo kan suka main hantam?” kata fotografer Idon Haryana, menirukan analisis wartawan tabloid Detak A.S. Laksana. Banyak juga yang curiga pada W.S. Rendra. Lebih banyak lagi yang curiga pada Djody.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Muhamad Ma’mun mengatakan, “Secara eksplisit saya sampaikan, ‘Saya nggak suka sama Mas Djody.’ Saya sampaikan pada Iwan. Sampai beberapa tahun, saya masih ngomong nggak suka. Saya nggak pernah sekali pun ketemu Djody. Diajak ketemu Djody tapi nggak mau.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sawung Jabo, kalau Djody diragukan integritasnya, Iwan pun tak mau membela atau menjelaskan, karena dia sendiri “tidak tahu.” “Intinya kami bersama telah berbuat sesuatu, silahkan masyarakat menilainya sendiri. Apakah yang kita kerjakan bersama itu ada gunanya atau tidak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ma’mun menganggap musik Kantata Takwa, yang memakai koor, synthesizer, dan kecanggihan lain, tak cocok untuk Iwan. “Ini bukan kemajuan. Yang dikenal orang di gang-gang, di pasar-pasar, ya lagu-lagu yang dulu. Karya besar nggak harus yang susah dibawakannya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ma’mun mengacu pada lagu-lagu Koes Plus dan The Beatles. Dia menyebut lagu Imagine karya John Lennon. Aransemennya sederhana tapi nilainya tinggi. Ma’mun berpendapat karya-karya abadi aransemennya sederhana dan mudah dimainkan orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Rekaman album Kantata Takwa jalan lancar. Menurut Jabo, Rendra terlibat mulai dari gagasan awal. “Saya baru terlibat masuk di pertengahan proses pembuatan materi lagu, sebelum dimulainya proses rekaman di Gin Studio.” Lagu andalan mereka berjudul Kantata Takwa yang dibuka dengan dzikir. Albumnya diedarkan awal 1990. Sampulnya bergambar Djody, Rendra, Iwan, Jabo, dan Jockie Suryoprayogo. Ada satu kalimat berbunyi, “Setiawan Djody mempersembahkan Kantata Takwa.” Ini menimbulkan kesan album ini “hanya” persembahan Djody—bukan Rendra, bukan Iwan, bukan Jabo, bukan Suryoprayogo. Saya kira pilihan ini kurang bijak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertunjukan Kantata Takwa di stadiun Senayan pada 23 Juni 1990 termasuk salah satu konser musik terbesar yang pernah diadakan di Indonesia. Media memberi perkiraan yang berbeda-beda. Ada yang memperkirakan penontonnya 100 ribu orang tapi ada juga yang 150 ribu. Sulit untuk tahu mana yang lebih akurat karena metode perhitungannya tak jelas Kapasitas stadiun Senayan sendiri sekitar 90 ribu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tapi berapa pun jumlahnya, penontonnya memang banyak sekali. Mereka memakai lampu laser, bom asap, sound system raksasa, panggung spektakular. Atmakusumah Astraatmadja, mantan redaktur harian Indonesia Raya dan kini ketua Dewan Pers, termasuk salah satu penonton. Putra sulungnya seorang pemanjat tebing yang ikut dalam tim yang bertugas menyelamatkan pemain Kantata Takwa bila terjadi kerusuhan. Mereka memasang tali-temali dan bisa meluncur ke tengah panggung bila ada keributan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Astraatmadja gelisah melihat massa sebanyak itu. Lelaki tua yang mendampingi empat remaja ini masuk ke Senayan dengan bantuan polisi. “Itu sebuah perlawanan kultural, bukan saja oleh Iwan dan kawan-kawan, tapi juga para penonton,” kata Astraatmadja. Dia menilai perlu keberanian luar biasa untuk menyanyikan Bento.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Setiawan Djody, si pengusaha kapal tanker, tampil main gitar listrik, seraya memekik-mekik. “Saya heran kok berani-beraninya Setiawan Djody itu,” kata Astraatmadja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi Aras mengatakan Djody membiayai semuanya Rp 1 miliar lebih. Ma’mun menanggapinya dengan lebih hati-hati. Iwan dianggap bergaul dengan orang-orang yang terlalu liberal untuk ukuran keluarganya. Selesai Kantata Takwa, Iwan melanjutkan Swami II yang beredar 1991. Album ini kurang sukses. Sambutan jauh lebih kecil dari Swami. “Saya sudah bilang pada Iwan, ‘Jangan kamu ulangi lagi,’” kata Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Endi Aras mulai masuk lingkaran kecil Iwan Fals pada 1994 ketika ia diminta jadi manajer Iwan. Tanggung jawab Endi serabutan dan dasarnya pertemanan. Kalau ada permintaan konser, Endi yang berhubungan dengan panitia, mengurus pembayaran, menyewa alat, dan sebagainya. Honor Iwan sekali pertunjukan Rp 6 juta. Endi tak menerima bayaran rutin. Kalau ada pekerjaan dia diberi “uang transport.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi juga jadi manajer produksi album Hijau. Di sini Iwan memakai dua pemain kibor: Iwang Noorsaid dan Bagoes A.A. Mereka banyak diskusi agar album ini secara artistik bagus. Lagu-lagu tak diberi judul. Hanya Lagu 1, Lagu 2, Lagu 3, Lagu 4. Endi dan pemusik lain kurang setuju tapi semuanya kalah argumentasi dengan Iwan. “Biar agak lain saja,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi tambah stres karena produser Handoko dari Harpa Record dan Adi Nugroho dari Prosound bersaing membeli master album Hijau. Mereka tawar-menawar. Endi lapor ke Iwan soal tawar-menawar ini. Iwan malah tersinggung albumnya ditawar-tawar. “Wah Ndi, masternya dibakar saja,” kata Iwan. Gantian Endi yang jengkel karena merasa kurang dihargai. Endi dua hari sekali menemui Iwan, yang sudah pindah ke Cipanas, dua jam naik mobil dari Jakarta. Mereka akhirnya menerima harga Prosound Rp 365 juta termasuk sampul dan video clip. Endi mendapat Rp 10 juta dari anggaran Rp 65 juta untuk biaya produksi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sampul kaset dibikin disainer Dick Doang dominan hijau dengan menggunakan foto beberapa anak kecil bermain lompat-lompatan. Iwan tak mau namanya ditonjolkan. Dia tak mau sampul ada fotonya. Menurut Endi, Iwan berpendapat status mereka sama, delapan orang pemusik. Iwan mau nama Iwang Noorsaid, Bagoes A.A., Cok Rampal, Jalu, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Jerry Soedianto, dan Iwan Fals dicetak semuanya pada sampul. Dick Doang, juga seorang penggemar Iwan, setuju usul itu. Konsekuensinya, nama-nama musisi dicetak dengan font kecil. Endi kurang setuju dan khawatir kasetnya kurang laku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya pada Endi, kalau Iwan mau setara, bagaimana pembagian honornya? Endi tersenyum dan bilang Iwan “curang” karena honor musisi Rp 300 juta dibagi dua: 40 persen Iwan dan 60 persen tujuh musisi sisanya. Artinya, Iwan dapat Rp 120 juta sedang lainnya rata-rata dapat Rp 25 juta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Selama mengerjakan Hijau, Iwan berhenti mengganja, berhenti merokok, dan mulai salat. Hari-hari di Cipanas dipakai untuk “rehabilitasi.” Iwan tahu membuatnya tak bisa “panjang nyanyiannya.” Tubuhnya bentol-bentol, emosinya labil. Endi mengatakan ini periode “komunitas bersih” karena beberapa pemain, termasuk Noorsaid dan Heiri Buchaeri, rajin salat dan hidupnya sederhana. Kresnowati mengatakan ada juga musisi Hijau yang “pemakai berat ganja.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Iwan juga mengubah Karno, asistennya yang setia, yang biasa membantu Iwan untuk urusan pribadi, mulai mengatur instrumen musik hingga menyiapkan lintingan ganja. “Karno lebih seniman dari Iwan. Dia nggak menikah, mungkin karena nggak dapat-dapat, dan penggemar Iwan,” kata Wati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Hijau diluncurkan 1992. Tak terlalu meledak di pasar. Endi kecewa, merasa kurang dihargai. Endi mundur dari pekerjaannya. “Endi punya kekaguman yang sangat pada Iwan. Tapi juga kekecewaan. Ngatur dia itu ruwet,” kata Kresnowati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Terus maunya apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Embuh, main musik atau buka bengkel.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, papa yang belum ... Lang, kamu sudah selesai, papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak, "Hoooooooaaaaah ...."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;ROLLY Muarif termasuk satu dari sekian orang yang sering menemani Iwan Fals pasca-kematian Galang. Rolly seorang musikus kelahiran Gorontalo, pernah menghibur penumpang kapal Kambuna jurusan Manado-Jakarta. Kalau menganggur, Rolly menjaga toko spare part di Kranggan, dekat Leuwinanggung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan sering mengundang Rolly ke Leuwinanggung. Iwan suka melukis dan mengobrol dekat makam Galang. “Sering curhat sama saya soal Galang karena cuma ada saya doang,” kata Rolly. Dia juga menemani Iwan main catur dan mengobrol hingga subuh. Suatu saat Iwan bilang, “Kalau untuk anak (kehilangan) ke orang tua, bisa dimaklumi, tapi kalau orang tua ke anak, itu berat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya memahami saja,” kata Rolly pada saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Iwan banyak melukis, kadang-kadang di rumah Leuwinanggung lukisannya dipajang, dilihat dari jauh. Rekaman album baru ditunda sejak kematian Galang. “Saya disuruh memandang, kadang dibalik,” kata Harun Zakaria, tetangga Iwan, yang juga sering mengobrol pasca-kematian Galang. Iwan juga memenuhi undangan dari masyarakat Leuwinanggung, acara jaipongan, kematian, pengajian, kenduri, perkawinan, salawatan. “Ke mana-mana ajak saya,” kata Harun.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Iwan juga bermain sepak bola dan membayar seorang pelatih untuk melatih anak-anak Leuwinanggung. Harun cerita Iwan menyumbang renovasi mushola dekat rumah mereka, “Karpetnya disumbang Kak Iwan.” Iwan juga melatih karate. Dia membuka dojo dan pesertanya sampai 200 orang. “Saya latih sendiri,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika krisis moneter menghantam ekonomi Indonesia, Iwan Fals sempat mencoba bikin lagu untuk menggugah semangat orang berusaha. Karya ini terhenti ketika demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto makin keras. Pada Mei 1998 Soeharto mundur dari kekuasaannya dan Indonesia memasuki era demokratisasi. Perubahan besar-besaran di ambang pintu. Iwan pun melihat saatnya ia mengambil langkah baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Iwan Fals melihat banyak penggemarnya kurang punya dasar ekonomi yang kuat. Iwan ingin “memberdayakan” mereka. Iwan pun mendirikan Yayasan Orang Indonesia dan minta Ma’mun jadi wakil ketua, Endi sekretaris, Yos bendahara, dan dia sendiri ketua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini ternyata tak cukup. Iwan ingin melibatkan para penggemarnya langsung. Ide ini dibicarakan dengan Ma’mun, Yos, dan Endi. Hasilnya, mereka sepakat mengundang para penggemar Fals, lewat ke Leuwinanggung selama tiga hari pada pertengahan Agustus 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kresnowati diminta mengorganisasikan pertemuan itu. Lapangan belakang rumah Iwan ditutup pasir, dibangun tenda besar 600 meter persegi untuk tidur, dibelikan nasi bungkus, dan dicarikan sponsor perusahaan air mineral. Iwan minta tukang membangun 20 kamar mandi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sambutannya besar. Penggemar Iwan dari banyak golongan datang. Ada pencuri, ada bandar narkotik, karyawan biasa, bapak yang sepuh, perempuan tomboy, juga wanita berjilbab. Ada juga yang penampilannya “punk rock abis” dan bikin Wati deg-degan. “Di luar pagar juga banyak yang menunggu mau masuk. Maunya ketemu Iwan, berfoto bersama,” kata Wati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika diskusi, kualitas mereka kelihatan beragam. Ada yang berapi-api tapi banyak yang asal omong. Antusiasme ini mengejutkan karena Iwan lama tak muncul ke publik. Album terakhirnya keluar 1993.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Wati juga geli melihat tato pada penggemar Fals. Banyak yang punggungnya digambari Iwan. Ada pula tato jidat, daerah antara alis mata, ditato kata “Fals.” Dari Bandung sekelompok penggemar menato kata “Fals” di antara jempol dan jari telunjuk. “Kalau Fals pasti Iwan Fals. Kalau Iwan kan banyak,” kata Ainun Rofiq, manajer restoran cepat saji McDonald yang jadi bendahara Oi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Semalam sebelum pertemuan, Iwan, Yos, Ma’mun, Endi, dan Wati diskusi. Intinya, mereka mau serahkan kepengurusan Oi kepada orang-orang baru itu atau mereka pegang sendiri? Mereka sepakat dipegang sendiri dulu. Kalau sudah jalan diserahkan pada orang banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya nggak mau kalau ketua. Konsekuensinya berat. Endi juga nggak mau. Sampai pulang nggak jelas. Ma’mun nggak mau juga. Ma’mun ingin Iwan jadi ketua. Endi nggak mau (alasannya) ini khan fans club. Endi keukeuh (harus) Wati,” kata Kresnowati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari Kresnowati terpilih sebagai ketua Oi. Menurut Digo Zulkifli, penggemar asal Bandung, pada pertemuan tiga hari itu mereka diskusi: mau jadi fans club atau organisasi massa. “Kalau jadi fans club, idolanya sendiri, si bosnya (Fals) nggak enak.” Mereka memutuskan jadi organisasi massa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Wati pada tahun pertama lebih meletakkan dasar administrasi. Mereka bikin kartu anggota, membuka cabang, dan membuat arsip. “Nggak mudah mengatur 10.000-an orang di seluruh Indonesia.” Kini Oi diketuai Heri Yunarsa, seorang pegawai negeri dari Serang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Hambatan banyak. Wati melihat orientasi penggemar Fals masih kabur antara organisasi massa dan klub. Banyak yang masuk Oi untuk “cium tangan” Iwan. “Kayak ketemu raja … apalagi daerah lho ... kita jadi bingung ngeliatnya,” kata Wati. Masalah dana juga hambatan. Iwan mungkin orang kaya tapi mendanai organisasi butuh uang besar sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang akan terjadi kalau Iwan suatu saat jadi kurang populer atau makin mengendurkan musiknya? Bagaimana bila Iwan meninggal? Sejauh mana Oi bisa bertahan kalau didasarkan ikatan emosional pada lagu-lagu lama Iwan Fals? Bagaimana mengubah loyalitas individu jadi loyalitas organisasi? Bagaimana Oi bisa “memberdayakan” anggotanya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat Elvis Presley, bintang musik pop Amerika 1960-an, yang mengatakan, “Music is like religion: when you experience them both, it should move you.” Menurut Sun Record, album Presley terjual lebih dari satu milyar selama masa hidupnya (Love Me Tender, It’s Now Or Never atau Are You Lonesome Tonight).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Musik Fals juga menggerakkan banyak orang di Indonesia. Fals dianggap mampu merekam semangat perlawanan orang-orang yang dipinggirkan pada masa Orde Baru. Ketika Presley meninggal, lagu-lagunya malah jadi abadi. Makam dan rumahnya ramai dikunjungi orang. Lagu-lagunya terus direkam ulang dan jadi tambang emas untuk ahli warisnya. Akankah Fals mengikuti jejak Presley? Apakah musik Fals sudah mirip pengalaman beragama?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Iwan sudah pernah memikirkan ini. “Ada saya atau tak ada saya, saya hadir di Oi,” kata Digo Zulkifli menirukan Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Oi kini punya perwakilan di berbagai kota Indonesia. Ini organisasi unik tanpa preseden. Kantor-kantor perwakilannya juga unik. Di Cilegon ia nongkrong di kantor pemerintahan kabupaten. Di Tangerang berkantor di tukang jagal. Banyak juga yang berada di gang-gang sempit. Agus Suprapto dari Oi Yogyakarta mengatakan mereka mendapat bantuan dari Sultan Hamengku Buwono X.