Wednesday, November 24, 2010

Renungan tentang Sandal Jepit















Kemarin malam, aku sambangi tempat kerja ulum di matraman, itu juga atas bujukan ismail yang memang selalu hadir disana setiap minggu karena kewajibannya mengurus web Gusdur.net, begitu juga kawan ain yang merayu untuk hadir juga, katanya kawan edi, reni, dan dhianti akan ikut serta. Ya, kutepati janji sore itu, meski diguyur hujan deras di simatupang.

Tidak ada yang penting dari pertemuan itu, semua hanya karena pertemanan, santai dan ringan, ada yang curhat karena putus cinta, lainnya menimpali dengan canda dan tawa. Ada yang serius mengurus calon buku ketiganya, ada yang main yoyo, ada yang mendokumentasikan setiap mimik dengan kameranya. Ada yang asik dengan laptop sendiri. Semuanya mengalir alami.

Ternyata, disana aku bertemu Mas nurul pimpinan pondok pesantren Qothrotul Falah yang pernah kami sambangi beberapa waktu yang lalu di banten. Tempat yang menyenangkan dan tuan rumah yang baik hati. Kami dilayani seperti raja. Kerinduan yang besar untuk datang lagi ke pesantren itu.

Usia Mas nurul memang belum terlalu tua untuk menjadi pimpinan pondok pesantren, tapi kepribadian dan kearifannya membentuk karakter bahwa dia memang layak menjadi pimpinan. Kesederhanaan dan keluasan ilmunya yang membuatku kagum dengannya.

Saat hendak pulang, dia sedikit bercerita soal perjalanannya dari ciputat tanpa alas kaki. Sandal jepitnya hilang Ku sapu pandanganku kearah kakinya yang telanjang, lalu membayangkan bagaimana rasanya dalam perjalanan dari ciputat ke matraman tanpa sandal jepit. Aku jadi bertanya iseng, “kok bisa? Kenapa ngga beli aja di warung?”... dia tersenyum lalu menjawab tenang, hehehe gak apa-apa.. ingin merasakan bagaimana rasanya tanpa sandal jepit. Bagaimana rasanya manusia tanpa pijakan.”

Aku terhenyak dan berpikir dalam, jawaban yang Sederhana tapi sangat berarti. Ya, sandal jepit adalah pijakan kaki, bagaimana rasanya manusia hidup tanpa pijakan? Apa yang dimaksud dengan pijakan itu? Seorang rohaniwan pasti menjawab, agama adalah pijakan hidup. Seorang fisikawan nyerocos bumilah pijakan kita.

Aku mengakui bahwa hidup adalah atas keduanya, agama dan bumi sebagai pijakan. Meski masih belajar atas keduanya, agama kupahami dan bumi kuhargai.

Jadi muncul ingatan soal hantu, kita sering diingatkan soal kalimat: kalau mau membuktikan dia hantu atau bukan, lihat kakinya menapak atau ngga? pertanyaan isengnya, bagaimana ya rasanya hantu penasaran itu hidup tanpa pijakan, menggantung antara langit dan bumi? Burung saja yang bersayap dan ditakdirkan bisa terbang tetap membutuhkan bumi sebagai rumahnya. Tetap membutuhkan tanah dan batu sebagai pijakan dan hentakan untuk terbang kembali.

Aku pahami semua ini sebagai pelajaran dan tetap berpijak pada hati.

No comments: