Wednesday, November 29, 2006

Puisi: Rahasia














Rahasia
Oleh: gunawan

Pernahkah kau menyimpan sebuah rahasia
Rahasia dari sebuah fenomena
Baik, buruk, tercela, hina, aib ataupun gita cinta
Rahasia yang diberikan oleh siapapun
Kawan, teman, sahabat, saudara, keluarga, orang asing, bahkan musuhmu sekalipun

Mereka bilang, jangan kau beberkan rahasia ini, lalu kaupun berjanji
Kau pertahankan hari demi hari, minggu dan bulan
Waktu mengujimu seberapa kuat kau membungkam mulut
Semakin kau dekat dengan hal yang bersangkutan dengan rahasia
Semakin lidahmu gatal, batin memberontak
hati kecil berkata beberkan saja, beberkan!
Tetapi nurani mengingatkan atas janji
Mulutmu kelu, kaku, mencibir, mengamuk
Tetapi kau menahannya

Waktu terus mengujimu
Rahasia lain datang silih berganti
masuk ke dalam telingamu
bersemayam dalam pikiran

kau mulai mual
terlalu banyak rahasia
pikiranmu pusing
hingga kau merasa, “aku seperti bak sampah, tempat pembuangan rahasia!”
ingin rasanya memuntahkannya sewaktu-sewaktu

sekali lagi waktu mengujimu
hingga godaan itu datang
dan jiwamu dalam bimbang
rahasia pun tumpah
terbeberkan tanpa kesepakatan
lalu mereka bilang, kamu penipu!

Warung buncit, ramadhan 2006

Artikel Rujukan:
Menyimpan Rahasia
Pengajian Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Diantara akhlak mereka adalah menyimpan rapat rapat rahasia tanpa membukanya kepada siapa pun. Mereka mengatakan: "Hati orang-orang merdeka adalah kuburan rahasia dan jika bukan kekasih Allah (SWT) yang menutupi rahasia maka siapakah yang tetap merahasiakannya?" Yang demikian sekarang sudah menjadi hal aneh. Mungkin seorang syaikh mendengar kata-kata sekarang, lalu menceritakan kepada kebanyakan orang yang datang menemuinya, padahal bisa jadi kata-katanya itu dapat mendapatkan kerusakan.

Anda melihat orang mengatakan bahwa itu ia dengar dari salah seorang wali Allah (SWT) yang tidak patut dituduh tidak baik karena kewaliannya. Padahal yang sebenarnya ia adalah salah seorang yang fasik dengan melakukan adu domba dan merusak hubungan masyarakat. Meskipun ia tidak bermaksud demikian. Dalam hadits dikatakan: "Tidak masuk surga orang yang mengadu domba."

Mijahid mengatakan tentang Firman Allah (SWT):"Dan istrinya yang membawa kayu bakar " (al-Lahab 4).Bahwa ia berjalan mengadu domba di kalangan masyarakat. Aktsam bin shaifi berkata: "Di antara tanda-tanda orang yang senang mengadu domba adalah kehinaan di kalangan manusia dan anda tidak melihatnya mulia sama sekali." Yahya bin Abu Katsir berkata: "Orang yang suka mengadu domba lebih buruk dari pada tukang sihir dan tidak seorang pun merasakan itu. Sebab ia kadang-kadang dapat melakukan sesaat perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh tukang sihir selama satu bulan. Sebab adu domba menimbulkan pertumpahan darah, perampasan harta dan kerusuhan besar serta mengeluarkan penduduk dari negeri mereka dan kerusakan-kerusakan lainnya."

Abu Musa al-Asy"ari (ra) berkata: "Tidaklah berjalan di antara manusia kecuali seorang anak yang lacur karena menghancurkan dirinya dan saudaranya serta menghancurkan orang yang menjadi sasaran kata katanya."Hasan Basri berkata: "Barang siapa menyampaikan kata-kata kepadamu (untuk mengadu domba) maka ia pun akan mengadu domba kamu kepada orang lain dan barang siapa memujimu dengan pujian yang tidak ada padamu ia pun dapat mencelamu dengan apa yang tidak ada padamu."Ibnu Sammak berkata: "Berhati-hatilah terhadap orang yang lebih banyak diam dari pada yang banyak bicara apa yang ia dengar. Sebab orang yang banyak diam lebih banyak dipercaya oleh orang perkataannya, karena dianggap lebih jauh dari berbohong. Mungkin saja orang berbicara dengan kata-kata kepada orang yang ia percayai lalu diceritakan, maka teradilah kerusakan."