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Gema Fals juga tembus hingga Timor Lorosa’e. Hugo Fernandes, redaktur majalah Talitakum, memberitahu saya bahwa panitia kemerdekaan Timor Lorosa’e mengundang Iwan Fals ke Dili ketika negara itu hendak menyatakan merdeka 20 Mei lalu. “Semua orang Dili tunggu Iwan Fals mau datang. Orang kecewa karena Iwan tidak datang. Di Dili dia itu kayak dewa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya negara kecil yang punya luka tersendiri karena penguasaan Jakarta ini—sering dikatakan sepertiga penduduknya mati karena terbunuh atau kelaparan akibat 22 tahun pendudukan tentara Indonesia—punya banyak orang yang justru merasa ketertindasan mereka diwakili dan disuarakan Iwan Fals.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;SESUDAH lama tak berkarya, Iwan Fals mengalami hambatan bikin album baru. Effendy Widjaja, salah seorang direktur Musica, membantu Fals mengatasinya. “A Pen yang mendobrak. Saya harus bikin lagu katanya. ‘Jangan loyo dong!’ Dia mrepet (mengomel),” kata Iwan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya saya bangkit, minjam duit. Dia pilih dari 300 lagu, dia tandai. Dia pandai, pilihannya saya lihat masih dalam bingkai saya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;A Pen, nama panggilan Effendy, berunding dengan kakaknya, Sendjaja Widjaja atau A Ciu, presiden direktur Musica, dan Iwan pun diberi pinjaman uang. Mereka tak menyebut berapa pinjamannya. Musica hanya bersedia menjawab pertanyaan saya secara tertulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya memperkirakan pinjaman ini diperlukan Iwan dan Yos, selaku pemimpin Manajemen Iwan Fals, untuk membiayai “jadwal-jadwal” pemakaian studio untuk latihan, rekaman, dan sebagainya. Kalau biaya sewa studio dihitung Rp 500 ribu sekali pakai, Iwan mengatakan pada saya, ia memakai 720 kali jadwal untuk membuat album yang dinamai Suara Hati. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Artinya, Iwan membutuhkan sekitar Rp 360 juta untuk membiayai jadwal rekamannya. Manajemen Iwan Fals memakai pinjaman Musica itu untuk membangun sebuah studio. Iwan lantas menyewa studio itu kepada Manajemen Iwan Fals. Agak rumit memang. Iwan berhitung bisnis dengan istrinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana membayar Musica? Iwan menerangkan bahwa royalti sebuah kaset Rp 2.000. Kalau Suara Hati laku, katakanlah 150 ribu, berarti ia mendapat Rp 300 juta. Royalti ini dipakai membayar piutang Musica. “Dari segi ekonomi saya rugi. Saya nggak dapat apa-apa dari Musica. Saya hanya mengharapkan dari royalti ... kaset itu seumur hidup ya,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan memanfaatkan teman-teman lama—Inisisri, Nanoe, Iwang Noorsaid, dan Maman Piul (pemain biola)—untuk mengerjakan Suara Hati. Kesulitan terbesar muncul dari komputer. Iwan menggunakan komputer mutakhir Macintosh G4 dalam studio barunya. “Saya nggak pakai operator karena nggak bisa bayar,” kata Iwan. “Saya juga mau belajar komputer.” Iwan tak memahami kerja Macintosh dengan rapi. Dampaknya, ada rekaman-rekaman yang hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Khusus memilih pemain gitar prosesnya berbeda. Suatu hari Endi Aras mengajak Digo Zulkifli, gitaris asal Bandung yang juga penggemar Fals, berkunjung ke Leuwinanggung. Digo membantu Endi di Matamata Communications sesudah kenal saat pembentukan Oi. Hari itu Digo menemui Iwan di studio. Kebetulan Iwan lagi butuh orang mengisi gitar listrik. Di studio, menurut Digo, ia ditanya Iwan, “Digo kamu main elektrik?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Coba deh ini di album baru.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta waktu dan ruangnya saja,” kata Digo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Iwan mempersilakan tapi mengingatkan Digo bahwa proposal Digo belum tentu diterima. Digo bersedia. Digo menduga Manajemen Iwan Fals masih mempertimbangkan gitaris kawakan Ian Antono, I Gede Dewa Bujana, dan Totok Tewel untuk mengisi gitar. Ketiga gitaris itu kenal Iwan. Ian Antono juga menata musik album Mata Dewa. Pilihan ternyata jatuh pada Digo Zulkifli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Digo pun ikut rekaman bersama Inisisri, Nanoe, Noorsaid, dan Iwan. Ketika rekaman rusak, Iwan merasa sungkan minta kembali Nanoe, Noorsaid, dan Inisisri. “Nggak enak,” katanya. Digo dengan mudah dimintanya ikut rekaman ulang. Iwan pun membentuk band baru untuk mengisi sebagian rekaman yang hilang. Iwan mengajak Edi Edot (bass), Ayub Suparman (kibor), dan Danny Kurniawan (drum).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ternyata ada rekaman lama yang ditemukan lagi. Dalam album Suara Hati, lagu Hadapi Saja muncul dua kali. Dua lagu, dua band, satu penyanyi, satu album. Kontribusi Noorsaid ada pada lima dari 12 lagu di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi Aras melihat adanya dua band ini dengan kritis. “Iwan gampang meninggalkan kawan-kawannya. Grup yang sekarang ini dari penggemar dia semua. Itu dari Oi semua,” kata Endi, seakan-akan hendak mengatakan Fals sekarang dikelilingi orang yang relatif kurang setara kemampuannya dengan Iwan. Tak ada lagi Sawung Jabo, Inisisri, Ian Antono atau Jalu, Cok Rampal, Ari Ayunir, Heiri Buchaeri, Iwang Noorsaid. Nanoe bahkan meninggal ketika Suara Hati belum sempat diluncurkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Padahal tantangan Iwan makin besar. Naik ke puncak tangga sangat sulit tapi mempertahankannya lebih sulit lagi. Umur juga bertambah. Iwan juga harus mengikuti selera penggemar yang lebih muda. “Kalau Iwan mau panjang, orang-orangnya harus profesional. Posisi manajer di situ bisa lemah karena istri sendiri. Iwan nggak bisa di-manage karena egonya sangat besar. Yos bingung juga,” kata Endi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Suara Hati diluncurkan awal tahun ini. Tempo menyebut album ini lagu-lagunya bagus tapi aransemennya lemah. Hai memuji setinggi langit. Sambutan publik cukup baik. Keberadaan Oi tampaknya membantu pemasaran kaset Fals. Anggota-anggota Oi adalah penggemar fanatik Iwan. Manajemen Iwan Fals menyambung peluncuran album itu dengan konser Satu Hati Satu Rasa sekitar 40 kota, antara Maret hingga Agustus lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Suasana Indonesia berbeda sekali antara konser Satu Hati Satu Rasa dan Mata Dewa. Pada 1989 hambatan Mata Dewa terletak pada polisi. Konsernya dilarang di Palembang. Kini demokratisasi mulai terasa di berbagai institusi negara, termasuk polisi, sehingga tur Satu Hati Satu Rasa tahun ini berjalan lancar. Tak ada larangan walau Manajemen Iwan Fals sempat memundurkan beberapa jadwal konser karena ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Agustus lalu. Alasannya, tenaga polisi dikerahkan mengatasi massa politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Iwan Fals bukan saja tampil di kota besar macam Jakarta dan Surabaya, tapi juga kota menengah macam Cilegon, Sukabumi, Kuningan, Bandar Lampung, Magelang, Mataram, dan sebagainya. Dari laporan suratkabar, jumlah penonton berkisar 5.000 hingga 15.000 orang. Tak sebesar konser Kantata Takwa dengan 100 ribu penonton tapi harus diingat bahwa konser kali ini jumlah kotanya benar-benar banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sendjaja Widjaja, hingga 25 Agustus lalu kaset Suara Hati sudah terjual 160 ribu. Ini lumayan untuk ukuran Musica walau belum selaris band remaja Sheila on 7 dari PT Sony Music Indonesia yang penjualan album tunggalnya bisa tembus satu juta keping.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Menurut Sendjaja, penjualan album Fals paling laris adalah Tembang Cinta (1993) sebanyak 535 ribu dan Best of the Best Iwan Fals sebanyak 466 ribu. Keduanya album kompilasi atau campuran. Best of the Best diedarkan tahun 2000 dan sampai sekarang masih termasuk album-album terlaris Musica.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi Aras mengatakan lagu Hadapi Saja disukai Iwan. Album ini mengingatkan pendengar pada kematian Galang Rambu Anarki. Ini juga mengingatkan saya pada penghormatan Eric Clapton kepada anaknya, Conor, dengan lagu Tears in Heaven. Conor masih berumur 4,5 tahun ketika jatuh dari lantai 56 apartemen Clapton di New York pada 1991. Clapton juga tertekan karena kematian Conor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Aransemen Hadapi Saja meyayat hati. Permainan biolanya mengalun. Liriknya juga kuat. Saya kira kematian anak-anak mereka jadi dorongan besar bagi Clapton dan Fals untuk menciptakan karya yang ekspresif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;relakan yang terjadi dia takkan kembali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;ia sudah jadi milik-Nya bukan milik kita lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;tak perlu menangis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;tak perlu bersedih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;tak perlu sedu sedan itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;hadapi saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;hilang memang hilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;wajahnya terus terbayang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;jumpa di mimpi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;kau ajak aku untuk menari, bernyanyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;i&gt;bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Endi Aras juga cerita proses pembuatan lagu 15 Juli 1996. Pada 15 Juli 1996 Endi menemani Iwan Fals pergi ke tempat Megawati Soekarnoputri, ketua Partai Demokrasi Indonesia, yang kedudukannya sedang digoyang tukang pukul dan centeng Soeharto. Iwan tak bertemu Megawati, hanya lihat dari jauh, tapi simpatinya muncul. Dua minggu setelah kedatangan Iwan, para tukang pukul itu menyerbu markas Megawati, menggusur para pendukung Megawati dengan kekerasan, dan memicu pergolakan Jakarta yang dikenang sebagai Peristiwa 27 Juli 1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada kritik tentu. Kritik datang dari Santi W.E. Soekanto, wartawan The Jakarta Post, yang mengingatkan publik bahwa sponsor utama Iwan Fals adalah rokok A Mild dari Sampoerna. “Inilah hal yang sama sekali tak dibutuhkan Indonesia: pahlawan yang memperkenalkan ‘pintu masuk’ pemakaian narkotika dan obat-obatan keras.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Soekanto mengutip data World Health Organization yang mengatakan ada 1,1 miliar perokok di dunia. Jumlah ini akan meningkat hingga 1,6 miliar pada 2025. Di negara-negara kaya, jumlah perokok menurun, tapi jumlahnya meningkat di negara-negara miskin. Indonesia negara miskin bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Departemen Kesehatan melaporkan 6,5 juta orang Indonesia tiap tahun terkena penyakit akibat kebiasaan merokok dan 57 ribu di antaranya meninggal dunia (kebanyakan laki-laki). Kebiasaan merokok membuat pemerintah kehilangan banyak sumber daya karena membiayai kerusakan-kerusakan akibat rokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara kaya kampanye antirokok berjalan kencang. Federation of Football Association (FIFA) November lalu menandatangani perjanjian dengan WHO melarang sponsor rokok di lapangan sepak bola. FIFA sengaja menyamakan pembukaan Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang 31 Mei lalu dengan hari antirokok sedunia. MTV mendukung kampanye antirokok dengan memasang iklan para penyanyi yang menganjurkan remaja tak merokok. Di Amerika Serikat para penyanyi besar mendukung kampanye antirokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Industri rokok melawan kampanye ini lewat iklan dan promosi besar-besaran, terutama di negara-negara berkembang, baik lewat sponsor olahraga maupun musik. Iklan mereka menipu para remaja dengan kesan palsu bahwa rokok membuat mereka terlihat gagah dan dewasa. Rokok diidentikkan dengan olahragawan dan musisi ternama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Ini dilawan. WHO di Indonesia memilih juara tenis Angelique Widjaja, binaragawan Ade Rai, dan peragawati Tracy Trinita untuk mendukung kampanye antirokok. “Sayangnya, tak terlalu banyak anak muda yang melihat Angie, Ade, atau Tracy. Para aktivis antirokok memerlukan senjata yang lebih besar. Seseorang dengan kaliber Iwan Fals,” kata Santi Soekanto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kolom ini mengingatkan saya pada diskusi Salatiga 12 tahun lalu. Dalam 12 tahun ini Iwan melihat Galang ikut-ikutan papanya merokok lantas mencoba obat-obatan hingga meninggal. Kehidupan pribadi Iwan memang berubah banyak. Titin Fatimah, sekretaris Manajemen Iwan Fals, mengatakan pada saya ketika ia mulai bekerja tiga tahun lalu, Iwan Fals sudah tak merokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;“Suatu kenyataan hanya rokok yang bisa mengeluarkan dana cukup besar untuk pertunjukan musik. Dulu kalau pertunjukan indoor, banyak penonton yang tak bisa nonton. Kami memutuskan outdoor dan biaya produksinya besar. Hanya rokok yang bisa membiayainya,” kata Yos Rosana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Fals sempat bilang dia mungkin bisa merokok lagi dengan tur sponsor rokok. Yos mengatakan lebih baik tidak tur bila Iwan Fals kembali merokok. “Mendingan nggak usah main,” kata Yos. “Saya juga nggak suka rokok itu. Saya tahu itu ndak baik. Ini buah simalakama,” kata Yos.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Henny Susanto dari Sampoerna, menerangkan kepada saya bahwa A Mild menghormati kontrak itu. Mereka mensponsori Iwan Fals karena penggemar Fals “sangat sesuai” dengan pangsa pasar A Mild.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Titin, Yos, dan Henny Susanto senada dengan materi diskusi Salatiga. Rokok dianggap menganggu estetika tapi bukan kesehatan. Saya sulit menyalahkan Iwan kalau ia belum berani menolak sponsor rokok karena kontribusinya sangat besar. Tanpa rokok mungkin tak ada konser.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Apa yang didapat Sampoerna? Henny Susanto menjawab, “Kesempatan untuk berkomunikasi dengan target market, baik yang datang ke pertunjukan maupun yang sekedar melihat publikasi yang kita lakukan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh menterjemahkan kata-kata Henny Susanto, A Mild merasa gembira dengan kerja sama ini. Para penggemar Iwan Fals, katakanlah orang semacam Fajar Wijaya, si pengamen bertopi merah itu, adalah pangsa pasar A Mild. Sedih juga mengetahui Iwan Fals ikut mendorong anak-anak muda merokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: arial; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan bukan sesuatu yang sederhana. Kehidupan sering penuh kompromi. Senja September itu, ketika saya meninggalkan Leuwinanggung, pikiran saya penuh dengan gejolak tentang Iwan Fals. Dia dipuja, disukai, dan dianggap manusia super, tapi ia juga mungkin kesulitan memenuhi harapan orang banyak yang menganggapnya bisa mewakili dan menolong mereka. (&lt;a href="http://andreasharsono.blogspot.com/"&gt;Andreas Harsono&lt;/a&gt;)&lt;a title="Edit Post" href="http://www2.blogger.com/post-edit.g?blogID=9060573&amp;amp;postID=115439250415250406"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="CLEAR: both; FONT-FAMILY: arial"&gt;&lt;!-- --&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:arial;" &gt;&lt;a href="http://falsettoholic.multiply.com/"&gt;http://falsettoholic.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u style="FONT-STYLE: italic; FONT-FAMILY: arial"&gt;&lt;a href="http://www.iwanfalsmania.blogspot.com/"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(0,0,255)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/a&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://www.iwanfalsmania.blogspot.com/"&gt;http://www.iwanfalsmania.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/u&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-1602468424510099188?