Friday, September 02, 2011

Hingga Ujung Waktu











Sumber Foto: internet

Oleh: Gunawan

Hari ini, seperti biasa, dia mengingatkanku untuk segera sholat jumat, tinggalkan jual beli, dan tak lupa menyelipkan doa semoga berkah hari ini menyertaiku. Aku pun tersenyum dan membalas, semoga kau mendapatkan pahala juga hari ini, amin. tak lama ia mengingatkanku lagi "Happy 5th month anniversary sweetheart", aku terkejut, ternyata kami melangkah udah berjalan 5 bulan, masalahnya aku benar-benar lupa kapan tanggalnya, dia tertawa lalu membalas waktu ngomong pas dimotor sih tanggal 29 Maret 2011, tapi resminya pas pulang dari museum gajah, wah ternyata inget ya, balasku hehe. dia menimpali, "duh yang ngomong aja lupa...!," aku bertanya lagi, "Nah dari museum gajahnya kapan?" dia menyaut "Mas inget ngga? kapan hayo? Pasti gak inget?" aku cuma nyengir dan berucap sepatah kata "maafff..." nyengir lagi, "huffffh gak inget bukan berarti ga perhatian khan? atau emang gak perhatian?" penuh nada kecewa. aku membalas tergagap, "maaaafffinnn mas ya beneran lupa...." aku memang pria melankolis yang payah, fiuh. lalu dengan sabar ia membalas "iya deh ngga apa-apa, waktu itu kita ke museum gajahnya hari minggu 1 April 2011 sayangku...", "alhamdulilah, makasih ya sayang" aku jawab dengan senyum, "akan aku catat dalam buku harianku", diapun tersenyum... dan membalas kalo lupa tanggalnya, nanti aku ingetin, asal jangan lupa sama orangnya aja..." dengan nada mengejek. aku pun membalas "ya ngga lah sayang, masa lupa sama orangnya sih.." oh iya sebagai balasannya ada hadiah buat kamu, sebuah lagu tentang perasaanku padamu..." ucapku :)

Hingga Ujung Waktu
oleh: Sheila On 7


Serapuh kelopak sang mawar
Yang di sapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri di terpa
Dan luka oleh senja ...

Semegah sang mawar di jaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada di sini dan pekat
Pun berakhir sudah


Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan samudra
Dan tuan burung camar
Takkan henti bernyanyi

Saat aku berkhayal denganmu
Dan janjipun terukir sudah
Jika kau menjadi istriku nanti
Fahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu
Jika kau menjadi istriku nanti


Fahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pemah berhenti memilikiku

Hingga ujung ... Waktu

ps: dipersembahkan untuk kekasihku Dian Fitriana, terima kasih telah melengkapi hidupku. "Happy 5th month anniversary sweetheart"

Monday, January 10, 2011

Cerpen: Senandung Jejak Langkah Kelas Salahudin

Kemarin, sore yang cerah, pukul 16.20 saya bergegas ke arah tempat parkir, sore itu sudah sepakat dengan firman untuk kerumah ustad Ulis di daerah Pasar Rebo jakarta timur. setelah berboncengan bersama menuju pom bensin di derah simatupang sebelum Antam, seperti biasa, Firman bersenandung di atas motor saya, ah itu salah satu yang saya rindukan dari Firman, Saya kangen dengan senandungnya di atas motor saya yang biasa dilakukan kala pulang bersama dulu, dia nyanyikan lagu lagu apapun, mulai dari dangdut, pop, mengaji al quran, sampai lagu barat meski liriknya cuma sepotong-sepotong dari yang dia hapal. Setelah sampai pom bensin, tak lama, Saya tekan no Aris di ponsel "Ris udah nyampe nih, elo dimana?" dari sebelah sana Aris menjawab "gue di perempatan pertanian Gun, oke gue ksana ya". Ya, Sore itu, Hari yang dijanjikan bagi kami kelas Sallahudin, pengajian Ebic di Elnusa yang sudah berjalan 3 tahun lebih untuk berkunjung ke rumah Ustad Ulis, guru kami, guru yang tanpa pamrih mengajarkan ilmu agama, berbagi pengetahuan dan bahkan semangkuk mie bakso di sela-sela belajar.

Tak disangka, hari kemarin adalah pertemuan kami yang berbeda dari biasa, bukan untuk belajar bersama, tapi untuk melepas Ustad Ulis pergi ke Tanah Suci Mekah dalam rangka menunaikan Studinya selama setahun kedepan.

Dari pom bensin itu, 2 motor kami melaju menuju rumah Ustad Ulis. Berbekal alamat yang diberikan Pak Zuki lewat email, kami bertanya ke orang dan sesekali firman melihat GPS di Handphonenya, ”Gun belok kanan...., Gun belok kiri...Gun kita salah arah, balik lagi ke jalan yang satunya...” tibalah kami di Masjid Al-Ihsan tepat waktu magrib. ‘kita udah deket nih..., solat dulu ya..” tak lama, seusai sholat, terlihat dari teras masjid, Pak Zuki menghampiri. Salam dan senyum menyertai kehadirannya, ‘Firman lebih gemuk ya.., Aris juga, setelah keluar dari Copi kok gemuk-gemuk ya? Hahahaha’ tawa kami meledak di teras masjid.

Ternyata rumah ustad Ulis memang tidak jauh dari masjid, hanya berjarak sekitar 15 meter kami berjalan, tampak dari depan pagar saya melihat rumah yang sederhana, halaman yang luas, pohon-pohon, rumput, nyaman sekali, sangat jarang rumah seperti ini di tengah kota jakarta yang padat dan sumpek. Dan kami pun berkelakar, ‘wah kalo dijadiin kos-kosan jadi berapa pintu nih?’ celetuk Firman. ‘ini pasti yang punya orang betawi’ Pak zuki ikut menyambung. Iya benar saja, istri Ustad memang berasal dari keturunan Betawi.

Ustad Ulis sudah menunggu didepan pintu. Sambil menggendong Gaza, disambutnya kami dengan senyum dan pelukan. Satu persatu kami masuk ke ruang utama, ruang kosong yg tidak berperabot meja dan bangku, kami lesehan dengan beralas karpet. Ternyata ustad sudah menyiapkan hidangan untuk kami murid muridnya yang hadir sore itu: Pak Zuki, Firman, Saya dan Aris. Hidangan Aqua, Jeruk manis dan yang utama Mie Yamin. Tanpa menunggu waktu kami bersantap bersama. Nikmatnya.

Disela-sela itu, ustad Ulis sedikit bercerita bahwa dia akan mengambil jurusan manajemen dakwah yang akan digelutinya selama setahun ini. Dia menyarankan pesan lugasnya pada kami: “Sebaiknya pengajian diteruskan di rumah masing-masing aja ya..”. ya semoga saja amanah bisa terlaksana, amin.

Tiba-tiba pikiran saya melesat mundur. Kala saya mengikuti Rihlah Ebic pertama kali di tahun 2007, dengan peserta yg cukup banyak saat itu. Outbond, sholat berjamah, sholat tahajud dan muasabah, teman baru, semangat baru dalam balutan Keislaman. Menyenangkan sekali. Dan kami memperkukuh kelas kami dengan nama Salahudin. Hari berganti, minggu demi minggu kami lewat dengan pengetahuan keislaman dari Ustad Ulis. Kadang halangan datang bertubi tubi dalam pertemuan: rasa malas, letih karena kerja, pekerjaan yang menumpuk, atau memang karena satu diantara kami ada yang sakit, dengan tentu saja yang menjadi bumbu di kelas itu adalah ritual makan baso didepan masjid sebelum pelajaran dimulai. Saya tersenyum mengenangnya. Ya, tak terasa tiga tahun kami melewatinya, dengan segala aktivitas baik dikelas ataupun Kegiatan Rihlah 1 di Ciwidey dan Rihlah 2 di Cibubur bersama teman-teman: Pak Zuki, Firman, Arif, Aris, Ican, Irsan, Mas Rizky dan Saya. Untung saja saya sudah menyelesaikan video documentasi rihlah 1 dan 2, semoga bisa menjadi pengobat rindu bagi kami semua. Ustad bilang “Saya mau bawa Dokumentasi Video Rihlahnya, lucu melihat foto Gaza waktu minum air” ya, saya mengingat foto itu, kami semua tersenyum.

Dan Hari itu, kami serahkan hadiah untuk Ustad Ulis. Sebuah Tas ransel yang dilengkapi tempat menyimpan Laptop. Dalam hati Saya berdoa, “Semoga tasnya bermanfaat ya Ustad, semoga kami kecipratan pahala juga karena ustad sedang berjuang menuntut ilmu, semoga Allah selalu menjaga kesehatanmu, semoga Ustad dicurahkan ilmu Allah yang luas, semoga segala amal Ustad terhadap kami murid-muridmu yang bandel ini diganjar atas pahala berlimpah ruah dari Allah SWT, semoga….. semoga…..Tak sadar mata saya mulai berkaca-kaca. Terima kasih Ustad atas segala kesabaran, dedikasi, dan keikhlasannya. Semoga engkau terus dalam lindungan Allah. Amin.

beberapa hari kemudian datang surat dari Ustad pada kami..