Abdullah bin Mubarak berkata: "Tidak ada orang yang dapat merahasiakan apa yang ia dengar kecuali orang yang baik keturunannya." Sebagian saudara-saudara Ibrahim bin Adham tidak mengunjunginya dalam waktu lama. Kemudian seseorang datang mengunjunginya, lalu ia menggunjing sekelompok orang di hadapannya. Ibrahim pun lalu berkata kepadanya: "Seandainya Anda tidak mengunjungi kami tentu itu adalah keuntungan bagi kami, maka betapa kiranya Anda tidak mengunjuingi kami hari ini."Mansur bin Zadzan berkata: "Demi Allah (SWT), sesungguhnya aku dalam perjuangan keras dengan semua yang bergaul denganku hingga berpisah denganku. Hampir hampir mereka tidak pernah lepas dari perbuatan yang membuat temanku membenciku atau menyampaikan ghibah orang yang berbuat ghibah terhadapku, lalu ini membuatku masuk ke dalam bencana." Syidad bin Hakim berkata: "Apabila kamu melihat kebaikan-kebaikan saudaramu lebih banyak dari pada keburukan keburukannya, maka ingatlah dia dengan kebaikan-kebaikan dan lupakan keburukan keburukannya." Ia juga berkata: "Barang siapa tidak suka karena perkataan orang dan suka karena kata-kata orang maka ia menjadi orang yang menyesal atas apa yang ia lakukan sebab ia sedikit melakukan pelurusan atau pencelaan dengan benar, melainkan ia lakukan itu karena fanatisme (ashabiyyah) dan hawa nafsu."

Khalid bin Shafwan berkata: "Kecamlah orang yang suka mengadu domba meskipun ia benar karena adu domba adalah cerita dan menerima adu domba berarti membolehkan. Maka menerima adu domba itu menjadi lebih buruk dari pada menceritakan keburukan."Pahamilah yang demikian, saudaraku, dan janganlah menyebarluaskan rahasia saudaramu dan orang lain di zaman ini. Jangan mengatakan aku tidak bermaksud demikian sebab kamu hidup di paruh kedua abad sepuluh yang penuh dengan kekacauan dan keanehan.
Tidak Was-wasDiantara akhlak mereka adalah tidak ragu ragu pada wudhu, shalat, bacaan dan ibadah ibadah lainnya disertai dengan wara' yang separipurna mungkin. Sebab timbulnya pangkal was was adalah dari kegelapan hati. Kegelapan hati berasal dari kegelapan amal. Kegelapan amal berasal dari makanan yang haram dan syubhat. Barang siapa mengendalikan diri dan makanan yang haram maka iblis tidak menemukan jalan padanya. Seseorang yang pernah makan makanan orang-orang zalim, pedagang yang curang, hakim yang tidak adil dan orang fasik lainnya, lalu dia ingin hadir bersama Allah dan kkusyu' dalam beribadah serta ingin mengetahui apa yang mereka tinggalkan, tetapi tidak bisa, yang akhimya hanya mendapat lelah, melompat ke udara saat berniat dalam shalat, seolah ia menangkap sesuatu yang lepas dari tangannya.

Anda lihat ketika bertakbir mengucap: "ak, ak, ak, bar bar bar. Apabila hendak membaca yang keluar dari mulut adalah: bis, bis, bis. Apabila hendak bertasyahud mengucap: at, at, at, ahiyat. Apabila salam mengucap: as, as, as dan begitu seterusnya sebagaimana yang sering ditemukan. Sebagian ulama telah memberi fatwa batal shalat karena demikian. Dengan mengatakan bahwa itu bukanlah al-Qur'an dan bukan pula dzikir, melainkan kata kata asing dan manusia yang diucapkan oleh pelakunya secara sengaja bukan karena lupa.

Sayyidi Ali al-Khawwash berkata: "Orang-orang yang was-was seperti itu lebih patut disebut ahli bid'ah bukan ulama. Sebab di antara mereka bisa jadi menganggap batal shalat para sahabat nabi dan generasi tabi'in serta para imam mujtahid. Jika anda mengatakan kepada salah seorang di antara orang orang ini agar berwudhu seperti wudhu Rasulullah (SAW), atau wudhu para sahabat beliau, bisa jadi ia tidak mau menerima itu dan tidak pula meyakini kebenarannya. Kita mohon kepada Allah (SWT) keselamatan dan ini adalah kesesatan yang nyata. Kaml telah mengetengahkan pembicaraan seputar masalah ini dalam. kitab kami al-Minan al-Kubra, bab lima belas.
---(ooo)---
Sumber: sufinews.com

Puisi: Kosong


















Kosong
Oleh: Gunawan

Ku reguk kembali kenikmatan hampa
Kembali aku terbius dalam lingkaran setan
Hasratku terus bergelora pada ilusi
Tanganku mencengkram pada sesuatu yang hina
Pada puncak kehampaan aku terkulai
Mencoba menggapai mimpi

Kosong otakku, kosong jiwaku
Ingatanku hilang, masalahku kabur
Ilusi menjadi pelarian
Dari jawaban hidup yang suram

Tak lama berselang dari mimpi itu
Ingatanku muncul, masalahku mulai menajam
Aku takut,
Dan kembali aku terkulai

Jakarta, 5 Juni 2002
03.55

Monday, November 13, 2006

Reaksi Kimia

















Slank - Reaksi
Reaksi kimia didalam darahku ...
Terasa mengalir deras ..
Desah2 nafas..semakin memburu
Menuju kenikmatan ..
Sekujur tubuhku ..Bermandikan peluh ..
Menahan gelombang ...
Bayang2 tubuh ... membawa hasratku ..
Hanya naluri yang bicara ..