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/1602468424510099188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=1602468424510099188' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1602468424510099188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1602468424510099188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/05/artikel-dewa-dari-leuwinanggung.html' title='Artikel: Dewa dari Leuwinanggung'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-1807271995418856142</id><published>2007-03-03T10:01:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:37:42.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>In Memoriam Tito</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;In Memoriam Tito&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: gunawan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tito, sosok pribadi yang enerjik, aktif, supel dalam bergaul, memiliki solidaritas yang tinggi, memiliki sense of humor yang tinggi menurut dirinya sendiri, karena belum tentu dirasa lucu bagi orang lain termasuk diriku sendiri saat dia bercerita tentang hal-hal lucu dan berkelakar atau bisa dibilang lawakannya “garing”. Yang kurang dalam dirinya ialah dia plin plan dalam membuat keputusan, ini yang membuat bingung teman-temannya termasuk diriku. Mungkin itu yang masih ada dalam ingatanku, dalam perjalanan yang singkat mengenal pribadi seorang Tito di SMU 82 Jakarta 8 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan awal dimulai ketika kami bertemu di pembukaan penerimaan ekskul Pencintaan Alam Werdibhuwana, sebuah organisasi yang dinamis dan kokoh, bahkan cukup solid saat itu dalam sebuah keluarga besar anggota Werdibhuwana. Motivasiku saat itu cukup sederhana, aku hanya ingin berpetualang. Pergi kemana saja yang aku suka. Mendaki gunung yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Memasuki daerah-daerah yang sangat asing bagiku. Aku hanya tahu bahwa abangku juga seorang anggota Pencinta Alam di SMU yang sama saat aku masih duduk di SMP. Dan tidak sedikit pun aku bertanya-tanya tentang kegiatannya sebagai seorang pencinta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1995. Memasuki SMU 82 adalah dunia baru bagiku. Perubahan lingkungan dan gaya hidup memberiku sebuah fase baru dalam perjalanan hidup. Sebuah sejarah baru mulai aku tapaki saat itu. Dalam pikiranku yang sederhana, aku hanya menjalani keputusan Tuhan bahwa aku diterima lagi di sekolah negeri. Sempat terbesit pertanyaan kenapa aku diterima di sekolah SMU 82. Aku tidak mengerti tetapi juga tidak berusaha mencari-cari jawabannya. Hal ini aku syukuri bahwa aku tidak menyusahkan kedua orang tuaku dengan menjalani apa yang peroleh sebagai rizki dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMU 82 bagiku adalah sekolah bagi murid-murid yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas, yang tidak sedikit latar belakang kedua orang tuanya adalah para pejabat, militer karir berpangkat dan para pengusaha yang sukses. Hanya sedikit atau minoritas untuk ukuran ekonomi seperti aku. Sempat muncul rasa minder atau takut memasuki lingkungan baru di sekolahku, tapi aku tetap berusaha untuk menjadi diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya mayoritas mereka adalah teman-teman yang sangat baik, solider, dan memiliki sense of humor yang tinggi atau bahkan bisa dibilang “sangat konyol” dalam bercanda atau berkelakar. Dan ternyata benang merah dari sekolah itu adalah bahwa selalu saja dipertemukan teman-teman dilingkungannya yang bertingkah konyol dari setiap angkatan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya aku merasa nyaman dalam lingkungan sekolah. Tapi yang membuat aku sedih, sebuah faktor yang memisahkan kami atau membuat kami jadi berbeda dalam bergaul adalah di sekolah adalah putaw dan shabu-shabu. Teman-teman yang terlibat dengan barang itu lebih memilih mengasingkan diri sendiri. Begitu juga aku jadi begitu benci terhadap orang-orang yang menggunakannya. Dunia labil dengan segala problemanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tito&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tito, yang aku ingat saat kami sama-sama dikelas satu adalah murid dikelas 1.1 sementara aku masuk kelas 1.5. Dalam kehidupan sehari-hari kami memang sangat jarang bertemu dengannya. Aku cukup menikmati pergaulan dikelas satuku dulu, teman-teman seperti Deni, Roland, Dimas (cenos), philip, wendi dll. Mayoritas Kegemaran kami sama, kami sama-sama menyukai bermain bola saat itu. Bahkan mungkin teman-teman yang tidak begitu suka akan terpaksa atau dipaksakan oleh diri sendiri menjadi suka demi mempererat pergaulan kami dikelas itu. Tetapi memang sangat efektif. Bahwa dengan satu hobi yang kami jalani bersama-sama hubungan pertemanan jadi lebih erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar lingkungan sekolah setelah bel pulang sekolah biasanya kami suka “nongrong bareng” di warning (warung kuning) di sebelah pom bensin, 100 meter sebelah selatan sekolah. Disitulah terjadi pertemuan dengan teman-teman yang lingkupnya lebih luas lagi. Teman-teman dari berbagai kelas berbaur bersama dalam canda dan tawa yang tiada ujungnya. Disitulah aku juga bertemu dengan askhaf, ibram, sentot, teman-teman satu organisasi di WB. Tapi hampir aku tidak pernah melihat tito atau wahyu (bejo) atau andriant (pusink) saat itu disana. Jadi hubungan perkenalan dan pertemanan aku dengan tito bisa dibilang belum begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sang Ketua Osis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berakhir tidak terasa kami sama-sama menginjak kelas dua. Aku di kelas 2.2. dan aku lupa dikelas mana dia saat itu. Kehidupan dalam masa-masa eforia dalam dunia sendirinya begitu dinikmati. Cela-mencela, gurauan, bahkan terkadang melibatkan fisik tanpa empati yang diselubungi sebagai canda tawa menjadi bagian dari hari-hari dalam pertemanan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku ingat Kegiatan di WB cukup menyibukan kami. Saat itu saat menjabat sebagai ketua diklatsar XII untuk calon anggota baru. Aku juga tidak ingat Tito menjabat apa saat itu, dalam perjalanannya aku hanya ingat bahwa dia disibukan dengan pencalonan Ketua OSIS di sekolah kami. Oleh karena itu dia sering meminta ijin untuk mengikuti kegiatan LDKS (latihan dasar kepemimpinan siswa). Bahkan sampai menginap di sekolah. Aku ingat bahwa komentar teman-teman di LDKS. Bahwa Tito memang orang yang cukup kritis dan vokal. Satu nilai lebih yang menjadi kekuatan kami di WB yang mengirim utusannya dalam perebutan kursi ketua OSIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanpa aku sadari juga bahwa pemilihan telah berlalu, dan pengumuman pun berlangsung dari kuping ke kuping teman-teman di sekolah yang sampai ke telingaku bahwa tito terpilih menjadi ketua OSIS. Dalam hati kecilku, aku salut dengannya bahwa dia bisa menjadi orang dipercaya dan dipilih untuk menjadi ketua OSIS di sekolah itu. Butuh kemampuan, dan pandangan serta keberanian besar untuk mengakomodir kegiatan murid-murid di sekolah. Dan kesalutan bagi kami teman-teman di WB bahwa sepanjang sejarah pemilihan ketua OSIS belum pernah ada satu pun anggota WB terpilih menjadi ketua OSIS. Ini adalah sejarah baru bagi WB. Fenomena yang perlu di catat, minimal dalam kepalaku. sekali lagi, Salut buat Tito!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelantikan dan Tragedi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saat itu aku sebagai BPH (badan pengurus harian) WB bersama teman-teman sedang disibukan dengan pelantikan calon anggota baru yang akan menjadi anggota. Sekian bulan kami diklat dalam tempaan materi, mental dan fisik bersama-sama. Ini yang ditunggu-tunggu bagi kami. Aku begitu juga teman-teman yang lain sibuk mempersiapkan segala peralatan, perbekalan, akomodasi, dokumentasi dan konsep acara dalam pelantikan yang akan diadakan tanggal 19-22 Oktober 1996 (kalau tidak salah). aku persiapkan perbekalan dan peralatan pendakianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kulihat Tito membeli peralatan baru, sebuah tenda dom dengan kapasitas 4 atau 5 orang. Yang dirasakan berbeda, ekpresinya begitu senang dan sangat baik, dia seperti tidak sabar menunggu-nunggu dalam acara pelantikan ini. Pertanda apa ini. Sudahlah aku abaikan saja saat itu. Lalu mulailah hari yang ditunggu. 19 Oktober kami berangkat dengan truk TNI ke Gunung Bunder, Suka Bumi, Jawa Barat dengan membawa calon anggota 15 orang, bersama panitia dan alumni seluruhnya berjumlah kira-kira 30 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan memakan waktu 4-5 jam. Tiba di gunung bunder kami beristirahat sebentar untuk mempersiapkan diri. Berselang 20 menit. Kami mulai menapaki jalur menuju kawah hirup kaki gunung salak. Tiba di kawah hirup pada sore hari, aku tidak tahu betul pukul berapa saat itu. Kami putuskan untuk berkemah disitu. Memang disitu tempat yang sudah termasuk dalam jadwal acara kami. Hampir tidak ada yang perubahan dalam jadwal acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari di kawah hirup, kegiatan berjalan pada tahap pemulihan fisik masing-masing peserta yaitu makan, minum, merokok (bagi perokok), memakai baju hangat, dan tidak lupa diselingi canda dan tawa. Calon anggota diberi aturan hanya tidur di bivac yang terbuat dari ponco yang mereka bawa. Ini adalah salah satu ujian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat betul Tito begitu senang disana, dia seperti mengalami suasana hati yang sangat senang. Tertawa lepas. Berteriak. Hal yang berbeda yang aku rasakan selama aku melakukan pendakian bersamanya. Pertanda apa ini, aku abaikan lagi. Mungkin Cuma masalah sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, 20 Oktober 1996. Waktu menunjukan sekitar pukul 5 pagi. Semua peserta melakukan sholat subuh berjamaah. Termasuk tito sebagai seorang muslim. Diakhir sholat teman-teman segera kembali pada tendanya masing-masing serta berencana mempersiapkan diri menyiapakan acara berikutnya. Aku masih melihat Tito, bersama salah seorang peserta sholat yang masih duduk disana. Dzikir dan doanya cukup lama, terlihat kusyu sekali rasanya. Sepertinya banyak sekali doa-doa yang ia panjatkan. Keinginan-keinginan yang belum tercapai. Harapan-harapan masa depan dalam dirinya. Dan tentunya penghapusan dosa-dosa yang ia miliki sebagai manusia biasa. Serta limpahan pahala dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu waktu menunjukan sekitar 7.30 pagi. Matahari sudah menyembul menyirami sinarnya. Hangat sinarnya menusuk kulit. Teman-teman panitia sudah siap dengan perut yang kenyang. Peralatan penyeberangan kering disiapkan. Tali dinamis sepanjang kira-kira 30 meter dibawa ke danau yang ada dekat disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, bersama sebagian besar teman panitia turun ke arah danau. Dalam kondisi kami persiapkan kegiatan itu, Tito bersama senior kelas 3 masih ditenda, saat itu ia ingin buang air besar. Lalu ia menuju arah batu kapur lebih tinggi ke arah selatan. Kira-kira 5 meter dari tendanya dia menemukan ceruk lubang dalam disana. Pikirnya mungkin cocok untuk buang air besar disana, karena tidak terlihat oleh siapa pun.&lt;br /&gt;Tanpa menunggu lama duduk ia disana untuk membuang hajat yang tidak tertahankan. Padahal sebelumnya, ia telah diperingatkan terlebih dulu oleh Bang Sahro (alumni dari exispal) untuk tidak membuang hajat disana. Lebih baik dia mencari semak-semak. Tapi peringatan itu tidak digubrisnya. Pikirnya itu hanya persoalan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa menit. Adit (salah satu senior kelas 3), memanggil tito dengan alasan bahwa dia diperlukan untuk suatu hal, tapi teriakkannya tak dijawab. Sekeras-kerasnya Adit berusaha memanggil kembali namanya. Tapi juga tak ada jawaban. Adit melihat bahwa adanya tanda-tanda aneh terhadap Tito. Awalnya posisi duduk Tito dengan menghadap ke arah tenda kami berada dimana dari arah tenda kepalanya masih terlihat jelas. Tapi kali ini kepalanya sudah tidak tampak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah panggilan yang kesekian kalinya dengan diikuti rasa tidak sabar teman-teman. Salah satu senior naik ke atas menuju ke arah tito berada. Setelah sampai, tak disangka, posisi tito tertelungkup ke depan. Ia dalam kondisi pingsan dengan keadaan masih seperti membuang hajat. Akhirnya teman-teman menggotongnya ke dalam tenda. Teman-teman panitia yang sedang membuat alat penyebrangan basah segera dipanggil, dikabarkan bahwa, “Tito pingsan…Tito pingsan…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang dibawah segera menuju ke arah camp. Disana sudah berkumpul beberapa orang panitia tapi tidak termasuk peserta dari calon anggota. Hal ini dirahasiakan agar mereka tidak kaget atau shock mendengar situasi ini. Para senior berusaha menenangkan kami dalam situasi yang tidak diduga ini meskipun aku yakin mereka semua dalam keadaan hati yang bergemuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku sendiri merasa tidak tenang melihat keadaan Tito yang pingsan. Ketidak tenangan ini bertambah saat mengetahui kondisi bahwa diantara kami tidak ada yang mengetahui teknik P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) dengan benar. Kami hanya mengolesi hidung, dahinya dengan obat masuk angin atau balsem. Aku pikir, mereka termasuk diriku tidak tahu pasti bagaimana kondisi kesehatan Tito saat itu. Karena tidak ada yang bisa mendiagnosa dengan pasti sebab dan akibat yang terjadi dengan Tito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku tahu saat itu, bahwa saat dilakukan napas buatan oleh wahyu bejo (teman angkatanku), dari hidungnya seperti terdengar air yang menggerojok, dan nyatanya air itu adalah darah. Kegelisahan kami semakin menjadi-jadi, lalu segera teman-teman membuat tandu dari batang pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keputusan yang disesalkan…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setelah Tito dinaikan ke atas tandu dan diikat tubuhnya. Kami harus memilih jalur mana yang harus kami tempuh dalam keadaan yang kritis dan waktu yang singkat ini. Kami sempat berdebat sebentar saat itu soal jalan alternatif. Lalu diputuskanlah oleh bang sahro untuk mengambil jalur arah Gunung Bunder dengan alasan bahwa keadaan jalurnya landai dan tidak sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kami bergerak. Tim dibagi menjadi tiga, tim pertama membawa Tito, tim kedua meneruskan acara pelantikan menuju Gunung Perbakti. Dan tim ketiga menjaga peralatan yang kami tinggalkan di kawah Hirup. Aku yang termasuk dalam tim pertama, kami silih berganti mengangkat tandu dan membuka jalan. Para pendaki yang berpapasan dengan kami hanya terpana melihat situasi kami saat itu. Aku berpikir pasti dalam benak mereka muncul ribuan penafsiran yang bisa menciutkan mental mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka perjalanan dengan beban membawa tandu yang digotong enam orang antara kanan dan kiri cukup menyulitkan. Jalan yang sempit ditambah beban tubuh Tito dibandingkan aku yang cukup berat sangat menguras tenaga kami saat itu. Jalur terlalu jauh untuk ditempuh, tetapi kami sudah setengah perjalanan. Wahyu, salah sahabat baik Tito mulai tidak sabar untuk terus memberi semangat bahwa kami pasti sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat beberapa meter lagi sampai camp gunung bunder. Tenaga sudah terkuras habis. Kami istirahat sejenak. Lemas dalam keadaan ribuan pikiran yang menggelisahkan. Saat kepala Tito diangkat perlahan oleh bang sahro, tampak badannya sudah mulai kaku. Tanda-tanda apa ini. Kegelisahan kami makin memuncak. Wahyu segera memerintahkan untuk segera bergerak lagi. Kami langsung bergegas saat itu juga, disaat itu banyak orang yang akan melakukan pendakian, saat melihat keadaan kami. Mereka urungkan niatnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampailah kami di jalan aspal camp Gunung Bunder. Kebetulan disana ada mobil angkot yang akan kebawah. Mulai kami tawar menawar pada supirnya. Sempat terjadi perdebatan antara kami dan supir karena sang supir tiba-tiba tidak mau mengangkut kami karena melihat tandu Tito, dia hanya tidak mau bertanggung jawab terlibat kalau terjadi apa-apa dengan Tito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk saja dengan sedikit tekanan, dia akhirnya mau membawa kami ke rumah sakit terdekat. Dalam perjalanan, dalam hatiku masih tersimpan harapan adanya keselamatan Tito, “Awas lo To kalo udah sembuh, badan lo berat banget….!”