Saturday, November 10, 2007

Keberaksaraan: Pustakawan Bukan Sekadar Penjaga Buku

Jakarta, kompas - Perpustakaan telah berkembang konsepnya tak lagi sekadar merupakan rak dengan jajaran buku, melainkan sebagai resources center atau sumber daya informasi. Karena itu, tenaga pustakawan juga harus semakin kompeten, bukan sekadar penjaga buku. Fuad Gani, Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), mengatakan, Senin (22/10) di Jakarta, seiring dengan disahkannya undang-undang tentang perpustakaan baru-baru ini yang bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan, pustakawan semakin dibutuhkan, terutama untuk perpustakaan publik dan sekolah.

Untuk mengembangkan kemampuan masyarakat maupun pustakawan dalam mengembangkan perpustakaan sebagai sumber daya informasi, departemen ini memiliki center for information studies. Lembaga ini merupakan bagian dari unit ventura untuk jasa pelayanan masyarakat. Pihak UI sering bekerja sama dengan berbagai lembaga lain untuk memberikan pelayanan pelatihan perpustakaan kepada masyarakat.

Dalam perkembangan dewasa ini, para pustakawan pun dibutuhkan keluarga-keluarga. Tumbuhnya minat pribadi atau keluarga menghadirkan perpustakaan di rumah membuka peluang bagi para pustakawan ini untuk melayani dan mengedukasi masyarakat guna memanfaatkan perpustakaan yang sederhana.

"Mereka yang punya perpustakaan di rumah terkadang tidak mengerti bagaimana mengelola perpustakaan yang bisa memudahkan mereka untuk memanfaatkan koleksi yang ada. Pemilik ada yang merasa butuh bantuan ahli sehingga buku-buku bisa mudah dicari saat dibutuhkan," ujar Edi Dimyati, pustakawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang sering diminta mengelola perpustakaan keluarga. Gunawan, pustakawan lainnya, mengatakan, pengelolaan perpustakaan di rumah biasanya dilakukan dengan sederhana. Koleksi buku yang ada dikategorikan sesuai subyeknya. (ELN/INE)

Sumber: Kompas/Kamis, 25 Oktober 2007

Baca Buku atau Browsing?

Di tengah-tengah kesibukannya bekerja sebagai programmer televisi berlangganan, Sandar Muchlis, 24 tahun, juga disibukkan dengan tesisnya. Setiap hari, ia terbiasa mencari bahan tugas kuliah dan tesis di internet. Meski lebih banyak menggunakannya untuk chatting (mengobrol) di layanan pesan singkat, namun sejak SMA Sandar sudah menyadari manfaat internet sebagai sumber informasi.

"Browsing di internet lebih gampang karena google mencari apa yang saya mau. Memang tidak mendalam. Makanya saya lengkapi dengan membaca buku-buku teks," kata Sandar yang juga mahasiswa pascasarjana Universitas Bina Nusantara jurusan strategic marketing.
Manfaat internet sebagai alternatif sumber informasi sangat dipahami Emi Agustia, 24 tahun, mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia jurursan Manajemen Komunikasi. Setiap membuat tugas, Emi selalu memanfaatkan internet untuk mencari bahan-bahan. "Di internet lebih up date, apalagi tentang kasus-kasus, lebih mudah cari di sana," ujar perempuan berjilbab ini.

Emi juga mengaku perpustakaan di kampusnya cukup lengkap, utamanya buku-buku teks. Hanya saja, hanay buku tertentu yang bisa dipinjam. Untuk buku terbaru, biasanya hanya bisa dibaca di perpustakaan. "Padahal kan butuh waktu untuk membacanya, apalagi kalau masih dalam Bahasa Inggris. Biar gampang, lihat saja judul dan daftar isinya, nanti dilengkapi di internet," papar Emi.

Menurut Gunawan, 28 tahun, pustakawan di Alliance Geotech, tak semua mahasiswa yang datang ke perpustakaan bertujuan membaca atau mencari bahan tugas. Sebelum di tempat sekarang, Gunawan pernah bekerja di perpustakaan Universitas Paramadina. "Karena ada beberapa komputer yang sudah online, mahasiswa datang ke perpustakaan untuk browsing atau nge-print tugas," katanya.

Umumnya, lanjut Gunawan, kebiasaan meminjam buku teks ditentukan oleh jurusan mahasiswa yang bersangkutan. Semakin banyak bersentuhan dengan teori, semakin aktif mahasiswanya meminjam buku. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan filsafat lebih aktif membaca dan meminjam buku dibanding mahasiswa jurusan komunikasi.

Menurut pengamatan Jumala, 24 tahun, pustakawan Joseph Wibowo Center (JWC) Universitas Bina Nusantara, mahasiswa S1 lebih senang membaca majalah daripada buku teks. Sedang mahasiswa S2 seringnya mengerjakan tesis, tugas, ataupun baca buku teks.
Fasilitas yang ada di JWC sebenarnya cukup nyaman, ruangannya berukuran 22x13 meter, dilengkapi sofa yang empuk, penyejuk ruangan, dan pemandangan ke arah pusat perbelanjaan. "Jumlah mahasiswa yang datang ke perpustakaan termasuk banyak. Tapi yang menimjam buku paling hanya separuhnya," ujar Jumala yang akrab disapa Lala.

Gunawan mengatakan, seharusnya bahan di buku teks dan internet bisa saling melengkapi. "Tergantung mahasiswanya melek informasi atau tidak. Mereka bisa saja mencari judul-judul buku di internet, tapi karena tak bisa ditampilkan, ya carilah diperpustakaan. Begitu juga sebaliknya." (Ika Karlina Idris)
Sumber: Jurnal Nasional/Rabu, 07 Nov 2007