Aku ..ingin bercinta ...
Ingin sekali bercinta
Aku ingin bercinta..
Lepaskan semua tegangan...!!!

Pemandangan indah .. menari dimata ...
Harus mencoba .. tuk menggoda
Bagai gunung api .. yang ingin meletus..
Memuntahkan lahar yang panas ...!!


Butuh pelepasan...
Ingin lampiaskan ..

--------------------------------------------------------------------------------
"Bongki,Njet, kk
Di Potlot, depan Pulau Biru Ofice
Akhir ...pagi-pagi abis gerimis"

sumber: iloveblue.com

Monday, November 06, 2006

Puisi: Asa!


Asa!
Oleh: Gunawan

Cinta
Curilah aku dari diriku
Sembunyikan aku dalam hatimu
Ketika kegelisahan jiwa menghantui hari-hari
Dan kekosongan hati tak berarti

Angin malam menemani waktu yang tak bertepi
Dari kegundahan yang tumbuh subur
Aku hampir kehilangan asa
Dia seperti menjauh dan lepas
Lilin pribadi yang sudah hampir habis

Orang-orang seperti bingung
Gelisah menyelimuti matanya
Kakinya tak pernah diam
Bergerak tak menentu

Pikiranku meracau kemana-mana
Kata-kata seperti mengalir terus dalam kepala
Menari-nari ia mengejekku
Memaknai tanda demi tanda
Aku tidak bisa menghentikan kata-kata
Otakku tegang mengejar mencoba tuk menangkapnya

Gelisah jiwa, gelisah badan
Gelisah batin, gelisah pikir
Gelisah tidur, Gelisah hati…..
Aku takut
hidup di negeri yang gelisah
Apakah aku mampu melewati ini semua
Adakah orang tidak gelisah???

Aku tidak ingin mati dalam kegelisahan
Yang dikubur oleh tanah-tanah sengketa para serigala

Cinta, aku ingin siram kegelisahanku olehmu
Oleh air yang mengalir dari bunga-bunga kebaikan, kejujuran, dan perhatian
Aku hanya ingin bunga yang sederhana
Namun wanginya semerbak mengisi jagad raya
Membuat iri para pujangga, ksatria sunyi, dan malaikat
Yang dikasihi oleh-Nya

Ya….aku akan mengejar legenda pribadiku
Melalui bahasa buana dan pertanda
Aku akan dapatkan bunga sederhanaku
Karena kamu masih ingat aku……

Jakarta, 10 Desember 2003

Wednesday, November 01, 2006

Puisi: Belatung II














Belatung II
Oleh: Gunawan
Belatung menggeliat-geliat menjalar
Melubangi tubuh-tubuh bisu menjadi lahar
Berjejal berebut makanan
Dengan perut gendut penuh serakah
Manusia seperti belatung
Penuh serakah mencari untung
Bergerak dan terus bergerak menggeliat-geliat
Tanpa bisa diam dalam keheningan
Sang hawa terus menyisir mahkotanya Berlenggok-lenggok tak menentu
Bergerak ke kiri dan kanan seperti gelisah
Sang adam tertawa serakah tanpa mengerti apa yang ditertawakan
Mereka berlomba menggali lubang kenikmatan
Para iblis menjalar dalam darah
Merasuk menutup nadi-nadi kemanusiaan
Manusia telah menjadi belatung
Belatung menyatu pada jiwa manusia
Bumi telah terkoyak, merintih dan terluka Dihisap sari-sarinya, dihujam tanah gemburnya
Oleh paku-paku pencakar langit Kasihan ia, beban hidupnya semakin berat Manusia dan belatung semakin berjejal bertumbuk kenikmatan
Lalu, Apakah mereka beragama???
Agama sudah hilang kenikmatannya
Mereka tinggalkan tulang belulangnya begitu saja
Agama hanya jadi dongeng tidur bagi anak-anak yang tak mampu beli mainannya
Di kampung-kampung, di gunung-gunung, di pesisir pantai dan kolong jembatan kota besar itu Hei, siapa kamu berani berkata begitu??? Aku??? Aku hanya belatung yang kini merindukan nilai-nilai kemanusiaan yang pernah ada.
Jakarta, 5 Juni 2002, 03.35 am