Alhamdulillah,hari kamis 6 januari 2011 perjalanan ke jeddah lancar, di bandara jeddah dijemput ikhwah DPD PIP Jeddah. makan kebuli satu nampan berlima. Bakda jum'atan, ke kampus ma'had i'dadul aimmah waddu'aat rabithoh. Dilanjutkan ke masjidil Haram untuk umrah. shalat maghrib dan isya' di masjidil haram.

semoga kita bisa berjumpa di masjidil Haram tahun ini, di umrah Ramadhan insya Allah. Amin

Baarakallahu fiikum. Salam,


Markaz Dakwah PIP DPD Mekah

Ulis Tofa M. Ali, Lc
Direktur Maktaba Gaza
Telp.: 021-87702264 / 021-92933141 / 08129612011
e-Mail: ulistofa@gmail.com / ulistofa@yahoo.com

Alhamdulilah, Jika ada umur panjang, semoga kita bertemu lagi Ustad..




Rihlah 1, Ciwidey Bandung










Rihlah 2, Cibubur Jakarta Timur









Ustad Ulis dan Gaza

Wednesday, November 24, 2010

Renungan tentang Sandal Jepit















Kemarin malam, aku sambangi tempat kerja ulum di matraman, itu juga atas bujukan ismail yang memang selalu hadir disana setiap minggu karena kewajibannya mengurus web Gusdur.net, begitu juga kawan ain yang merayu untuk hadir juga, katanya kawan edi, reni, dan dhianti akan ikut serta. Ya, kutepati janji sore itu, meski diguyur hujan deras di simatupang.

Tidak ada yang penting dari pertemuan itu, semua hanya karena pertemanan, santai dan ringan, ada yang curhat karena putus cinta, lainnya menimpali dengan canda dan tawa. Ada yang serius mengurus calon buku ketiganya, ada yang main yoyo, ada yang mendokumentasikan setiap mimik dengan kameranya. Ada yang asik dengan laptop sendiri. Semuanya mengalir alami.

Ternyata, disana aku bertemu Mas nurul pimpinan pondok pesantren Qothrotul Falah yang pernah kami sambangi beberapa waktu yang lalu di banten. Tempat yang menyenangkan dan tuan rumah yang baik hati. Kami dilayani seperti raja. Kerinduan yang besar untuk datang lagi ke pesantren itu.

Usia Mas nurul memang belum terlalu tua untuk menjadi pimpinan pondok pesantren, tapi kepribadian dan kearifannya membentuk karakter bahwa dia memang layak menjadi pimpinan. Kesederhanaan dan keluasan ilmunya yang membuatku kagum dengannya.

Saat hendak pulang, dia sedikit bercerita soal perjalanannya dari ciputat tanpa alas kaki. Sandal jepitnya hilang Ku sapu pandanganku kearah kakinya yang telanjang, lalu membayangkan bagaimana rasanya dalam perjalanan dari ciputat ke matraman tanpa sandal jepit. Aku jadi bertanya iseng, “kok bisa? Kenapa ngga beli aja di warung?”... dia tersenyum lalu menjawab tenang, hehehe gak apa-apa.. ingin merasakan bagaimana rasanya tanpa sandal jepit. Bagaimana rasanya manusia tanpa pijakan.”

Aku terhenyak dan berpikir dalam, jawaban yang Sederhana tapi sangat berarti. Ya, sandal jepit adalah pijakan kaki, bagaimana rasanya manusia hidup tanpa pijakan? Apa yang dimaksud dengan pijakan itu? Seorang rohaniwan pasti menjawab, agama adalah pijakan hidup. Seorang fisikawan nyerocos bumilah pijakan kita.

Aku mengakui bahwa hidup adalah atas keduanya, agama dan bumi sebagai pijakan. Meski masih belajar atas keduanya, agama kupahami dan bumi kuhargai.

Jadi muncul ingatan soal hantu, kita sering diingatkan soal kalimat: kalau mau membuktikan dia hantu atau bukan, lihat kakinya menapak atau ngga? pertanyaan isengnya, bagaimana ya rasanya hantu penasaran itu hidup tanpa pijakan, menggantung antara langit dan bumi? Burung saja yang bersayap dan ditakdirkan bisa terbang tetap membutuhkan bumi sebagai rumahnya. Tetap membutuhkan tanah dan batu sebagai pijakan dan hentakan untuk terbang kembali.

Aku pahami semua ini sebagai pelajaran dan tetap berpijak pada hati.