. pikirku. Aku tak sanggup menatap bola matanya yang sudah tidak jernih lagi itu. Seperti mengaburkan harapan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama sampailah kami dirumah sakit. Tito langsung di bawa kedalam untuk diperiksa. Tak berselang lama. Dokter memberitahukan tentang kabar duka, “Tito sudah tiada….!” Dus, kegelisahan dalam hati kami akhirnya meledak juga. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan hal ini pada keluarganya? Bagaimana mungkin Tito yang tadi pagi aku lihat masih tertawa dengan senangnya? Bagaimana mungkin dalam sujudnya di waktu subuh dia begitu khusyu dan aku mendapatkan kenyataan bahwa itu adalah tertawanya dan sholatnya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berselang lama datang orang dari Jakarta, sanak keluarga dari Tito. Mereka pun tenggelam dalam tangisan tidak bisa menerima kenyataan yang terlalu cepat ini. kami diam seribu bahasa, hampir tidak bisa berkata apa-apa. Kemudian setelah urusan di rumah sakit selesai. tim pertama kembali menuju kawah Hirup melalui jalur Cidahu, kaki Gunung Salak, Sukabumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermalam sebentar di Javanaspa. Keesokan pagi kami dibangunkan, Disana sudah berkumpul alumni WB dari jakarta. Setelah menyegarkan diri, kami bersama-sama naik ke arah Kawah Hirup. Kami memotong jalan melalui kebun bunga tembus langsung ke simpang. Perjalanan sangat singkat. Di depan sudah tampak kawah ratu dan dibaliknya adalah kawah hirup. Dalam hati kecilku, aku sangat menyesali kenapa tidak lewat jalur yang singkat ini saja untuk mengejar waktu. Meskipun jalur di Kawah Ratu begitu sulit. Kalau sedikit bersabar dan hati-hati aku yakin kita bisa sampai disimpang. Dan kita tinggal meminta ijin masuk ke perkebunan bunga. Itu yang masih sedikit aku sesali sekarang…..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi 8 tahun sudah berlalu….untuk apa terus menerus disesali…perjalanan masih panjang. Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup. Semoga tidak terjadi lagi hal seperti ini bagi yang lain. Meskipun alam selalu menguji kita. Dan takdir selalu menjadi rahasia Tuhan. Kita hanya bisa berusaha dan terus belajar. Salam Rimba….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 26 Oktober 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan - Manunggal Bawana&lt;br /&gt;Teman seperjuangan Almarhum Kristianto (Tito). Semoga arwahmu diterima oleh Allah SWT. Maafkanku karena telah lama sekali sejak kepergianmu aku belum sempat mengunjungi lagi makammu. Tulisan ini dibuat atas permintaan teman seperjuangan di Werdibhuawana, Askhaf, sekarang dia tinggal dan bekerja di Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-1807271995418856142?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/1807271995418856142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=1807271995418856142' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1807271995418856142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/1807271995418856142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/03/in-memoriam-tito.html' title='In Memoriam Tito'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116956322738791595</id><published>2007-01-23T21:25:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:36:24.218+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Dongeng: taman kecil</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/198786/Taman.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/617074/Taman.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAMAN KECIL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Gunawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah cerita tentang kehidupan dari sebuah taman kecil yang letaknya tepat dibawah kaki gunung. Di taman kecil hidup sebuah ekosistem yang terdiri dari berbagai macam species, diantaranya lebah, bunga, belalang, burung pipit, tupai, semut dan makhluk lainnya yang hidup disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi yang cerah itu, seekor lebah madu jantan berwarna kuning bergaris-garis biru terbang ke sana kemari membawa timba-timba kecil yang penuh dengan sari nektar, yaitu kelenjar yang dihasilkan bunga. Nektar ini diambil oleh para lebah untuk menjadi madu yang manis rasanya. Sejak matahari mulai menyembulkan kepalanya dan menyirami taman kecil dengan sinarnya yang hangat si lebah madu sudah sibuk bekerja keras membawa sari-sari nektar dari bunga-bunga yang ada di taman kecil. Sang lebah memang makhluk yang pekerja keras. Ia tidak peduli tangannya akan menjadi kasar. Karena ia senang melakukannya. Baginya pekerjaan itu adalah bagian dari hidupnya. Dengan mengambil sari-sari nektar yang ia kumpulkan dalam timba-timba kecilnya ia merasa bahwa ia ikut serta dalam menyeimbangkan alam di taman kecil ini. Itu sudah kewajibannya sebagai makhluk alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang lebah madu adalah makhluk yang bersahabat ia bergaul dengan siapa saja yang hidup di taman kecil itu. Ia juga senang membantu siapa saja yang kesulitan tanpa meminta imbalan. Oleh karena itu seluruh mahkluk yang ada di taman kecil itu senang bergaul dengannya. Menurut sang lebah madu, taman kecil itu adalah sebuah sistem dan seluruh makhluk dan benda yang ada di dalamnya bagiannya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka tidak bisa hidup tanpa bantuan makhluk lainnya. Mereka sangat paham dengan konsep rantai makanannya. Oleh karena itu mereka harus menjaga dan menghormati ekosistemnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sang lebah madu, konsep hidup dengan simbiosis mutualisme adalah cara yang baik dalam menjalani hidup ini. Karena sesama makhluk harus saling menghormati dan saling memberi keuntungan. Baginya pantang untuk memberi kerugian pada makhluk lain. Kalau saja ada yang ingin berbuat jahat dan membuat kerugian di taman kecil ini ia akan tancapkan sengatnya yang sangat tajam dan beracun ke dalam tubuh mahkluk tersebut biar ia binasa oleh racunnya. Menurutnya makhluk yang hanya mencuri keuntungan dari makhluk lain tanpa ia bekerja keras adalah pekerjaan yang memalukan dan hina. Makhluk seperti itu tidak pantas hidup di taman kecil ini. Biar ia binasa di telan bumi. Sebelum di telan ia akan di lumat oleh belatung-belatung dan di urai oleh si bakteri pemakan bangkai. Pikirnya, berarti ia juga telah memberi kebaikan pada si belatung dan bakteri yang ingin terus hidup. Ia hanya ingin segala sesuatunya berjalan dengan baik dan benar di taman kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu seperti biasanya sang lebah madu sibuk bekerja mengumpulkan sari-sari madu. Ia sangat hafal dengan seluk beluk taman kecil. Seluruh pelosok taman kecil telah ia jelajahi. Saat ia sedang terbang dengan sayapnya kesana kemari mencari bunga-bunga yang ia ingin ambil sari nektarnya. Sekejap ia terpana dengan sebuah bunga betina yang elok warnanya. Bunga itu terlihat asing baginya tetapi sangat cantik. Sepanjang hidupnya Ia belum pernah melihat bunga secantik itu di taman kecilnya. “Mungkin ia pendatang baru…..,atau dia memang makhluk taman kecil ini sementara aku saja yang tidak mengenalnya. Bodohnya diriku, masak makhluk secantik ini bisa tidak terpantau olehku. Dasar lebah madu yang sok sibuk, katanya kau mengenal wajah seluruh mahkluk dengan kebiasaan hidupnya di taman kecil ini. Sedangkan bunga cantik nan elok warna kelopaknya terasa asing bagimu sendiri. Dasar kurang pergaulan!”, pikirnya. “Loh, kok jadi menggerutu seperti ini dan malah menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak aku tanya sendiri saja ya….”, pikirnya lagi.&lt;br /&gt;Sang lebah madu jantan itu pun turun ke bumi mendekati bunga nan cantik. “Halo aku Gimo siapa namamu? Kau makhluk baru ya di taman ini? Kok aku tidak pernah melihatmu? Atau mungkin kau makhluk di taman ini tapi kau tidak pernah keluar rumah jadi tidak terpantau olehku yang selalu berkeliling ini?”, bertubi-tubi pertanyaan si lebah madu jantan di utarakan bagaikan petugas keamanan saja. Kepalanya sedikit ia tengadahkan ke atas. Dada dibusung-busungkan ke depan. Seakan akan ia adalah penguasa taman kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi si bunga malah tersenyum manis. Selain ia cantik ia juga mahkluk yang baik. Ia perkenalkan namanya dan menjawab semua pertanyaan yang diberondong oleh Gimo. “Namaku Kuntum….aku memang makhluk baru di taman ini. Aku baru saja pindah dari pot bunga kecil di pekarangan rumah manusia yang memeliharaku. Mereka memindahkanku Karena pot bunganya terlalu kecil dan sempit. Aku tidak bisa bergerak dengan bebas. Kaki-kaki akarku terasa sakit setiap hari karena tubuhku semakin lama semakin membesar. Untungnya mereka sangat baik dan mengerti. Mereka memindahkanku ke taman kecil ini. sudah satu minggu aku tinggal di taman kecil ini. Tapi aku sudah mulai kerasan disini. Disini mahkluknya ramah dan baik. Aku sangat senang tinggal disini. Aku juga senang berkenalan denganmu Gimo”, jawabnya sambil tersenyum kecil.&lt;br /&gt;Wajah Gimo jadi kemerah-merahan. Malu ia dibuatnya. Kuntum memang bunga yang cantik. Wajahnya dan giginya putih berseri. Matanya bulat dengan bulu mata yang tebal. Alisnya bagai koloni semut yang berbaris rapi. Kelopaknya bersih berwarna putih. Akhirnya ia beranikan diri untuk berbicara dengan kuntum. pertanyaan demi pertanyakan ia sampaikan kepada kuntum. kuntum pun menjawabnya dengan ramah pertanyaan-pertanyaan atas dirinya. Terkadang mereka tertawa atas hal konyol yang dibuat Gimo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa hari sudah hampir senja. Sudah waktunya Gimo untuk pulang. Ia juga harus mengantar sari-sari madu ke toko kecil Pak Remon si kumbang tua pembuat madu dan roti. Ia pun berkata, “Kuntum sudah waktuku untuk pulang. Hari sudah hampir senja sementara sari-sari ini belum juga aku antarkan. Kalau aku ada waktu. Bolehkah aku ke tempatmu lagi?” Tanya Gimo. Si kuntum menjawabnya dengan senang, “tentu saja boleh, kamu khan teman menyenangkan yang baru aku kenal.” Ge-er si Gimo di buatnya. Setelah ia kenakan kembali sayapnya ia berkata pada kuntum, “Ya sudah aku pulang ya, sampai jumpa di lain waktu”, Gimo pun berpamitan dan terbang dengan melambangkan tangannya. Hari pun berganti, dalam lipatan waktu Gimo dan kuntum telat menjadi sahabat yang akrab. Para penduduk di taman kecil itu pun menduga bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika pada siang hari yang cerah, ada serombongan manusia yang ternyata mereka adalah satu keluarga yang sedang berpiknik di taman kecil itu. Sang lebah madu sudah merasa resah. Tampaknya mereka kurang menghormati ekosistem di taman kecil ini. Diantara mereka ada yang membuang sampah sembarangan, ada yang mencabut-cabuti si rumput. Bahkan mereka menggelar alas tikar mereka diatas si bunga putri malu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunaikan pekerjaannya, Gimo mampir ke tempat Kuntum. “Kuntum berhati-hatilah, manusia-manusia itu sepertinya bukan makhluk yang baik.” Ucapnya pada Kuntum. “Baiklah aku akan berhati-hati”, balas Kuntum. Gimo pun pergi meninggalkan Kuntum, ia harus segera mengantarkan sari-sari madu tempat langganannya pak Remon. Lalu tampak seorang anak laki-laki dari manusia itu sedang memandangi-mandangi isi taman kecil, posisinya menjauhi kumpulannya. Ia sudah dekat sekali dengan Kuntum. Tangannya sangat kotor karena bekas memegang tanah dan makanannya sendiri. Perilakunya memang jahil. Ia mematah-matahkan batang-batang pohon bambu sambil tertawa-tertawa. Mengambil batu-batu kecil dan melemparkannya sejauh mungkin. Kuntum mulai merasa ketakutan. Jantungnya berdebar keras. Wajahnya pucat. “Kalau saja ia meraih tubuhku dan mencabutnya. Lalu dihempaskannya aku ketanah seperti batang bambu itu. Niscaya nyawaku tidak selamat”, pikirnya ketakutan. Tak disangka, si anak manusia itu melihat Kuntum berdiri. Karena ia bunga yang paling mencolok diantara tumbuhan lain. Si anak manusia tersenyum jahat. Tangannya mulai meraih si Kuntum dan akhirnya mencabutnya. Si Kuntum menjerit keras. Menangis sejadi-jadinya ia berteriak meminta tolong kepada siapa pun termasuk si lebah madu. Ternyata tak ada yang sanggup menolongnya. Mereka semua merasa tak berdaya dan sangat ketakutan. Si Kuntum akhirnya pasrah dan berdoa pada Tuhan. Kalau memang ajalnya tiba, ia ikhlas. Ketika akan dilemparkan sejauh-jauhnya. Si anak manusia menjerit keras kesakitan. Ada yang menyengat tangan kanannya. Si Kuntum pun jatuh kembali ke tanah. Tak disangka Gimo datang tepat pada waktunya. Ia langsung memberi kode kepada teman-temannya untuk menyerang si anak manusia. Dari balik semak, keluarlah serombongan besar lebah-lebah madu jantan yang siap dengan sengatnya yang tajam dan beracun. Mereka langsung menyengat sekujur tubuh si anak manusia tanpa ampun. Si anak manusia itu pun lari tunggang langgang sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, Kuntum pun dikembalikan ke tanah tempat ia memijakan akarnya, dibantu oleh burung pipit, tupai dan para semut. Semua penduduk taman kecil pun kembali bersuka cita dengan selamatnya Kuntum dari ulah manusia jahat. Gimo menjadi pahlawan hari itu, tubuhnya diangkat dan dijunjung tinggi oleh teman-temannya. Gimo berkata pada penduduk taman kecil, “Barang siapa yang mengganggu kehidupan di taman kecil ini harus kita usir jauh-jauh, setuju!”, “Setujuuuuuu!” teriak penduduk taman kecil dengan kompaknya. Begitulah kisah di taman kecil, penduduk taman taman kecil sadar bahwa ekosistem harus terus di jaga agar kehidupan berjalan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;warung buncit, 2006&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NB: pernah diikutsertakan dalam lomba dongeng majalah bobo tahun 2006. tapi kalah, Huh looser hehe!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116956322738791595?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116956322738791595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116956322738791595' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116956322738791595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116956322738791595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/01/dongeng-taman-kecil.html' title='Dongeng: taman kecil'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116849785446592720</id><published>2007-01-11T13:13:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:35:43.198+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cerpen: Berlari</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/12947/berlari1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/274982/berlari1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/629416/berlari5.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/9908/berlari5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/752362/berlari4.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/893841/berlari4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/777090/berlari2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/891159/berlari2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/531513/berlari3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/459001/berlari3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/604499/berlari6.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/781456/berlari6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berlari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis kata ini mengingatkanku pada seluruh aktifitas yang berhubungan dengan lari. Aku jadi ingat saat kecil dulu. Saat dimana aku memandang hidup begitu indah. Saat dimana beban pikiran tidak begitu berarti. Saat dimana duniaku adalah dunia bermain dan belajar. Saat dimana kebebasan kuraih sebagai anak kampung dan sederhana layaknya. Tertawa, berteriak, menangis, bermain dan berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;#1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat pengalaman-pengalaman lucu yang kudapat dengan berlari. Aku ingat ketika aku mencari ikan bersama teman kecilku di kali dekat rumah kami. Kali yang waktu itu masih jernih. Airnya setinggi satu jengkal kaki orang dewasa. Waktu itu, masih banyak berbagai jenis ikan hidup disana. Betok, sapu-sapu, gabus, cere, belut, moa (sejenis lindung yang bertelinga) bahkan biawak pernah juga ditemui di kali itu. Pagi itu aku mencari ikan cere yang banyak berkumpul digorong-gorong. Hanya dengan menggunakan tanganku yang kecil aku bisa mendapatkan banyak ikan. Bagaimana kalau dengan jaring? Pasti lebih banyak lagi pikirku. Kutengadahkan tanganku ke dalam gorong yang besar. Ikan-ikan cere yang gendut-gendut dan dewasa terperangkap ditanganku. Perasaanku begitu riang mendapatkannya. Kukumpulkan hasil tangkapku ke dalam plastik besar. Akhirnya pagi itu kami mendapatkan banyak ikan. Setelah puas bermain-main air dikali dan hasil tangkapan yang cukup. Kami putuskan untuk pulang kerumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan pulang menuju rumah kami saat itu melewati rumah-rumah gedongan yang salah satu rumahnya memiliki seekor anjing besar dan galak. pemiliknya adalah mas Andi tetangga kami yang baik Sebenarnya kami enggan melewati jalan itu. Tapi karena malas melewati jalan lain dengan perasaan gentar dan was-was kami lewati juga. Awalnya kami coba untuk berjalan tenang dan tidak menimbulkan rasa curiga. Pagi itu si anjing besar tidak tampak wujudnya. Dan suaranya pun hening. Tapi begitu melewati rumah Mas Andi sejauh dua meter sang anjing keluar dari rumah. Menggonggong begitu keras. Tingginya hampir sepinggang kami. Kami panik. Temanku memintaku berlari. “Wan lari Wan…lari!”. Tanpa pikir panjang lagi. Kami lari sekencang-kencangnya sambil menenteng sekantong air berisi ikan cere. Pada saat yang sama sang anjing besar mengejar kami dari belakang yang hanya berjarak satu meter. Jantungku berdegup keras. Keringat dingin keluar. Aku sangat takut digigit anjing. Apalagi kalau sang anjing terkena rabies. bisa jadi gila pikirku kala itu. selang beberapa detik kami kejaran-kejaran dan nyaris moncongnya mendekati pantatku. Mas Andi, sang tuan rumah memanggil anjingnya. Seperti disihir anjing itu berhenti dan berbalik badan. Sungguh hebat! Ditanjakan pertigaan ujung jalan itu. kami jatuh lemas. Temanku senyum-senyum melihatku dan akupun tertawa dengan kejadian ini sambil melihat kantong ikan cere yang airnya bergoyang-goyang. &lt;em&gt;Slamet…slamet…(makan nasi sama garem)!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;#2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat saat duduk di sekolah dasar dulu, SDN pulo 08 petang di Selatan Jakarta. Pak Edi, Guru olahragaku begitu keranjingan dengan aktifitas berlari. Baginya berlari adalah adalah permulaan dari sebuah pemanasan tubuh. Dimana otot-otot bergerak elastis. Oleh karena itu setiap jam olahraga dia memulai dengan menyuruh kami berlari memutari sekolah. Saat ujian, dia juga mengambil nilai dari beberapa cabang atletik. Salah satunya adalah lari marathon. Untuk pengalaman ini aku pernah juara kedua. Ini adalah hal yang tidak disangka-sangka. Aku sadar betul dengan kemampuan tubuhku yang kurus dan kecil. Fisik teman sekolahku, Toni, lebih besar dan kuat dalam berlari. Makanya dia selalu juara satu dalam ujian lari. Sementara aku cuma masuk dalam sepuluh besar. Waktu itu aku sempat melewatinya berlari bahkan berhasil meninggalkan lawan-lawan tangguhku. Hingga menjelang finish Toni sadar bahwa dia telah meremehkanku hingga berhasil melewatinya. Padahal aku bukanlah lawan tandingnya yang tangguh. Akhirnya menjelang garis finish yang berjarah lima meter dia berhasil mendahuluiku dan merebut kembali gelar juara satu. Dan aku cukup puas dengan juara dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ada kesempatan lomba lari yang sekupnya se-jakarta. Sekolah kami selalu diikuti sertakan. Pak edi, mengutus beberapa anak laki-laki dan perempuan untuk ikut lomba lari. Salah satunya adalah aku. Aku ingat waktu itu kami berlomba di kecamatan Jakarta selatan. Ratusan anak dari berbagai sekolah sejakarta selatan berkumpul di hari minggu pagi itu. tetanggaku yang perempuan, ela, anak Pak RT yang juga teman sekolahku juga diikutsertakan. Bahkan diunggulkan. Karena dalam urusan lari dia selalu juara untuk kelompok putri. Fisiknya memang kuat dalam berlari marathon. Napasnya panjang, ditambah perawakannya yang kecil. Membuat gerak tubuhnya menjadi lincah. Baru kali ini aku mengikuti pertandingan yang skupnya besar. Bayangkan, jalan raya pagi itu dipenuhi banyak pelari. Ketika priwit dibunyikan panitia. Seluruh pelari tumpah ruah berlari sekencang-kencangnya mengejar garis finish. Aku pun juga, untungnya tidak terinjak-injak. Sambil memandang perilaku para pelari. Perasaanku bercampur aduk. Hasilnya pagi itu, aku sampai juga di garis finish meski kalah. Dan temanku, Ela, dia masuk juara dalam tiga besar. Sungguh hebat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;#3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat perayaan Hari Kemerdekaan tiba, biasanya aku ikut serta berbagai lomba. lomba ambil batu, balap karung, makan krupuk, ambil uang logam dijeruk yang dilumuri arang, lomba bawa kelereng bahkan joget dengan jeruk berpasangan. Biasanya kala itu, aku dan adik serta kakakku selalu mendapatkan juara. Kami selalu membawa pulang hadiah bersampul coklat yang kami dapatkan. Meski cuma berisi beberapa alat tulis, bahkan adikku mendapatkan sabun mandi dan pensil rasanya kami senang sekali. Kalau dipikir sekarang ini, lucu juga ya mengingat hadiah-hadiah itu. bahkan hal ini terjadi hampir semua diseluruh negeri. Lomba lari ambil batu adalah andalanku. Setiap tahun aku menang lomba ini. Tapi aku ingat tahun itu, aku kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Final lari ambil batu begitu seru. Ditonton banyak warga. Keluarga para peserta ikut hadir sebagai dukungan moral. Tapi aku tidak, ibuku sibuk memasak. mengolah makanan untuk dijual diwarung nasi kami. Awal start aku memimpin. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju tumpukan batu didepan mataku yang berjarak 10 meter. Satu demi satu berhasil aku pindahkan. Bobot batu koral itu lumayan berat menurut ukuran tubuhku yang kecil. Aku menaksirnya sekitar dua ons. Karena kelelahan. Kecepatanku mulai menurun. Tak disangka aku disusul oleh tegy temanku kecilku yang menjadi lawan tandingku kala itu. Tegy usianya lebih muda dari aku, rumahnya tepat didepan rumahku. Meski terlihat lebih berkemampuan secara materi. Keluarganya cukup baik. Jadi kala itu hampir tidak pernah ada masalah dalam kehidupan kami sekeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegi menyusul. Dia tepat disampingku. Pada jalur masing-masing kami berlomba mengambil batu pada saat yang bersamaan. Keadaan makin riuh. Sorak sorai warga begitu riang mendukung Tegy dan aku. Keringat mengucur deras. Jantung keras berdegup. Tubuh menjadi lemas. Aku dan Tegy susul menyusul. Bahkan seringkali kami berada pada posisi yang sama didepan. Ketika menunduk mengambil batu. Terasa kali ini begitu berat. Tenagaku habis. Tapi tekad terus mengalir. Apalagi lawanku hanya tegy. Aku meremehkannya. Pada akhirnya, ketika mengambil batu terakhir. Beratnya makin tak terkira. Tenagaku benar-benar habis. Akhirnya tegy mencapai garis finish beberapa centi lebih dulu dariku. Kembali gemuruh sorak warga membahana. Aku kalah. Masuk juara kedua. Tak disangka, sungguh hebat dia! Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;#4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;saat mengalami masa-masa kebandelan. berlari adalah jalan keluar terakhir yang paling jitu. Kala itu usia kami remaja. Penuh dengan uji coba. Sambil bergaya belajar menghisap rokok ketengan. Temanku dengan tenang mencoret tembok dengan piloks yang kami beli. Menulis jalan rumah kami malam itu: Nipah. Apa maksudnya? Tidak tahu, yang penting merasa eksis. Tak disangka dari kegelapan muncul bapak satpam berteriak. Kami panik dan mencoba lari karena merasa bersalah. Dan memang itu perbuatan yang salah. Mencoret-coret rumah orang lain tanpa ijin adalah pelanggaran hukum. Lucunya, ada temanku yang gendut bernama geboy, kakinya terperosok kedalam got kecil. Sendalnya menyangkut hingga tidak bisa ditarik. Betis kakinya lecet hingga berdarah. Kucoba tarik tangannya tapi tidak terlepas juga kakinya yang menyangkut itu. Karena si bapak satpam yang marah itu semakin mendekat. Akhirnya geboy lepaskan sendalnya. Kami pun lari terbirit-birit tunggang langgang. Dan geboy berlari sekuat tenaga beralas kaki sebelah dengan betis kaki kanannya yang berdarah. Kami selamat. Bapak Satpam itu terlalu tua mengejar kami yang gesit. Sembari tersengal-sengal, kami cekikikan dengan kejadian ini. Konyol sekali. Dan resikonya, kaki geboy berdarah, sandal kanan lenyap. Buat apa sandal kiri kalau kanannya tidak ada. Tidak berguna. Geboy hanya mesem-mesem tersenyum kecut sambil meringis menahan rasa sakit. Beruntung saat itu kami tidak tertangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hingga kini aku masih sering berlari. Meski tidak sesering dan segesit dahulu. Aku masih sering main bola bersama teman-temanku. Tapi bukan teman kecilku dulu. Aku sudah berpindah rumah karena terkena gusuran. 20 tahun lebih aku tinggal dan hidup disana. Segala kenangan manis bersama teman kecilku telah banyak kami lewati. Akhirnya keluargaku tergusur karena ditanah itu akan dibangun kantor wali kota Jakarta selatan yang baru. Saat kemarin aku lewati daerah itu, gedungnya sudah tegak berdiri megah. Penuh dengan lampu-lampu taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala hujan pun aku berlari. Anehnya saat ini, kalau sedikit saja terkena hujan aku jadi mudah sakit. Mungkin air hujan sekarang lebih kotor karena asap industri dan polusi udara yang semakin kotor. Atau karena memang daya tahan tubuhku saja yang semakin melemah. Usia memang tidak bisa dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dirasa-rasa hidup saat ini terasa semakin berat. Mungkin dengan kondisi Negara dari berbagai krisis yang terus terjadi. Tanggung jawabku kepada ibu semakin besar. Ibuku sudah tua. Tapi ia terus bekerja. Tidak ada kamus pensiun dalam keluarga kami. Kadangkala saat masalah begitu menghimpit. Ingin rasanya aku lari dari kenyataan. Pergi meninggalkan masalah. Tapi mau berlari dan pergi kemana? Tidak tahu. Kuputuskan berlari ketemanku. Sedikit melegakan. Siapa tahu ada jalan keluar. Dan ketika ada harapan dengan tenaga yang masih terkumpul. Aku mencoba berlari sekuat tenaga mengejarnya. Mengejar mimpi hidup. Sambil berjalan cepat menuju kantor, terdengar lagu &lt;em&gt;“where the street have no name(live); pride (in the name of love) (live); Sunday bloody Sunday (live)” &lt;/em&gt;dari U2 ditelinga yang berasal dari earphone mp4 playerku. Hentakan drum yang keras, petikan bass dan kocokan gitar yang cepat. Beat yang cepat dan bersemangat dari lagu ini ditambah lirik yang indah dinyanyikan Bono sang vokalis yang mengagitasi massa membuat lagu ini terdengar asik ditelinga. Volume mp4 playerku menunjukkan angka 28. ukuran volume yang cukup keras. Hingga membuat suara diluar earphone tidak terdengar lagi. Mendengar lagu ini dipagi hari saat berjalan kaki menuju kantor semakin membuatku bersemangat. Suaranya memenuhi rongga pendengaranku. Jantungku berdegup keras. Darah dipompa. Seperti ada semangat yang muncul bercampur marah. Marah atas kesewenangan manusia dinegeri yang miskin ini. Dan aku tidak peduli soal itu lagi. ingin rasanya berlari sekuat tenaga menggapai mimpiku sendiri. Langkahku semakin cepat menuju kantor yang berjarak satu kilometer dari rumah dengan keringat yang semakin mengucur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung Buncit, dipenghujung tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terima kasih buat teman-teman di paramadina yang sudah mengisi hari-hari. sampai berjumpa lagi.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116849785446592720?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116849785446592720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116849785446592720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116849785446592720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116849785446592720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/01/cerpen-berlari.html' title='Cerpen: Berlari'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116802427902140875</id><published>2007-01-06T02:01:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:34:57.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>Antara Kiamat Sudah Dekat dan Ayat-ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/490684/kiamat.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/459167/kiamat.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/163709/AyatAyatCinta.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/200/235330/AyatAyatCinta.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Antara Kiamat Sudah Dekat dan Ayat-ayat Cinta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiamat sudah dekat adalah sebuah judul film yang ditayangkan stasiun televisi swasta begitu menghibur dengan meninggalkan kesan yang mendalam. Film ini sendiri menceritakan tentang seorang pemuda yang sekuler dengan berprofesi sebagai musisi pada sebuah band rock and roll yang jatuh cinta pada seorang gadis solehah dari anak seorang haji. Masalah dimulai ketika sang pemuda bertemu secara tidak sengaja pada seorang gadis cantik berjilbab anak seorang pak haji. Pada pandangan pertamanya itu ia langsung jatuh cinta. Berbagai cara pun dilakukan sang pemuda untuk bertemu sang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sampai pada suatu ketika pak haji mengajukan beberapa pertanyaan yang ditutup dengan beberapa syarat yang berhubungan dengan agama pada si pemuda yang sekuler tersebut. Karena cintanya pada si gadis. Si pemuda menyanggupi syarat tersebut. Puncak dari masalah ini muncul ketika pak haji mengajukan lagi syarat terakhir yaitu menguasai ilmu ikhlas. Si pemuda yang awam dan buta agama itu ternyata menyanggupi meskipun ia takut apakah ia bisa menguasai ilmu ikhlas tersebut. Kelucuan pun terselip disela-sela pencarian apa yang dimaksud ilmu ikhlas tersebut. Sampai pada akhirnya si pemuda menemukan kesadaran dan jawaban dari kegelisahannya tentang ilmu ikhlas yang diajukan pak haji. Dan tanpa disangkanya pak haji memilihnya sebagai menantunya sebagai calon suami dari anak gadisnya yang sebelumnya siap dijodohkan dengan seorang pemuda anak kerabatnya yang sedang sekolah S-2 di mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menonton film ini penulis menyimpan kesan bahwa untuk mendapatkan sesuatu memang harus berjuang dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Tapi perjuangan tadi harus diimbangi juga dengan ilmu ikhlas, sama seperti yang diajukan pak haji tadi. Tanpa ikhlas masalah hanya diselesaikan dengan ambisi dan kepentingan pribadi semata. Tanpa sadar bahwa segala apa yang kita perebutkan didunia yang fana ini hanyalah milik Allah SWT. Mungkin itulah cinta yang sesungguhnya dari si pemuda terhadap anak pak haji. Bahwa ia mencintai dengan dasar keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan kita? secara realitas kondisi bangsa ini semakin terpuruk pada tingkat yang lebih parah. Kongkritnya keterpurukan terjadi hampir semua bidang kehidupan, pada sektor ekonomi, politik, sosial dan moral, agama dan budaya. Kondisinya masih tampak jelas terlihat pada sistem birokrasi yang bobrok dan masih bertele-tele, pemimpin-pemimpin negeri yang tidak berjuang atas hati dan para pengambil kebijakan yang lamban dan berbelit-belit. Kehidupan sosial yang parah karena borok pengangguran semakin menganga. Hal mengakibatkan patologi sosial pada masyarakat terutama kelas bawah, seperti angka kriminalitas meningkat, penyimpangan seksual dalam keluarga atau lingkungan, anak dibawah umur yang turun ke jalan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, pemahaman agama yang kurang dan kurangnya peran lembaga-lembaga agama dimasyarakat tidak bisa menjadi penyejuk bagi dahaga jiwa yang kering dimasyakat. Menurut saya, agama masih menjadi dogma dimasyakarat luas. Akhirnya yang terjadi praktek-praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) semakin luas dan mengakar. Tayangan-tayangan ditelevisi atau media cetak yang mungkin perlu banyak dikaji ulang hingga tidak mengakibatkan pada bentuk budaya liberal seperti tayangan mistik dan acara smack down (yang mengakibatkan banyak jatuh korban), apakah masih layak dikonsumsi? Lalu tanpa sadar negeri ini dihantam bencana alam bertubi-tubi seperti tsunami di aceh, gempa bumi, gunung merapi yang meletus, dan Lumpur panas yang terus meluap-luap dan semakin melebar bahkan memakan korban di Porong, Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah akan ada skenario Tuhan yang lebih mendebarkan lagi? Ataukah ini azab-Nya yang sudah diturunkan akibat kerusakan manusia? Lalu berujung pada, apakah kiamat sudah dekat? Kalo kata pak haji di film ini dia menjawab, “bahwa kiamat emang makin deket aje!