Kenangan kecil tentang Lord Bodden Powell

Kali ini aku meneruskan perjalanan. Aku merasa berbagai tempat sudah kudatangi. Demi mereguk kesenangan semu. Mengikat emosi. Mengelola energi dan gairah hidup. Dalam sebuah pulau bisa saja terdapat banyak keindahan yang bisa kudatangi. Setelah kuingat-ingat aku sudah banyak bertualang. Meski tidak begitu jauh. Pikiranku pun mengembara ke masa lalu. Mengingat tentang Lord Bodden Powell. Waktu kecil aku terlibat dalam perkemahan pramuka yang dikenal dengan persami (perkemahan sabtu minggu). Sangat menyenangkan, berbagai perlengkapan kami bawa sebagai bekal. Bahkan kawanku membawa kompor minyak ibunya. Ukurannya terlalu besar. Hingga dia begitu tergopoh-gopoh saat membawa. Aku pun jadi tergelak lucu. Tidak apa, ini demi cara survival kami. Lagi pula banyak kelompok lain yang membawa kompor minyak. Jadi tidak aneh bukan! Kami pun berangkat dengan bus yang disediakan sekolah kami. Suasana begitu gembira memenuhi rongga perasaan. Senyum dan tawa selalu mengembang diantara kami. Ini pengalaman pertama kami meninggalkan rumah. Tidak diawasi ibu atau dipelototi bapak atas segala tingkah. Perasaan yang bebas seperti burung. Meskipun tetap juga dalam pengawasan sang kakak Pembina pramuka sebagai pengganti mata orang tua kami.

Aku ingat betul saat itu tenda kelompok kami berada diposisi tengah tenda lain tepat membelakangi pohon bambu yang lebat. Lucunya, ternyata tenda kami bersebelahan dengan sarang kodok. Kodoknya tampak besar-besar dan menjijikan. Aku takut berada dekat dengannya. Mitos yang aku percaya saat itu, "Kalau matamu dikencingi kodok, matamu bisa buta!". Sungguh mengerikan membayangkannya. Betul atau tidaknya aku tidak tahu. Tapi aku percaya saja dengan mitos tersebut bahkan hingga sekarang. Saat malam, kodok-kodok itu bernyanyi saut menyaut membuat paduan suara seriosa yang menyakitkan telinga. Bahkan dengkur tidur temanku pun kalah oleh suaranya. Nyatanya, kami malah dibuat tidak bisa tidur lantaran suara kodok tersebut. Ditambah dengan udara yang panas dalam tenda serta bau badan si udin kubil--salah satu temanku yang seperti ayam lantaran jarang mandi. Lengkap sudah penderitaan kami sebagai seorang pramuka pemula. Sepanjang malam kami cuma cekikikan mentertawakan si udin kubil yang bau ayam itu. Ditengah cekikikan itu tiba-tiba bau busuk menyengat hidung. Ternyata diantara kami ada yang buang gas. Wuah, keadaan semakin rusuh malam itu.

Matahari mulai menyebulkan kepalanya, sinarnya hangat jatuh ditenda kami. Prosesi kegiatan sebagai pramuka cilik segera dimulai. Kamipun berkemas, bersiap menghadapi tantangan. Prosesi awal dimulai dengan ritual upacara. Diantara peserta pramuka yang melibatkan banyak sekolah dengan gugus depannya masing-masing. Ternyata hanya sekolahku saja yang malas berkegiatan. Hal ini terlihat dari lambang-lambang kecil yang tersemat dibaju mereka. Baju mereka hampir penuh dengan lambang-lambang keaktifan. Sementara baju pramuka kami hanya tampak lambang pramuka di lengan kanan dan baret siaga di lengan kiri. Sisanya tampak kosong. Huh, dasar pemalas. Sementara temanku hanya cekikikan saja dibelakang baris melihat keadaan ini. Dan singkat cerita kegiatan mencari jejak pun dimulai. Sebuah kegiatan pembuktian sebagai pramuka sejati. Hasil sebuah wejangan dari Lord Boden Powell sebagai bapak pramuka dunia. dan nyatanya pengetahuan kami soal mencari jejak memang seadanya. Jangankan menghapal sandi morse atau sandi semapur. Dasa darma pramuka saja tidak hafal. Hahaha temanku kembali cekikikan dengan keadaan ini. Tapi aku menyukai kegiatan ini. Berjalan menapaki jalan kecil sambil melihat tanda-tanda rahasia sebagai sandi. Melewati rawa berlumpur. Memecahkan kode-kode misteri pada setiap pos. dan sialnya lagi, kami tersasar kerumah penduduk yang memang bukan jalurnya. Temanku lagi-lagi cekikikan melihat keadaan ini. Hmmm, pengalaman yang menyenangkan.

Warung Buncit, Ramadhan 2006