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar soal ilmu ikhlas sangat menggugah kesadaran saya, terutama soal hidup pribadi saya. Dari pelajaran ilmu ikhlas yang sederhana ini mengandung arti yang begitu dalam. Saya jadi ingat setelah membaca buku novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburahman tentang seorang tokoh sentral yang bernama Fahri. Dalam hidupnya dia adalah sosok yang sangat ideal. Fahri adalah pribadi yang aktif, visioner, kosisten, jujur, bertanggung jawab, rendah hati, serta memiliki pengetahuan agama yang luas hingga membuat ia disegani oleh teman-temannya dan dicintai para wanita cantik solehah yang dekat dengannya serta juga para guru-guru mengajinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya begitu terprogram dan sangat sibuk. Dalam cerita itu, maria terperanjat melihat karton besar yang ditempel ditembok kamar Fahri ketika ia terbaring sakit karena kelelahan akibat jadwal kegiatannya yang begitu padat. Ia berkata, “Inikah peta hidup kamu fahri? begitu banyak target-target jangka pendek maupun panjang yang kau buat. 2 tahun kamu selesai S2. 4 tahun kamu lulus S3. tahun depan targetmu menikah. Dan jadwal sehari-hari lainnya yang kamu buat begitu terperinci.” Dalam pembaringannya fahri berkata,” iya itu peta hidupku kedepan baik 5 atau 10 tahun mendatang. Setiap orang harus memiliki visi agar dia focus dalam hidupnya.” Ia mengutip salah satu ayat al-quran, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali dia sendiri yang mengubah nasibnya”. Maria, membalas “bukankah lebih enak bahwa hidup dibuat mengalir.” Fahri pun menjawab, manusia akan membuat kemajuan kalau ia memiliki cita-cita kedepan. Seperti kalimat bijak dari barat, “seseorang dengan tujuan jelas akan membuat kemajuan walaupun jalannya sulit. Seseorang tanpa tujuan yang jelas tidak akan membuat kemajuan meskipun berada dijalan yang mulus. Jadi, aku mau jadi apa, dengan cara apa, dan kapan dilakukan, aku sendiri yang menentukan nasibku. Aku berusaha melakukan yang terbaik terhadap cita-cita yang ingin aku capai dan keputusannya aku serahkan kepada Allah semata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria pun terharu menitikan air mata mendengarnya, ia mendapatkan pelajaran berharga hari itu. Tampak jelas ilmu ikhlas merasuk dalam pribadi seorang fahri. Akankah ilmu ikhlas bisa merasuk juga pada jiwa-jiwa masyarakat kita (termasuk saya) yang kering dalam hidup yang serba kapitalis, konsumtif serta glamour ini. Saya pikir bisa, asal kita mau mempelajari dan memahami hakikat dari keikhlasan itu sendiri karena keikhlasan melahirkan kejujuran, tanggung jawab, kosisten, dan jiwa yang rendah hati. Inya Allah…, semoga saja semoga negeri ini bisa bangkit kembali, AMIN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan&lt;br /&gt;Diselesaikan juga di Warung buncit, 3 Desember 2006 jam 23.35&lt;br /&gt;Penikmat film kiamat sudah dekat garapan dedy mizwar dan buku ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang baru selesai dibaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116802427902140875?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116802427902140875/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116802427902140875' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116802427902140875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116802427902140875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2007/01/antara-kiamat-sudah-dekat-dan-ayat.html' title='Antara Kiamat Sudah Dekat dan Ayat-ayat Cinta'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116678670424226543</id><published>2006-12-22T17:52:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:34:10.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>jejak langkah</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/773448/jejak%20langkah.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/320/280033/jejak%20langkah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116678670424226543?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116678670424226543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116678670424226543' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116678670424226543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116678670424226543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/12/jejak-langkah.html' title='jejak langkah'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116497756117515341</id><published>2006-12-01T19:17:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:32:40.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Hidup, Cinta</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hidup, Cinta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku masih memiliki semangat&lt;br /&gt;Semangat yang kurajut dari orang-orang berjasa dalam bumi ini&lt;br /&gt;Orang-orang sederhana tapi memiliki energi yang besar&lt;br /&gt;Aku mengagumi mereka terhadap karya-karyanya&lt;br /&gt;Rasulku, ibu, fauzan farook, Honda, matsushita, …..&lt;br /&gt;Cinta yang membuat dunia ini hidup yang menghidupi kehidupan&lt;br /&gt;Tidak tahu aku akan dibawa kemana oleh dunia ini, aku hanya mengikuti saja&lt;br /&gt;Mengalir…mengalir saja&lt;br /&gt;Hanya aku terus berpikir berjalan saja dalam kebaikan&lt;br /&gt;Aku ingin terus mengikat hubungan dengan orang-orang disekitarku&lt;br /&gt;Membentuk senyum…senyum kebahagian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana dia, dia yang mampu mengisi hatiku secara nyata&lt;br /&gt;Aku telah mencoba membuat hubungan dengannya&lt;br /&gt;Tapi rasanya aku belum berhasil, apa aku terlalu terburu-buru&lt;br /&gt;Cinta memang misteri&lt;br /&gt;Memainkan perasaan ini, menari-nari, melompat dan berlari&lt;br /&gt;Seperti jetcoster, mudah naik dan mudah turun&lt;br /&gt;Aku seperti dipermainkan, diguncang darahku, dipompa jantung dan keringatku&lt;br /&gt;Menggetarkan hati ini yang tiada menentu&lt;br /&gt;Tapi aku terus berusaha mendapatkannya&lt;br /&gt;Karena kesempatan tidak menunggu&lt;br /&gt;Dia terus berjalan, hanya menunggu waktu yang tepat&lt;br /&gt;Aku akan mendapatkannya, siapapun dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116497756117515341?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116497756117515341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116497756117515341' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116497756117515341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116497756117515341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/12/puisi-hidup-cinta.html' title='Puisi: Hidup, Cinta'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116480732820584042</id><published>2006-11-29T20:23:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:30:18.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Rahasia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/559862/rahasia3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/320/781093/rahasia3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Rahasia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau menyimpan sebuah rahasia&lt;br /&gt;Rahasia dari sebuah fenomena&lt;br /&gt;Baik, buruk, tercela, hina, aib ataupun gita cinta&lt;br /&gt;Rahasia yang diberikan oleh siapapun&lt;br /&gt;Kawan, teman, sahabat, saudara, keluarga, orang asing, bahkan musuhmu sekalipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bilang, jangan kau beberkan rahasia ini, lalu kaupun berjanji&lt;br /&gt;Kau pertahankan hari demi hari, minggu dan bulan&lt;br /&gt;Waktu mengujimu seberapa kuat kau membungkam mulut&lt;br /&gt;Semakin kau dekat dengan hal yang bersangkutan dengan rahasia&lt;br /&gt;Semakin lidahmu gatal, batin memberontak&lt;br /&gt;hati kecil berkata beberkan saja, beberkan!&lt;br /&gt;Tetapi nurani mengingatkan atas janji&lt;br /&gt;Mulutmu kelu, kaku, mencibir, mengamuk&lt;br /&gt;Tetapi kau menahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus mengujimu&lt;br /&gt;Rahasia lain datang silih berganti&lt;br /&gt;masuk ke dalam telingamu&lt;br /&gt;bersemayam dalam pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau mulai mual&lt;br /&gt;terlalu banyak rahasia&lt;br /&gt;pikiranmu pusing&lt;br /&gt;hingga kau merasa, “aku seperti bak sampah, tempat pembuangan rahasia!”&lt;br /&gt;ingin rasanya memuntahkannya sewaktu-sewaktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali lagi waktu mengujimu&lt;br /&gt;hingga godaan itu datang&lt;br /&gt;dan jiwamu dalam bimbang&lt;br /&gt;rahasia pun tumpah&lt;br /&gt;terbeberkan tanpa kesepakatan&lt;br /&gt;lalu mereka bilang, kamu penipu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung buncit, ramadhan 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Artikel Rujukan: &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Menyimpan Rahasia &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pengajian Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara akhlak mereka adalah menyimpan rapat rapat rahasia tanpa membukanya kepada siapa pun. Mereka mengatakan: "Hati orang-orang merdeka adalah kuburan rahasia dan jika bukan kekasih Allah (SWT) yang menutupi rahasia maka siapakah yang tetap merahasiakannya?" Yang demikian sekarang sudah menjadi hal aneh. Mungkin seorang syaikh mendengar kata-kata sekarang, lalu menceritakan kepada kebanyakan orang yang datang menemuinya, padahal bisa jadi kata-katanya itu dapat mendapatkan kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda melihat orang mengatakan bahwa itu ia dengar dari salah seorang wali Allah (SWT) yang tidak patut dituduh tidak baik karena kewaliannya. Padahal yang sebenarnya ia adalah salah seorang yang fasik dengan melakukan adu domba dan merusak hubungan masyarakat. Meskipun ia tidak bermaksud demikian. Dalam hadits dikatakan: "Tidak masuk surga orang yang mengadu domba."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mijahid mengatakan tentang Firman Allah (SWT):"Dan istrinya yang membawa kayu bakar " (al-Lahab 4).Bahwa ia berjalan mengadu domba di kalangan masyarakat. Aktsam bin shaifi berkata: "Di antara tanda-tanda orang yang senang mengadu domba adalah kehinaan di kalangan manusia dan anda tidak melihatnya mulia sama sekali." Yahya bin Abu Katsir berkata: "Orang yang suka mengadu domba lebih buruk dari pada tukang sihir dan tidak seorang pun merasakan itu. Sebab ia kadang-kadang dapat melakukan sesaat perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh tukang sihir selama satu bulan. Sebab adu domba menimbulkan pertumpahan darah, perampasan harta dan kerusuhan besar serta mengeluarkan penduduk dari negeri mereka dan kerusakan-kerusakan lainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa al-Asy"ari (ra) berkata: "Tidaklah berjalan di antara manusia kecuali seorang anak yang lacur karena menghancurkan dirinya dan saudaranya serta menghancurkan orang yang menjadi sasaran kata katanya."Hasan Basri berkata: "Barang siapa menyampaikan kata-kata kepadamu (untuk mengadu domba) maka ia pun akan mengadu domba kamu kepada orang lain dan barang siapa memujimu dengan pujian yang tidak ada padamu ia pun dapat mencelamu dengan apa yang tidak ada padamu."Ibnu Sammak berkata: "Berhati-hatilah terhadap orang yang lebih banyak diam dari pada yang banyak bicara apa yang ia dengar. Sebab orang yang banyak diam lebih banyak dipercaya oleh orang perkataannya, karena dianggap lebih jauh dari berbohong. Mungkin saja orang berbicara dengan kata-kata kepada orang yang ia percayai lalu diceritakan, maka teradilah kerusakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mubarak berkata: "Tidak ada orang yang dapat merahasiakan apa yang ia dengar kecuali orang yang baik keturunannya." Sebagian saudara-saudara Ibrahim bin Adham tidak mengunjunginya dalam waktu lama. Kemudian seseorang datang mengunjunginya, lalu ia menggunjing sekelompok orang di hadapannya. Ibrahim pun lalu berkata kepadanya: "Seandainya Anda tidak mengunjungi kami tentu itu adalah keuntungan bagi kami, maka betapa kiranya Anda tidak mengunjuingi kami hari ini."Mansur bin Zadzan berkata: "Demi Allah (SWT), sesungguhnya aku dalam perjuangan keras dengan semua yang bergaul denganku hingga berpisah denganku. Hampir hampir mereka tidak pernah lepas dari perbuatan yang membuat temanku membenciku atau menyampaikan ghibah orang yang berbuat ghibah terhadapku, lalu ini membuatku masuk ke dalam bencana." Syidad bin Hakim berkata: "Apabila kamu melihat kebaikan-kebaikan saudaramu lebih banyak dari pada keburukan keburukannya, maka ingatlah dia dengan kebaikan-kebaikan dan lupakan keburukan keburukannya." Ia juga berkata: "Barang siapa tidak suka karena perkataan orang dan suka karena kata-kata orang maka ia menjadi orang yang menyesal atas apa yang ia lakukan sebab ia sedikit melakukan pelurusan atau pencelaan dengan benar, melainkan ia lakukan itu karena fanatisme (ashabiyyah) dan hawa nafsu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid bin Shafwan berkata: "Kecamlah orang yang suka mengadu domba meskipun ia benar karena adu domba adalah cerita dan menerima adu domba berarti membolehkan. Maka menerima adu domba itu menjadi lebih buruk dari pada menceritakan keburukan."Pahamilah yang demikian, saudaraku, dan janganlah menyebarluaskan rahasia saudaramu dan orang lain di zaman ini. Jangan mengatakan aku tidak bermaksud demikian sebab kamu hidup di paruh kedua abad sepuluh yang penuh dengan kekacauan dan keanehan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak Was-wasDiantara akhlak mereka adalah tidak ragu ragu pada wudhu, shalat, bacaan dan ibadah ibadah lainnya disertai dengan wara' yang separipurna mungkin. Sebab timbulnya pangkal was was adalah dari kegelapan hati. Kegelapan hati berasal dari kegelapan amal. Kegelapan amal berasal dari makanan yang haram dan syubhat. Barang siapa mengendalikan diri dan makanan yang haram maka iblis tidak menemukan jalan padanya. Seseorang yang pernah makan makanan orang-orang zalim, pedagang yang curang, hakim yang tidak adil dan orang fasik lainnya, lalu dia ingin hadir bersama Allah dan kkusyu' dalam beribadah serta ingin mengetahui apa yang mereka tinggalkan, tetapi tidak bisa, yang akhimya hanya mendapat lelah, melompat ke udara saat berniat dalam shalat, seolah ia menangkap sesuatu yang lepas dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda lihat ketika bertakbir mengucap: "ak, ak, ak, bar bar bar. Apabila hendak membaca yang keluar dari mulut adalah: bis, bis, bis. Apabila hendak bertasyahud mengucap: at, at, at, ahiyat. Apabila salam mengucap: as, as, as dan begitu seterusnya sebagaimana yang sering ditemukan. Sebagian ulama telah memberi fatwa batal shalat karena demikian. Dengan mengatakan bahwa itu bukanlah al-Qur'an dan bukan pula dzikir, melainkan kata kata asing dan manusia yang diucapkan oleh pelakunya secara sengaja bukan karena lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyidi Ali al-Khawwash berkata: "Orang-orang yang was-was seperti itu lebih patut disebut ahli bid'ah bukan ulama. Sebab di antara mereka bisa jadi menganggap batal shalat para sahabat nabi dan generasi tabi'in serta para imam mujtahid. Jika anda mengatakan kepada salah seorang di antara orang orang ini agar berwudhu seperti wudhu Rasulullah (SAW), atau wudhu para sahabat beliau, bisa jadi ia tidak mau menerima itu dan tidak pula meyakini kebenarannya. Kita mohon kepada Allah (SWT) keselamatan dan ini adalah kesesatan yang nyata. Kaml telah mengetengahkan pembicaraan seputar masalah ini dalam. kitab kami al-Minan al-Kubra, bab lima belas.&lt;br /&gt;---(ooo)---&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://sufinews.com/"&gt;sufinews.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116480732820584042?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116480732820584042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116480732820584042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116480732820584042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116480732820584042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/11/puisi-rahasia.html' title='Puisi: Rahasia'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116480588396368413</id><published>2006-11-29T19:48:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:28:00.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Kosong</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/1600/601822/kosong.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/938/3164/320/148842/kosong.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kosong&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku reguk kembali kenikmatan hampa&lt;br /&gt;Kembali aku terbius dalam lingkaran setan&lt;br /&gt;Hasratku terus bergelora pada ilusi&lt;br /&gt;Tanganku mencengkram pada sesuatu yang hina&lt;br /&gt;Pada puncak kehampaan aku terkulai&lt;br /&gt;Mencoba menggapai mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosong otakku, kosong jiwaku&lt;br /&gt;Ingatanku hilang, masalahku kabur&lt;br /&gt;Ilusi menjadi pelarian&lt;br /&gt;Dari jawaban hidup yang suram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang dari mimpi itu&lt;br /&gt;Ingatanku muncul, masalahku mulai menajam&lt;br /&gt;Aku takut,&lt;br /&gt;Dan kembali aku terkulai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Juni 2002&lt;br /&gt;03.55&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116480588396368413?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116480588396368413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116480588396368413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116480588396368413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116480588396368413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/11/puisi-kosong.html' title='Puisi: Kosong'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116341531648751994</id><published>2006-11-13T17:42:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:27:11.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lirik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Reaksi Kimia</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/doping15.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/doping15.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/bercinta_cvr.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/bercinta_cvr.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/ymyb60.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/ymyb60.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/endanks_bercinta2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/endanks_bercinta2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/bercinta4.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/bercinta4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/bercinta3.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/bercinta3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Slank - Reaksi &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Reaksi kimia didalam darahku ...&lt;br /&gt;Terasa mengalir deras ..&lt;br /&gt;Desah2 nafas..semakin memburu&lt;br /&gt;Menuju kenikmatan ..&lt;br /&gt;Sekujur tubuhku ..Bermandikan peluh ..&lt;br /&gt;Menahan gelombang ...&lt;br /&gt;Bayang2 tubuh ... membawa hasratku ..&lt;br /&gt;Hanya naluri yang bicara ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ..ingin bercinta ...&lt;br /&gt;Ingin sekali bercinta&lt;br /&gt;Aku ingin bercinta..&lt;br /&gt;Lepaskan semua tegangan...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan indah .. menari dimata ...&lt;br /&gt;Harus mencoba .. tuk menggoda&lt;br /&gt;Bagai gunung api .. yang ingin meletus..&lt;br /&gt;Memuntahkan lahar yang panas ...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh pelepasan...&lt;br /&gt;Ingin lampiaskan ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;"Bongki,Njet, kk&lt;br /&gt;Di Potlot, depan Pulau Biru Ofice&lt;br /&gt;Akhir ...pagi-pagi abis gerimis"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: iloveblue.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116341531648751994?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116341531648751994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116341531648751994' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116341531648751994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116341531648751994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/11/reaksi-kimia.html' title='Reaksi Kimia'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116281722456396192</id><published>2006-11-06T19:39:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:24:48.915+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Asa!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/lilin.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/320/lilin.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asa!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gunawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta&lt;br /&gt;Curilah aku dari diriku&lt;br /&gt;Sembunyikan aku dalam hatimu&lt;br /&gt;Ketika kegelisahan jiwa menghantui hari-hari&lt;br /&gt;Dan kekosongan hati tak berarti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin malam menemani waktu yang tak bertepi&lt;br /&gt;Dari kegundahan yang tumbuh subur&lt;br /&gt;Aku hampir kehilangan asa&lt;br /&gt;Dia seperti menjauh dan lepas&lt;br /&gt;Lilin pribadi yang sudah hampir habis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti bingung&lt;br /&gt;Gelisah menyelimuti matanya&lt;br /&gt;Kakinya tak pernah diam&lt;br /&gt;Bergerak tak menentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku meracau kemana-mana&lt;br /&gt;Kata-kata seperti mengalir terus dalam kepala&lt;br /&gt;Menari-nari ia mengejekku&lt;br /&gt;Memaknai tanda demi tanda&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menghentikan kata-kata&lt;br /&gt;Otakku tegang mengejar mencoba tuk menangkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelisah jiwa, gelisah badan&lt;br /&gt;Gelisah batin, gelisah pikir&lt;br /&gt;Gelisah tidur, Gelisah hati…..&lt;br /&gt;Aku takut&lt;br /&gt;hidup di negeri yang gelisah&lt;br /&gt;Apakah aku mampu melewati ini semua&lt;br /&gt;Adakah orang tidak gelisah???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin mati dalam kegelisahan&lt;br /&gt;Yang dikubur oleh tanah-tanah sengketa para serigala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta, aku ingin siram kegelisahanku olehmu&lt;br /&gt;Oleh air yang mengalir dari bunga-bunga kebaikan, kejujuran, dan perhatian&lt;br /&gt;Aku hanya ingin bunga yang sederhana&lt;br /&gt;Namun wanginya semerbak mengisi jagad raya&lt;br /&gt;Membuat iri para pujangga, ksatria sunyi, dan malaikat&lt;br /&gt;Yang dikasihi oleh-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya….aku akan mengejar legenda pribadiku&lt;br /&gt;Melalui bahasa buana dan pertanda&lt;br /&gt;Aku akan dapatkan bunga sederhanaku&lt;br /&gt;Karena kamu masih ingat aku……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Desember 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116281722456396192?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116281722456396192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116281722456396192' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116281722456396192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116281722456396192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/11/puisi-asa.html' title='Puisi: Asa!'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116236889334603456</id><published>2006-11-01T15:11:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T02:22:49.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Belatung II</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4Ub8RA_DHI/AAAAAAAAABw/k_R370RiYxQ/s1600-h/ulat.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153556070769036402" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4Ub8RA_DHI/AAAAAAAAABw/k_R370RiYxQ/s200/ulat.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4UbeBA_DGI/AAAAAAAAABo/gV3Hc5UKOmI/s1600-h/ulat.png"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Belatung II &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Gunawan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Belatung menggeliat-geliat menjalar &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Melubangi tubuh-tubuh bisu menjadi lahar &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berjejal berebut makanan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan perut gendut penuh serakah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Manusia seperti belatung &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penuh serakah mencari untung &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bergerak dan terus bergerak menggeliat-geliat &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tanpa bisa diam dalam keheningan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sang hawa terus menyisir mahkotanya Berlenggok-lenggok tak menentu &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bergerak ke kiri dan kanan seperti gelisah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sang adam tertawa serakah tanpa mengerti apa yang ditertawakan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka berlomba menggali lubang kenikmatan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para iblis menjalar dalam darah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Merasuk menutup nadi-nadi kemanusiaan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Manusia telah menjadi belatung &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Belatung menyatu pada jiwa manusia &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bumi telah terkoyak, merintih dan terluka Dihisap sari-sarinya, dihujam tanah gemburnya &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh paku-paku pencakar langit Kasihan ia, beban hidupnya semakin berat Manusia dan belatung semakin berjejal bertumbuk kenikmatan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lalu, Apakah mereka beragama??? &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agama sudah hilang kenikmatannya &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka tinggalkan tulang belulangnya begitu saja &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agama hanya jadi dongeng tidur bagi anak-anak yang tak mampu beli mainannya &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di kampung-kampung, di gunung-gunung, di pesisir pantai dan kolong jembatan kota besar itu Hei, siapa kamu berani berkata begitu??? Aku??? Aku hanya belatung yang kini merindukan nilai-nilai kemanusiaan yang pernah ada. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jakarta, 5 Juni 2002, 03.35 am&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116236889334603456?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116236889334603456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116236889334603456' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116236889334603456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116236889334603456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/11/puisi-belatung-ii.html' title='Puisi: Belatung II'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_Lu4L3l4LPgY/R4Ub8RA_DHI/AAAAAAAAABw/k_R370RiYxQ/s72-c/ulat.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116236429132924254</id><published>2006-11-01T13:42:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:59:17.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kenangan kecil tentang Lord Bodden Powell</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/bodenpowel.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/200/bodenpowel.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kali ini aku meneruskan perjalanan. Aku merasa berbagai tempat sudah kudatangi. Demi mereguk kesenangan semu. Mengikat emosi. Mengelola energi dan gairah hidup. Dalam sebuah pulau bisa saja terdapat banyak keindahan yang bisa kudatangi. Setelah kuingat-ingat aku sudah banyak bertualang. Meski tidak begitu jauh. Pikiranku pun mengembara ke masa lalu. Mengingat tentang Lord Bodden Powell. Waktu kecil aku terlibat dalam perkemahan pramuka yang dikenal dengan persami (perkemahan sabtu minggu). Sangat menyenangkan, berbagai perlengkapan kami bawa sebagai bekal. Bahkan kawanku membawa kompor minyak ibunya. Ukurannya terlalu besar. Hingga dia begitu tergopoh-gopoh saat membawa. Aku pun jadi tergelak lucu. Tidak apa, ini demi cara survival kami. Lagi pula banyak kelompok lain yang membawa kompor minyak. Jadi tidak aneh bukan! Kami pun berangkat dengan bus yang disediakan sekolah kami. Suasana begitu gembira memenuhi rongga perasaan. Senyum dan tawa selalu mengembang diantara kami. Ini pengalaman pertama kami meninggalkan rumah. Tidak diawasi ibu atau dipelototi bapak atas segala tingkah. Perasaan yang bebas seperti burung. Meskipun tetap juga dalam pengawasan sang kakak Pembina pramuka sebagai pengganti mata orang tua kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat betul saat itu tenda kelompok kami berada diposisi tengah tenda lain tepat membelakangi pohon bambu yang lebat. Lucunya, ternyata tenda kami bersebelahan dengan sarang kodok. Kodoknya tampak besar-besar dan menjijikan. Aku takut berada dekat dengannya. Mitos yang aku percaya saat itu, "Kalau matamu dikencingi kodok, matamu bisa buta!". Sungguh mengerikan membayangkannya. Betul atau tidaknya aku tidak tahu. Tapi aku percaya saja dengan mitos tersebut bahkan hingga sekarang. Saat malam, kodok-kodok itu bernyanyi saut menyaut membuat paduan suara seriosa yang menyakitkan telinga. Bahkan dengkur tidur temanku pun kalah oleh suaranya. Nyatanya, kami malah dibuat tidak bisa tidur lantaran suara kodok tersebut. Ditambah dengan udara yang panas dalam tenda serta bau badan si udin kubil--salah satu temanku yang seperti ayam lantaran jarang mandi. Lengkap sudah penderitaan kami sebagai seorang pramuka pemula. Sepanjang malam kami cuma cekikikan mentertawakan si udin kubil yang bau ayam itu. Ditengah cekikikan itu tiba-tiba bau busuk menyengat hidung. Ternyata diantara kami ada yang buang gas. Wuah, keadaan semakin rusuh malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari mulai menyebulkan kepalanya, sinarnya hangat jatuh ditenda kami. Prosesi kegiatan sebagai pramuka cilik segera dimulai. Kamipun berkemas, bersiap menghadapi tantangan. Prosesi awal dimulai dengan ritual upacara. Diantara peserta pramuka yang melibatkan banyak sekolah dengan gugus depannya masing-masing. Ternyata hanya sekolahku saja yang malas berkegiatan. Hal ini terlihat dari lambang-lambang kecil yang tersemat dibaju mereka. Baju mereka hampir penuh dengan lambang-lambang keaktifan. Sementara baju pramuka kami hanya tampak lambang pramuka di lengan kanan dan baret siaga di lengan kiri. Sisanya tampak kosong. Huh, dasar pemalas. Sementara temanku hanya cekikikan saja dibelakang baris melihat keadaan ini. Dan singkat cerita kegiatan mencari jejak pun dimulai. Sebuah kegiatan pembuktian sebagai pramuka sejati. Hasil sebuah wejangan dari Lord Boden Powell sebagai bapak pramuka dunia. dan nyatanya pengetahuan kami soal mencari jejak memang seadanya. Jangankan menghapal sandi morse atau sandi semapur. Dasa darma pramuka saja tidak hafal. Hahaha temanku kembali cekikikan dengan keadaan ini. Tapi aku menyukai kegiatan ini. Berjalan menapaki jalan kecil sambil melihat tanda-tanda rahasia sebagai sandi. Melewati rawa berlumpur. Memecahkan kode-kode misteri pada setiap pos. dan sialnya lagi, kami tersasar kerumah penduduk yang memang bukan jalurnya. Temanku lagi-lagi cekikikan melihat keadaan ini. Hmmm, pengalaman yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung Buncit, Ramadhan 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116236429132924254?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116236429132924254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116236429132924254' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116236429132924254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116236429132924254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/10/kenangan-kecil-tentang-lord-bodden.html' title='Kenangan kecil tentang Lord Bodden Powell'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-116115449663131974</id><published>2006-10-18T12:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:57:00.708+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/GUN"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/200/GUN%27ANWAR%27.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-116115449663131974?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/116115449663131974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=116115449663131974' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116115449663131974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/116115449663131974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/10/blog-post.html' title=''/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-115875386982519719</id><published>2006-09-20T18:48:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:56:20.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Frustrasi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/nelayan2.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/400/nelayan2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku terhempas lagi oleh ombak yg besar. tubuhku terlempar dari biduk kecilku. aku tenggelam meski tidak seberapa dalam. air laut tertelan. dadaku sakit dan perih. aku marah meski telah lelah. dalam keadaan letih dan perih ku coba naik ke permukaan. padahal saat aku tenggelam terbesit di pikiranku untuk mengikuti saja raga ini dibawa ke dasar menuju palung yang gelap. tiba-tiba kulihat keatas permukaan, muncul bayangan ibuku, bapak, adik2ku, keponakanku yang bandel dan keponakanku yang kedua yang baru beberapa bulan melihat dunia, sahabat-sahabatku yang konyol dan rumit, mereka melambai, mengajakku untuk naik ke permukaan. terdengar sayup suara kecil di hati: "dunia masih membutuhkanmu kawan, kau masih berguna, legenda pribadi dan piramida kebahagian menunggumu didepan". kucoba juga untuk merangkak naik dengan napas yang tersisa. ya, sampai juga aku dibiduk kecilku. kedinginan, letih, lelah, marah, lapar dan kecewa pada sesuatu. sesuatu yang aku impikan atas nama cinta dalam mencapai legenda kebahagiaan. nyatanya kurasakan sesuatu itu telah pergi. jauh dan semakin menjauh. mencari kebahagiaannya sendiri. sesaat dalam keheningan, ku coba menatap lautan yang begitu luas. aku terombang-ambing sendirian. tanpa peta, tanpa kompas tanpa tahu arah tujuan. sementara lilin harapan sudah semakin menipis. apa aku tersesat, ku pikir tidak. hanya saja aku kehilangan intuisi dan gairah hidup. selama ini ku coba mendayung biduk kecilku menuju gairah dan mencari legenda pribadi. tapi nyatanya aku tersesat. apa aku tertipu oleh ilusi kasih sayang? mungkin saja iya, aku terlalu terburu-buru sementara angin tidak berpihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku membayangkan bahwa aku ingin seperti christoper colombus atau para pelaut pinisi yang melanglang buana keseluruh penjuru dunia. atau juga jeremiah johnson sebuah film cowboy yang aku tonton terakhir kali. serta juga seperti si janggut merah yang aku baca bahkan jack sparrow dalam perannya menjadi bajak laut. ya, aku adalah petualang. sendirian, sepi, terbakar, mencoba terus berlari, berjalan hingga terseok-seok. tapi aku puas bisa melihat sesuatu yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. bisa merasakan apa yang tidak pernah aku rasakan. dan pada akhirnya ketenangan kureguk sebagai energi menghadapi ombak yang sama sambil bersenandung lagu petualang yang dinyanyikan iwan fals dalam kantata takwa. atas nama cinta kucoba menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab. karena hanya itulah yang diajarkan orang tuaku. saat ini yang kurasakan hanyalah kehampaan, kosong tanpa arti. gairah sepertinya sedang pergi menjauh. buat apa kalo tenaga ada tanpa gairah. yang tampak hanyalah makhluk loyo. dan terkutuknya, yang kuinginkan saat ini adalah tidur. tidur yang nyenyak dan panjang. bahkan terbersit dari bisikan iblis aku ingin tidur terus dan tidak bangun lagi. kemarin kubaca puisi Ehma Ainum Najib yang berjudul "Frustrasi":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Frustrasi!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Emha Ainun Najib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saudara-saudara!&lt;br /&gt;Aku mau tidur&lt;br /&gt;Tolong bantu doa&lt;br /&gt;Agar tak bangun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelora, gelora&lt;br /&gt;Meleset dari dada&lt;br /&gt;Gelora, gelora&lt;br /&gt;Kau kemana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Kaukucilkan&lt;br /&gt;aku dari sejuta gemuruh&lt;br /&gt;Dari sejuta kepala&lt;br /&gt;Yang bangkit&lt;br /&gt;Dari sejuta tangan&lt;br /&gt;Yang menuding!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Saudara-saudara!&lt;br /&gt;Aku mau tidur&lt;br /&gt;Tolong bantu doa&lt;br /&gt;Agar kekal lelap mendengkur..... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam kalimat pembuka dan penutupnya: &lt;em&gt;"Saudara-saudara! Aku mau tidur. Tolong bantu doa. Agar tak bangun lagi"&lt;/em&gt;. hmmm, persis sekali yang aku rasakan...,frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaah mudah-mudahan esok pagi ada petunjuk. kompas ataupun peta, meski sederhana tetaplah petunjuk yang berguna. tinggal kumpulkan energi ini dan tetaplah mendayung menuju legenda pribadi. oh ya, aku jadi ingat ibu. usianya sudah senja, raut mukanya sudah tampak berkerut-kerut dengan tubuh gemuknya. telah 20 tahun lebih ia berjuang membesarkan anak-anaknya dengan berdagang. tapi kemarin dari pagi hingga larut malam ia terus terjaga. menunggu pembeli yang mulai sepi. angin malam yang dingin menusuk tulang pun ia gubris. sampai tiba ia jatuh sakit, ia bilang "ini cuma sakit pusing biasa, kalo memang waktunya mati ya mati aja, nggak perlu repot-repot dibawa kedokter". aku terharu dan sedih. takut kehilangannya. semoga saja aku sekuat ibu, kemudian sayup-sayup terdengar lagu petualang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sang Petualang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciptaan: Robin, Iwan Fals&lt;br /&gt;Lirik: Iwan Fals&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Laut biru begitu lapang&lt;br /&gt;Dan gelombang menghalau bosan&lt;br /&gt;Petualang bergerak tenang&lt;br /&gt;Melihat diri untuk pergi lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sejenak hanya sejenak&lt;br /&gt;Ia membelai semua luka&lt;br /&gt;Ya sekejap hanya sekejap&lt;br /&gt;Ia merintih pada samudera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebebas camar kau berteriak&lt;br /&gt;Setabah nelayan menembus badai&lt;br /&gt;Seiklas karang menunggu ombak&lt;br /&gt;Seperti lautan engkau bersikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualang merasa sunyi&lt;br /&gt;Sendiri dikelam hari&lt;br /&gt;Petualang jatuh terkulai&lt;br /&gt;Namun semangatnya masih berkobar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualang merasa sepi&lt;br /&gt;Sendiri dihitam hari&lt;br /&gt;Petualang jatuh terkulai&lt;br /&gt;Namun semangatnya bagai matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebebas camar kau berteriak&lt;br /&gt;Setabah nelayan menembus badai&lt;br /&gt;Seiklas karang menunggu ombak&lt;br /&gt;Seperti lautan engkau bersikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sang petualang terjaga&lt;br /&gt;Ya sang petualang bergerak&lt;br /&gt;Ya sang petualang terkapar&lt;br /&gt;Ya sang petualang sendiri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatot Subroto Jakarta Selatan, waktu magrib. 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-115875386982519719?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/115875386982519719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=115875386982519719' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115875386982519719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115875386982519719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/09/frustrasi.html' title='Frustrasi'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-115157969622982173</id><published>2006-06-29T17:58:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:54:55.892+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Risalah Cinta</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/alam.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/400/alam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:150;"&gt;RISALAH CINTA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:150;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya ..Allah ... &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Saat aku menyukai seorang teman &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sehingga aku tetap bersama YANG TAK PERNAH BERAKHIR &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya ...Allah .. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ketika aku merindukan seorang kekasih &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Rindukanlah aku kepada yang rindu cinta sejati-MU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Agar kerinduanku akanMU semakin menjadi &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya ...Rabb .. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Jika aku hendak mencintai seseorang &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Temukanlah aku dengan orang yang mencintaiMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Agar bertambah kuat cintaku PADAMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya ...Rabb .. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ketika aku jatuh cinta &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Jagalah cinta itu Agar tak melebihi cintaku PADAMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Ya ... Allah .. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Waktu aku berucap aku cinta padaMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Biarlah kukatakan kepada yang cintanya tertaut padaMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan KARENAMU &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Sebagaimana orang bijak berucap : &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Mencintai seseorang bukanlah apa-apa &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dicintai seseorang adalah sesuatu &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dicintai oleh orang yang kau cintai adalah berarti &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Tapi dicintai oleh SANG PENCIPTA adalah SEGALANYA &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;Allohu Akbar ... Bismillah tawakal'na .. Laa haula walaa quwata illa billahi 'aliyil 'aziim&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: anonim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-115157969622982173?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/115157969622982173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=115157969622982173' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115157969622982173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115157969622982173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/06/risalah-cinta.html' title='Risalah Cinta'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29647131.post-115019708176053878</id><published>2006-06-13T18:09:00.000+07:00</published><updated>2008-01-10T01:53:14.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Puisi: Belatung I</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/1600/guns.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/938/3164/200/guns.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Belatung menjerit saat tubuhnya terpanggang matahari &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tubuhnya yang rapuh menggeliat-geliat dijilat perlahan demi perlahan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam keadaan yang genting ia berusaha menyelamatkan diri &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi percuma, matahari terus mengejarnya. tanpa sempat ia masuk dalam lubang persembunyian. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tubuhnya mulai terbakar. perih, pedih tak terkira. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya perlahan-lahan gerakannya mulai melambat. belatung pun mati. mati atas ketamakannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seperti yang aku saksikan sendiri ditelevisi, para belatung mulai berusaha bersembunyi. sementara matahari terus menyinarinya. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para belatung tinggal menunggu kematian.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29647131-115019708176053878?l=warungbuncit12.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/feeds/115019708176053878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29647131&amp;postID=115019708176053878' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115019708176053878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29647131/posts/default/115019708176053878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warungbuncit12.blogspot.com/2006/06/puisi-belatung-i.html' title='Puisi: Belatung I'/><author><name>gunawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03678668562750444370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Lu4L3l4LPgY/SWL9GJ0pB1I/AAAAAAAAAEM/x8EuMrpOAJ0/S220/guns2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
